TOMBAK PUSAKA DATU DALU

dibaca 92 pembaca

TOMBAK PUSAKA DATU DALU

(Legenda Danau Losung dan Danau Sipinggan)

 

Diceritakan kembali oleh:

Nasib TS

 

Pada sebuah pagi. Cuaca Desa Silahan, Lintong Ni Huta, Tapanuli Utara amat cerah. Air sungai mengalir bening melintasi sawah dan ladang yang terbentang luas.  Burung-burung berkicau melengkapi simponi alam untuk menggambarkan betapa kampung itu,  setiap pagi menyamput nuansa tentram dan damai.

Hubungan sesama warga masih terikat dengan tatakehidupan adat yang melekat. Meraka senantiasa hidup rukun dan damai dengan menjunjung sikap kekerabatan yang kuat. Akhir-akhir ini penduduk kampung Silahan resah oleh gangguan babi liar merusak tanaman pertanian. Salah seorang warga bernama Datu Dalu belum juga berangkat ke ladang ketika warga lain sudah mulai turun ke sawah.

Datu Dalu memandangi tombak pusaka warisan orangtua yang terpajang di dinding. Ia ambil tombak itu kemudian di elus-elus tangkainya yang panjang. Lelaki itu mulai membersihkan mata tombak yang tajam berkilau dengan kain.

Tombak itu merupakan tombak pusaka warisan dari orangtuanya yang telah meninggal. Sesuai adat, bila orangtuanya meninggal maka benda pusaka jatuh pada anak tertua. Datu Dalu merupakan anak tertua dari dua bersaudara. Adik kandungnya bernama Sangmaima tinggal di rumah terpisah. Kedua bersaudara itu sama-sama berprofesi sebagai petani. Ketika serangan hama babi melanda lahan pertanian warga seperti sekarang, maka tombak pusaka selalu jadi andalan.

Tiba-tiba terdengar pintu diketuk orang. Datu Dalu membuka pintu. Ternyata yang datang adalah adik kandungnya Sangmaima.

“Silahkan masuk adinda. Ada keperluan apa gerangan pagi-pagi sudah sampai ke rumahku. Apakah engkau tidak ke ladang?” tanya Datu Dalu pada adiknya.

“Nah karena itulah saya datang ke mari. Ladangku diserang babi, tanaman ludes dibuatnya. Saya bermaksud meminjam tombak pusaka untuk berburu babi hari ini,” kata Sangmaima mengutarakan maksud kedatangannya.

“Boleh saja kau pinjam tombak pusaka ini asal engkau bisa menjaganya baik-baik. Tombak ini tombak pusaka warisan orangtua yang harus kita jaga,” ujar Datu Dalu.

Setelah meminjam tombak pusaka, Sangmaima berangkat ke ladang untuk berburu babi hutan. Saat tiba di ladang ia melihat seekor babi hutan merusak tanaman. Tanpa membuang waktu, Sangmaima melemparkan tombak kea rah babi dan mengena tepat di lambung hewan itu. Namun dalam kondisi lambung berdarah, babi hutan itu sempat berlari menuju hutan. Sangmaima mengejarnya mengikuti jejak darah yang tercecer.

Sangmaima baru sadar, rupanya mata tombak yang dilemparkan terlepas dari gagangnya dan masih menancap di perut babi hutan. Mata tombak itu ikut terbawa babi hutan yang lari ke semak-semak. Meski babi yang membawa mata tombak sudah dicari, namun  tidak ditemukan.

Sangmaima kemudian pulang dan melaporkan kejadian itu pada abangnya, Datu Dalu.

“Maafkan aku abangda. Babi hutan membawa lari mata tombak kita yang masih menancap di perutnya,” lapor Sangmaima.

Mendengar laporan adiknya, Datu Dalu marah besar. “Kamu harus mencarinya sampai dapat. Itu tombak pusaka yang harus dijaga. Sekarang juga kamu pergi mencarinya dan jangan kembaliu sebalum mata tombak pusaka ditemukan,” kata Datu Dolu tegas.

“Baik bang, maafkan saya. Hari ini juga akan saya cari mata tombak pusaka hingga saya mendapatkannya kembali”.

“Cepet pergi, sekarang. Aku tidak mau tahu harus kau dapatkan kembali mata tombak itu bagaimana pun caranya” hardik Datu Dalu pada adiknya.

***

Sangmaima menyusuri kembali jejak babi yang ditombaknya. Berkat usaha kerasnya, ia berhasil menemukan jejak babi masuk ke sebuah lubang besar yang mirip gua di tengah hutan. Sangmaima kemudian masuk ke lubang besar itu. Alangkah terkejut sekaligus takjub Sangmaima. Ternyata lubang besar itu pintu masuk ke sebuah istana bawah tanah yang megah.

Di istana itu ada putri raja yang sedang sakit. Sang puteri sakit karena di lambungnya menancap mata tombak. Raja meminta Sangmaima menyembuhkan puterinya. Saat mengobati puteri raja bawah tanah itu, Sangmaima berhasil mengeluarkan mata tombak yang menancap di perut puteri raja. Sangmaima sadar kalau babi yang diburunya bukan babi biasa melainkan jelmaan Putri Raja bawah tanah yang cantik jelita.

Singkat cerita, setelah mata tombak yang menancap di perut puteri berhasil diangkat, alangkah bahagianya Sangmaima. Bukan saja karena ia bisa berkenalan dengan puteri raja bawah tanah yang cantik rupawan. Hal lain yang membuat ia senang karena tombak pusaka berhasil ditemukan.

Sangmaima kemudian mengembalikan mata tombak pusaka yang hilang kepada abangnya, Datu Dalu. Alangkah gembiranya Datu Dalu karena tombak kesayangannya sudah ditemukan. Guna mengungkapkan kegembiraan, Datu Dolu merayakannya dengan mengadakan pesta di rumahnya.

Pesta pun digelar, namun Sangmaima tidak diundang. Tindakan Datu Dalu yang melupakan Sangmaima membuat pemuda itu tersinggung. Sangmaima membuat pesta tandingan yang lebih menarik. Dalam pesta itu Sangmaima melibatkan Puteri Raja Bawah Tanah untuk tampil menghibur masyarakat agar pesta lebih meriah.

Dalam pesta itu sang puteri cantijk dihias dan didandani mirip  burung Ernga. Di daerah Silahan Lintong Ni Huta, burung ini amat favorit karena tidak hanya cantik, namun kicauannya sangat merdu terutama di sore hari.

Kehadiran puteri raja bawah tanah yang memerankan burung Ernga membuat pesta di rumah Sangmaima sangat meriah sementara pesta di rumah Datu Dalu sangat sepi. Datu Dalu pun pergi ke rumah adiknya bermaksud meminjam tontonan puteri burung Ernga tersebut.

“Boleh kupinjami dengan syarat, burung Ernga harus dijaga dan tidak boleh hilang walau selembar bulunya,” pesan Sangmaima pada Datu Dalu.

Pesan yang disampaikan itu persis seperti Datu Dalu mengingatkan Sangmaima ketika dulu meminjam tombak pusaka.

“Baiklah. Saya berjanji akan menjaganya tidak sampai hilang. Apakah saya bisa membawa puteri Ernga sekarang?” kata Datu Dolu.

“Saya akan mengantarkan sendiri ke rumah abang segera, tapi ingat engkau harus menjaganya baik-baik agar jangan sampai hilang,” kata Sangmaima.

Sangmaima kemudian mengantarkan puteri Ernga yang akan manggung pada acara pesta yang akan digelar di rumah Datu Dalu. Pesta digelar selama beberapa hari untuk menebus kegagalan pesta sebelumnya yang sepi pengunjung.

Di hari pertama pesta cukup ramai karena penampilan puteri Ernga. Apalagi Datu Dalu mengias putrid Ernga dengan baju emas dan perhiasan mewah, lebih mewah dari saat Ernga nampil di pesta Sangmaima.

Pada malam harinya, diam-diam Sangmaima mengendap masuk ke rumah abangnya yang tengah digelar pesta itu untuk menemui puteri Ernga.

“Besok pagi ketika pesta kembali hendak dimulai, engkau harus meninggalkan tempat pesta ini diam-diam. Bawalah semua pakaian dan perhiasan emas yang diberikan padamu,” bisik Sangmaima pada putri Ernga.

“Baiklah tuan,” jawab putrid raja bawah tanah yang menjelma menjadi burung Ernga.

Keesokan paginya ketika pesta di hari kedua hendak dimulai, Datu Dali memanggil putri Ernga untuk tampil dihadapan tamu yang sudah memenuhi ruangan.

“Saudara-saudara marilah kita saksikan penampilan Puteri Ernga yang menawan dan hiburan yang  belum pernah ada di kampung kita selama ini,” kata Datu Dalu dengan bangga.

Berkali-kali dipanggil, Puteri Ernga tidak muncul. Penonton kecewa dan Datu Dalu merasa malu.

Datu Dalu mulai cemas dan mencari kemana-mana putrid Ernga namun tidak ditemukan. Ia pun ingat pesan Sangmaima agar bisa menjaga Ernga yang tak boleh hilang walau sehelai bulunya.

Saat-saat Datu Dalu diliputi kecemasan itu, Sangmaima datang menagih janji.

“Aku datang kemari untuk menjemput Puteri Ernga, di mana dia sekarang,” tanya Sangmaima.

Datu Dalu gugup bukan main. Namun ia terpaksa menceritakan kejadian sebenarnya.

“Aku minta maaf adikku, Puteri Ernga hilang entah ke mana. Sudah kucari-cari namun tidak kutemukan. Aku bersedia menggantinya dengan emas ataupun uang, berapa pun kerugian yang ingin kuganti untukmu,”kata Datu Dalu lemas.

“Berapa pun uang dan harta kau serahkan sebagai pengganti tidak mampu menebus Puteri Ernga yang kau hilangkan. Aku tidak terima dank au harus menggantinya,” kata Sangmaima.

Ia marah besar, seperti ketika Datu Dalu memarahinya saat menghilangkan mata tombak pusaka dulu.

Pertikaian dua bersaudara itu tidak dapat dihindarkan.  Ternyata ilmu kedua bersaudara itu sama-sama kuat. Datu Dolu mengambil sebuah lesung. Semula ia akan melempar lesung itu kea rah adiknya, tapi dia tidak tega. Akhirnya lesung itu dilempar sekuat tenaga ke kampung kediaman Sangmaima. Lemparan lesung menimbulkan dentuman keras ke bumi sehingga membentuk sebuah lubang raksasa yang lama kelamaan lubang itu terisi air sehingga menjadi danau. Danau itu kini dinamakan orang Danau Losung.

Sangmaima tidak mau kalah. Dia berlari kencang menuju rumahnya kemudian mengambil piring atau pinggan. Piring atau dalam bahasa setempat dinamakan pinggan dilembarkan sekuat tenaga ke kampung kediaman Datu Dalu. Lemparan piring jatuh ke bumi menimbulkan ledakan dan menciptakan lubang seukuran danau. Bekas ledakan piring yang dilemparkan Sangmaima itu kemudian menjadi danau. Danau itu dinamakan warga sebagai Danau Sipinggan. (*)