GURU PATIMPUS VERSUS DATUK KOTA BANGUN

dibaca 1011 pembaca

GURU PATIMPUS VERSUS DATUK KOTA BANGUN

Diceritakan kembali oleh:

Nasib TS

 

Petualangan Guru Patimpus dari Tanah Karo membangun Kampung Medan meninggalkan banyak kisah. Salah satunya kisah pertemuannya dengan Datuk Kota Bangun untuk berguru.

***

Kabar kesaktian Datuk Kota Bangun sampai ke telinga Guru Patimpus. Ia sangat benasaran dan ingin bertemu dengan tokoh yang amat dihormati rakyat dan disegani lawan maupun kawan. Guru Patimpus yang gemar mendalami ilmu kebatinan dan ilmu kanuragan ini berniat ingin menimba pengalaman dengan Datuk Kota Bangun.

Cita-citanya itu segera ia realisasikan. Suatu hari bersama tujuh orang pengikutnya, berangkatlah Guru Patimpus dari Aji Jahe menuju Kota Bangun. Zaman dulu transportasi tidak secanggih sekarang. Perjalanan dari dataran tinggi Karo menuju Kota Bangun memakan waktu berbulan-bulan karena menembus hutan lebat dan menaklukkan medan ganas.

***

Datuk Kota Bangun seorang ulama besar yang cukup disegani. Dia bermukim di hilir Sungai Lau Patani Deli (Sungai Deli). Bukan ulama biasa, Datuk Kota Bangun juga kesohor karena memiliki ilmu gaib yang tinggi.

Bagi Guru Patimpus dan pengikutnya tidak mudah menemui Datuk Kota Bangun. Ada serangkaian proses yang dilalui. Guru Patimpus rela berkelana dari tempat satu ke tempat lainnya. Dikisahkan, Guru Patimpus sempat membangun tempat tinggal di tepi Sungai Sikambing. Setelah tiga bulan menetap di sana mempelajari situasi, Guru Patimpus baru memantabkan niatnya pergi menemui Datuk Kota Bangun untuk berkenalan.

Pertemuan dengan tokoh penting yang diidam-idamkan Guru Patimpus pun tiba. Pada sebuah siang, Datuk Kota Bangun menerima Guru Patimopus dan rombongan di kediamannya. Mereka berkenalan.

“Hamba Guru Patimpus dari Aji Jahe. Sengaja datang dari jauh ingin berkenalan dengan Anda yang namanya amat kesohor. Saya sudah lama mendengar nama besar Datuk Kota Bangun. Orang-orang mengatakan, Tuan mengajarkan agama Islam,” kata Guru Patimpus mengawali percakapan.

“Benar sekali. Saya mengajarkan kepercayaan tentang keesaan tuhan, di mana manusia, hewan, tumbuhan dan jagad raya ini diciptakan Allah yang Maha Esa. Ajaran ini sudah ribuan tahun disampaikan para nabi dan terakhir disempurnakan oleh Rasulullah Muhammad SAW,”jawab Datuk Kota Bangun.

Diskusi pun kian berkembang dan menajam.

“Apakah dalam ajaran keyakinan Tuan, ada ilmu keajaiban seperti yang saya  miliki?”

“Bila Allah berkehendak, semua kekuatan di dunia ini bisa terjadi”.

“Saya dengar dari orang-orang Datuk punya kekuatan. Saya kurang percaya kata orang sampai saya melihatnya dengan mata kepala sendiri”.

Setelah mengatakan itu Guru Patimpus kemudian pamer kekuatannya pada Datuk Kota Bangun. Dia kemudian memperagakan ilmu kanuragan yang dimiliki. Patimpus menggunakan tikar yang diduduki untuk terbang. Adegan itu membuat hadirin yang melihatnya takjub.

Datuk Kota Bangun memuji tamunya dan menyatakan dirinya ikut merasa takjub.   “Ya saya merasa takjub terhadap ilmu yang Tuan Guru miliki. Sebelum kita lanjutkan, saya mengajak Tuan Guru Patimpus dan rombongan minum air kelapa muda dulu. Tuan-tuan pasti haus setelah menempuh perjalanan jauh,” kata Datuk Kota Bangun.

“Usul yang baik, Datuk” jawab Patimpus.

Tidak membuang waktu, Datuk Kota Bangun meminta anak buahnya memanjat pohon kelapa dan menurunkan 20 butir kelapa muda.

Dalam sekejab, keduapuluh butir kelapa ludes diminum oleh Guru Patimpus dan tamunya.

“Cuaca memang terik sekali, tolong petik 20 butir lagi” pinta Datuk Kota Bangun pada muridnya.

Duapuluh butir kelapa kembali diturunkan, dan mempersilahkan Guru Patimpus dan rombongan kembali meminumnya. Perut mereka kekenyangan oleh air kelapa muda dan mengatakan sudah cukup, jangan ditambah lagi.

Namun Datuk Kota Bangun masih meminta anak buahnya untuk kembali memanjat pohon dan memetik 30 butir kelapa lagi. Saat itu Datuk Kota Bangun menunjukkan kemampuannya seperti diminta Guru Patimpus. Ketigapuluh butir kelapa ludes dilahap oleh Datuk Kota Bangun sendirian disaat Guru Patimpus dan rombongan menyerah.

Saat itulah Guru Patimpus dan rombongan mengakui kehebatan Datuk Kota Bangun yang tidak tertandingi. “Sebagai permulaan itu sangat luar biasa. Sudah cukup, saya percaya kehebatan Datuk. Saya sadar, apa yang saya miliki belum ada apa apanya,” kata Guru Patimpus.

Guru Patimpus menundukkan kepala lalu mencium tangan Datuk Kota Bangun.

“Saya menyadari kekuatan Allah tidak terbatas, kekuatan manusia terbatas. Kami dengan tulus ikhlas ingin memeluk keyakinan yang Datuk ajarkan, apakah Datuk bersedia menjadi guru kami semua?” tanya Guru Patimpus.

Diriwayatkan, Datuk Kota Bangun kemudian mensyahadatkan Guru Patimpus dan tujuh pengikutnya. Sejak saat itu mereka resmi menjadi murid Datuk Kota Bangun. Guru Patimpus salah seorang murid Datuk Kota Bangun yang rajin belajar dan tekun beribadah. (*)