KENTONG TUA DARI TANDEM HULU

dibaca 132 pembaca

KENTONG TUA DARI TANDEM HULU

Diceritakan kembali oleh:

Nasib TS

 

Ada cerita menarik dari kebun Tandem Hulu. Tak ada yang berani menggeser posisi sebuah kentong tua dari tempatnya. Sejak puluhan tahun lalu diturunkan dari gantungan karena diganti dengan yang baru, benda tradisional  itu masih tergeletak di lantai rumah kentong.

Sampai saat ini pertanyaan itu masih menyelimuti warga, khususnya mantan karyawan kebun PTPN IX yang sekarang berubah menjadi PTPN 2 Tandem Hulu. Kisah kentong tua masih mengundang rasa penasaran.   Meski demikian, tak banyak karyawan yang mengetahui cerita di balik kentong tua itu. Apalagi karyawan yang baru.

Sebagaimana dimaklumi, kentong merupakan salah satu alat perlengkapan penting di kantor perkebunan sebagai alat pemandu jadwal kerja para karyawan. Biasanya, hansip akan memukul kentong pada jam-jam tertentu sebagai isyarat aktivitas  rutin karyawan perkebunan sejak pagi hingga petang.

Ada tujuh kali sehari kentong dipukul hansip perkebunan. Bunyi kentong pertama menjelang subuh, bertujuan membangunkan karyawan. Setelah kentong pertama, karyawan diharapkan bersiap-siap dulu sebelum terjun ke kebun.

Bunyi kentong kedua pada pukul 06.30, waktunya karyawan turun ke kebun.  Kentong ketiga pukul 09.00, saatnya karyawan sarapan. Kentong keempat pukul 10.00, waktunya karyawan kembali bekerja. Kentong kelima pukul 12.00 saatnya istirahat. Kentung keenam pukul 14.00 saat kembali bekerja. Kentong ketujuh pukul 16.00, saatnya karyawan pulang kerja.

Kini bunyi kentong dari kantor administrasi kebun lenyap sejak aktivitas perkebunan mulai sepi.

***

Kembali ke cerita kentong tua di kebun Tandem Hulu. Suatu hari, pihak administrateur perkebunan ingin mengganti kentong yang lama memang sudah uzur, diduga buatan zaman Belanda, Singkat cerita, seorang ahli pembuat kentong diminta membuat kentong yang baru dari kayu nangka terbaik. Setelah pesanan selesai, saatnya untuk menurunkan kentong lama yang akan dipensiunkan. Posisinya digantikan kentong yang baru.

Sore hari, beberapa karyawan membantu menurunkan kentong tua dari tiang gantungan samping gudang. Setelah diturunkan kentong diletakkan di tanah sebelum dimuseumkan di gudang. Kentong yang baru pun diangkat dan digantung menggantikan tugas kentong yang lama. Karena hari sudah senja, para karyawan pulang  sebelum sempat memindahkan kentong tua digudang. Mereka meninggalkan kentong bersejarah itu begitu saja.

Keesokan paginya, para karyawan bermaksud memindahkan kentong tua itu ke gudang. Namun saat mau diangkat, ternyata kentong terasa berat dan sedikitpun tidak bisa bergeser dari tempatnya. Seakan-akan, kentong enggan dipindahkan. Peristiwa ini sangat mengejutkan para karyawan. Mereka merasa heran, kentong yang seharusnya mudah diangkat terasa berat dan tak sanggup mengangkatnya. Akhirnya mereka pasrah dan membiarkan kentong tua itu tergeletak di tanah, di bawah kentong yang baru.

Keanehan lain, terjadi pada keesokan hari. Saat karyawan sedang asyik bekerja, dikejutkan bunyi suara kentong. Mereka bertanya-tanya karena bunyi kentong tidak pada semestinya. Warga bertanya-tanya, ada isyarat apakah gerangan, kentong berbunyi pada waktu tak lazim. Pasalnya, secara tradisi kentong tidak dibunyikan sembarangan. Selain dibunyikan untuk penanda jadwal aktivitas pekerja, kentong dibunyikan pada isyarat darurat. Misalnya, ada musibah kemalangan, bencana alam atau ancaman bahaya keamanan.

Hasil penyelidikan tentang bunyi kentong misterius itu, tak ada yang mengakui siapa yang membunyikan kentong. Hal ini dikuatkan oleh petugas hansip yang mengawasi dan biasa ditugaskan memukul kentong, tidak merasa memukul kentong. Setelah melakukan serangkaian ritual, diketahui suara kentong misterius itu diyakini bersumber dari kentong yang lama.

Kesimpulan karyawan waktu itu, kentong yang lama tidak ingin digantikan kentong yang baru. Karena itu tak ada yang berani menggeser letak kentong tua itu di sana sampai sekarang. Sampai saat ini kentong tua masih mendampingi kentong yang baru.

Seiring waktu, cerita kentong tua memang tidak menjadi isu menarik lagi bagi warga. Sebagian mereka bahkan tidak mengetahui cerita itu dan menganggap hal itu sebagai cerita tahayul alias “entah iya, entah tak betul”.

Terlepas dari kebenarannya, moral dari cerita ini adalah janganlah pernah melupakan peran kentong sebagai alat komunikasi tradisional kita. Meski hanya seonggok kayu yang dilubangi, dalam sejarah kentong merupakan bagian kearifan lokal dalam tatanan kehidupan sosial. Di masyarakat zaman dulu kentong dipakai sebagai sarana komunikasi sosial untuk menyatukan warga dalam berbagai kegiatan sosial, mulai dari pemendu kegiatan gotong royong maupun suasana berkabung. Di lingkungan perkebunan, kentong sebagai pemandu kedisiplinan kerja dalam menjaga efisiensi waktu untuk meningkatkan produktivitas kerja.

Kisah kentong tua seakan ingin mengingatkan eksistensi dan peran  pentingnya di masa lampau, yang kini cenderung terlupakan oleh perkembangan zaman. *)