Akhyar Buka Seminar “Bahasa dan Sepeda Bangsa”

dibaca 185 pembaca

Akhyar Buka Seminar “Bahasa dan Sepeda Bangsa”

Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Medan, Ir. H. Akhyar Nasution, M.Si,, mengatakan masyarakat Medan harus terus mengembangkan kebanggaan terhadap kota ini, termasuk bangga menggunakan bahasa Indonesia berlogat Medan. Hal ini disampaikannya saat membuka Seminar Nasional “Bahasa dan Sepeda Bangsa” yang digelar Balai Bahasa Sumatra Utara, Kamis (20/2) di Hotel LePolonia.

“Kita harus bangga dengan Medan. Hilangkan rasa inferioritas. Banggalah menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek Medan,” ucapnya dalam seminar yang dihadiri Wakil Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Prof. Dr. Haryono, Kepala Balai Bahasa Sumut, Dr. Maryanto, para peneliti, serta budayawan itu. Akhyar mengatakan, bahasa juga menguatkan identitas yang merupakan faktor penting dalam mencapai kemajuan. Identitas dan kebanggaan pada daerah ini akan menjadi spirit dalam meraih prestasi gemilang. Sebelumnya, Kepala Balai Bahasa Sumut, Dr. Maryanto, Kepala BBSU Dr. Maryanto, M.Hum, Seminar Nasional "Bahasa dan Sepeda Bangsa" ini bertemakan "Dari Barus ke Barus: Pemusatan Kebudayaan Melayu di Provinsi Sumatra Utara untuk Menangkal Gelombang Tsunami Kebahasaan".

Selain itu, seminar ini untuk menyuarakan pembentukan Pemusatan Kebudayaan Melayu di Provinsi Sumatra Utara, juga mengusulkan Sanoesi Pane menjadi Pahlawan Nasional dan mengembangkan Balai Bahasa Sumatra Utara menjadi Balai Besar Bahasa Sumatra Utara. Maryanto mengatakan, bahasa Melayu Sumatra Utara merupakan cikal-bakal bahasa Indonesia, bukan Riau. Itu, ditambah lagi tokoh pencetus dan pejuang bahasa Indonesia pada Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda adalah orang Sumatra Utara, yaitu Sanoesi Pane, selain Moh. Tabrani dari Jawa Timur. Menurut Pak Mar, Pemusatan Kebudayaan Melayu yang sudah masuk Prolegnas di Bappenas sudah sangat layak dibentuk di Provinsi Sumatra Utara, bukan provinsi lain.

Gurindam 12 Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, yang sering dijadikan rujukan untuk menyebut cikal-bakal bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau, justru merupakan data termuda ketimbang karya-karya agung Hamzah Fansuri di Barus. Teeuw dan Abdul Hadi WM menyatakan, Hamzah Fansuri merupakan Bapak Puisi Modern di Indonesia yang menggunakan bahasa Melayu. Fansuri muncul pada abad XVII, sedangkan Raja Ali Haji abad XIX. Rujukan lain yang memperkuat data bahwa Melayu Sumatra Utara merupakan induk bahasa Indonesia adalah munculnya ejaan Van Ophuijsen (1901). Hasil pembakuan ejaan bahasa Melayu yang dikenal dengan Ejaan Van Ophuijsen ditulis dalam sebuah buku berjudul "Kitab Logat Melajoe". Dalam kitab itu dimuat sistem ejaan Latin untuk bahasa Melayu di Indonesia.

Setelah menerbitkan "Kitab Logat Melajoe", van Ophuijsen kemudian menerbitkan "Maleische Spraakkunst" (1910). Buku ini kemudian diterjemahkan oleh T.W. Kamil dengan judul "Tata Bahasa Melayu" dan menjadi panduan bagi pemakai bahasa Melayu di Indonesia.

 

 

 

Sumber : Dinas Kominfo Kota Medan