Akhyar: Sastra Ruh Pembangunan

dibaca 297 pembaca

Akhyar: Sastra Ruh Pembangunan

Kesenian, termasuk sastra, merupakah ruh pembangunan. Produk kesenian ini juga faktor penting dalam membangun karakter dan peradaban bangsa. Demikian disampaikan Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Medan, Ir. H. Akhyar Nasution, M. Si., saat menghadiri acara Omong-Omong Sastra sekaligus peluncuran buku kumpulan puisi “Sajak Ulat Bulu” karya Suyadi San di Sanggar Generasi Jalan Garu II B Gang Mushollah, Kelurahan Harjosari I, Kecamatan Medan Amplas, (27/12).

“Selain ikut membangun karakter dan peradaban, karya sastra juga membuat dunia ini penuh warna, membuat kehidupan tidak hampa,” ungkap Akhyar di hadapan para sastrawan yang menghadiri kegiatan budaya itu, antara lain Shafwan Hadi Umri, Ys. Rat, Dr. Rosliani, Porman Wilson Manalu, Titan Sadewo, dan Dimar.

Akhyar berharap, para sastrawan terus bergerak memberi warna bagi kehidupan. Selain mengandung refleksi dan kontemplasi, karya sastra juga dapat menjadi inspirasi dan daya progesif yang dalam membangun peradaban bangsa ini.

Pada saat itu, Akhyar juga mengakui terinspirasi dengan salah satu larik puisi Chairil Anwar yang berjudul “Diponegoro” yang berbunyi: sekali berarti, sudah itu mati.

”Saya menafsirkan larik itu bahwa setiap manusia harus berarti sebelum maut menjemput. Kita harus berarti dalam bidang kita masing-masing. Jangan sia-siakan kehidupan ini. Alangkah sakitnya jika kita mati tanpa berarti," ungkap Akhyar.

Akhyar juga mengimbau agar generasi muda di Medan bangga atas kota ini. Salah satu wujud kebanggaan itu adalah tetap menggunakan dialek Medan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dialek Medan ini harus terus dipertahankan. Jangan sampai tergerus akibat perasaan inferior melihat dialek daerah lain,” pesannya.

Peluncuran buku kumpulan puisi “Sajak Ulat Bulu” diwarnai dengan pertunjukan visualisasi puisi juga penyerahan buku oleh penyair Suyadi San kepada Plt Wali Kota Medan dan beberapa penyair yang menghadiri kegiatan itu. Selain itu, tampil sastrawan Ys. Rat dan Dr. Rosliani sebagai pemantik diskusi tentang buku kumpulan puisi yang baru diluncurkan tersebut.




Sumber : Dinas Kominfo Kota Medan