LEGENDA GUA KEMANG

dibaca 97 pembaca

LEGENDA GUA KEMANG

Diceritakan kembali oleh :

Nasib TS

Sekitar 33 kilometer ke arah Selatan Kota Medan terdapat sebuah perkampungan  di kaki  Bukit Barisan, bernama Durin Tani. Secara administratif  Durin Tani masuk wilayah Desa Sembahe Kecamatan Sibolangit yang memiliki  banyak obyek wisata pemandian alam. Selain aliran sungai yang bening dan alamnya yang hijau, di daerah ini terdapat sebuah gua yang  dinamai warga Gua Kemang. Gua yang terbentuk dari rekahan tebing batu itu tidaklah terlalu besar. Mulut gua relatif kecil, kira-kira hanya bisa untuk masuk tubuh yang kerdil. Karena itu pula penduduk setempat menamakan gua tersebut sebagai gua ‘kemang’ atau  gua ‘umang’ yang berarti orang kerdil. Dari lokasi itulah cerita ini bermula….

***

Embun menitik dari ujung daun  padi muda jatuh ke pematang sawah. Di sekeliling sawah penduduk itu, tumbuh rerimbunan pohon yang menghijau segar. Sungai kecil mengalir di antara celah bukit membentuk komposisi pemandangan yang indah seperti lukisan. Nun jauh nampak  deretan pegunungan Bukit Barisan yang biru. Sementara langit mulai menyembulkan matahari dari balik fajar berwarna jingga.  

Tak jauh dari areal persawahan, sungai dan perbukitan         terdapat gubuk sederhana dengan tanaman bunga-bunga di pekarangannya. Di sanalah sepasang suami yang tampan dan isteri yang cantik bertempat tinggal. Mereka pasangan muda yang setia dan saling mencintai dan belum juga dikaruniai keturunan meskipun sudah sepuluh tahun berumah tangga. Sang suami bekerja mengolah ladang dan sawah. Sementara sang isteri kerap menemani setelah sehabis memasak dan membereskan rumah sekalian mengantarkan bekal makanan untuk sang suami tercinta.

“Alangkah indahnya bila di ladang ini kita hadir bertiga. Di antara kita ada si kecil sambil bermain lumpur atau memetik bunga-bunga liar yang tumbuh di tepi sawah. Betapa bahagianya kita, wahai isteriku,”kata sang suami.

“Sabarlah, suamiku, kita jangan bosan berdoa, agar kita dikaruniai anak buah cinta kita,” jawab si istri.

Tak berapa lama setelah suami isteri itu mencurahkan impian mereka menimang buah hati, sang istri mengeluh sakit. Kepalanya pusing, tubuhnya lemah dan mual-mual.

Suami yang sangat menyayangi isterinya gusar. Dia keluar rumah meninggalkan isterinya sebentar bermaksud mencari obat. Sebelumnya ia sempat bertemu tetangga dan menceritakan kondisi isterinya.

“Kemungkinan isterimu sedang ngidam, ia mengandung,” kata tetangga itu.

“Begitukah? Syukurlah, semoga saja. Kami sudah lama mengidamkan momongan,” katanya bergembira.

Pendapat tetangga yang menduga isterinya ngidam diceritakannya pada sang isteri setelah lelaki itu tiba di rumah membawa obat pusing dan sakit perut. Mendengarkan hal itu sang isteri ikut berbahagia.

“Dua bulan ini aku belum datang bulan” katanya.

“Wahai isteriku, kita segera punya momongan, tuhan mendengar doa kita”.

Sejak mengetahui isterinya hamil, sang suami makin giat bekerja di sawah. Dia bekerja keras agar panennya bagus guna membiayai persalinan isteri dan membiayai anaknya kelak.

Seiring waktu berjalan kehamilan sang isteri semakin membesar. Sang suami meminta isteri agar makin berhati-hati menjaga kesehatan. Suami kerap membantu pekerjaan isteri seperti menyapu dan mencuci bahkan membantu memasak. Hal itu dilakukan agar isterinya tidak sampai kelelahan yang bisa mengganggu janinnya.

Saat itu kehamilan isterinya sudah berjalan enam bulan. Isteri kerap mengeluhkan perutnya sering sakit. Bila menerima keluhan sakit, suami pun cemas dan kadang-kadang ia tidak pergi ke ladang demi menjaga isterinya.

Pagi itu istri mengalami sakit perut yang luar biasa. Namun hal itu tidak diberitahukan pada suami karena ia takut akan menjadi beban pikiran suami dan suami tidak bekerja lagi.

“Istriku wajahmu tampak pucat sekali, apakah engkau merasa sakit?”

“Tidak bang, aku baik-baik saja, pergilah engkau ke ladang. Sudah lama kau tidak keladang karena mencemaskanku.”

“Baiklah kalau begitu, aku berangkat ke sawah sekarang. Engkau jangan terlalu lelah bekerja di rumah. Jaga kesehatanmu”.

“Baiklah bang, aku akan berhati-hati menjaga kandungan bayi kita”.

Pagi itu berangkatlah suami ke sawah guna menengok tanaman padi yang diperkirakan akan panen menjelang lahiran isterinya. Menjelang tepi sawah, seorang warga member tahu. Tanaman padi mereka ludes diserang hama. Lelaki yang tengah menanti kelahiran bayi dari kandungan istrinya itu bergegas memeriksa sawahnya. Alangkah terkejutnya, melihat tanam padinya layu bagai terbakar dan mati. Sejenis hama menyerang tanaman padi para petani dengan ganasnya. Sudah dapat dipastikan panen mereka tahun ini gagal. Sia-sia pekerjaan yang mereka lakukan hamper enam bulan terakhir ini. Menerima fakta itu, hatinya sangat sedih. Harapan bisa mmemanen padi sebagai persiapan biaya persalinan isterinya kandas.

Lelaki itu pulang dengan langkah gontai. Saat mengetuk pintu rumah, ia tidak mendengar suara isteri menyahut salamnya. Saat dipanggil beberapa kali pun sang istri tidak member jawaban. Hati suami mulai cemas. Dia buka pintu yang memang tidak terkunci itu. Ia tak menemukan isterinya di kamar, maupun di dapur.

Ternyata ia menemukan isterinya tergeletak pingsan di kamar mandi. Ia pun berteriak minta pertolongan warga. Seorang warga member tahu bahwa isterinya akan melahirkan prematur. Zaman itu, klinik bersalin belum berkembang seperti sekarang. Dukun bayi mengambil peranan penting dalam situasi genting seperti ini.

Berkat pertolongan warga, dukun bayi pun datang menangani persalinan. Terdengar suara isterinya menjerit-jerit kesakitan. Perasaan suami begitu cemas. Namun lega begitu mendengar kabar proses persalinan selesai dilaksanakan. Sang isteri selamat, namun bayi yang masih orok kecil tidak tertolong. Sedih memang, namun pasangan suami isteri yang lama mendambakan bayi itu harus mengikhlaskan fakta getir yang diterimanya: sudahlah panen gagal dan bayinya meninggal pula.

***

Hari telah berganti. Pasangan suami isteri dari kampung Durin Tani itu tidak mau larut dalam kedukaan. Setelah kematian bayinya dan panen yang gagal, mereka mencoba kembali bangkit. Setahun setelah musibah itu, sang isteri kembali hamil. Sang suami merasa senang. Tidak ingin pengalaman tahun lalu terulang, pasangan itu menjaga kandungannya dengan lebih berhati-hati.

Sang suami melarang isterinya bekerja dan memintanya untuk beristirahat saja. Sementara tugas-tugas rumah tangga digantikan oleh suaminya. Karena mengurus isterinya yang sedang hamil, sawah mereka menjadi terlantar. Pohon-pohon liar tumbuh menutupi permukaan sawah yang sudah menjadi semak belukar. Padahal mereka membutuhkan biaya banyak untuk persalinan sang istri.

Suatu hari, sang suami pergi menengok sawahnya. Alangkah sedihnya saat para petani lainnya sudah mulai menggarap sawah masing-masing. Sementara sawahnya bagai hutan lebat oleh tumbuhan liar. Rasanya tidak mungkin dia mengerjakan sendiri dengan kondisi sawah yang tidak lama tak terurus. Terlalu banyak tumbuhan dan gulma yang harus dibersihkan. Tenaganya tidak cukup. Apalagi ia tidak bisa konsentrasi penuh bekerja di sawah karena harus menjagai isteri yang sedang hamil di rumah.

Lelaki itu hanya terpaku di sudut pematang memandangi sawahnya sambil menangis. Dia sangat sedih dan cemas memikirkan masa depan yang butuh banyak biaya. Sedangkan sawah tidak bisa dikerjakan. Dia bahkan sudah membeli bibit padi yang disimpannya di rumah, namun tidak bisa disemai karena sawah belum diolah.

Tiba-tiba ia merasakan ada seseorang menepuk-nepuk bahunya dari belakang.

“Ada apa gerangan sehingga membuat saudara sedih dan gundah gulana,” tanya orang itu.

Tanpa menoleh ke belakang, petani malang itu menceritakan kesulitan yang dihadapinya. “Aku sedih karena aku belum bisa menggarap sawahku. Aku masih harus menjaga isteriku yang hamil. Di lain sisi, aku membutuhkan biaya untuk persalinan bayi kami kelak. Tapi bagaimana aku mendapat uang kalau aku tidak mengerjakan sawah dari sekarang?” ujarnya.

“Jangan khawatir, saya akan membantumu” jawabnya.

Lelaki itu penasaran pada orang yang baik hati itu. Ia menoleh ke belakang guna mengenali siapa lelaki itu. Alangkah terkejutnya ia. Sebab orang yang berjanji akan membantunya itu sepertinya bukan orang biasa. Tubuhnya tidak lazim, sangat kerdil. Sementara tungkai kakinya menghadap ke depan dan jari-jari kakinya  menghadap ke belakang.

Awalnya ia terkejut dan takut, tapi orang kerdil itu berusaha menenangkannya.

“Jangan takut padaku, aku senang dapat membantumu. Aku tinggal di situ,” katanya sambil menunjuk ke arah mulut gua di tebing batu.

Setelah pertemuan dengan mahluk kerdil itu, sang petani pulang ke rumah karena hari menjelang senja. Ia baru sadar, hampir seharian meninggalkan isterinya yang sedang hamil di rumah. Namun ia lega setelah mendapatkan sang isteri baik-baik saja. Bahkan ia sedang merajut kain untuk bahan popok bayi mereka yang bakal lahir. Dua hari setelah itu, sang isteri melahirkan dengan selamat. Bayinya pun sehat, berjenis kelamin laki-laki. Tentu saja suami isteri itu sangat bahagia.

Keesokan harinya, lelaki itu hendak menengok sawahnya. Ia bermaksud akan mengerjakan sawahnya karena isteri sudah melahirkan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Alangkah terkejutnya ia, setelah melihat sawahnya sudah bersih dari belukar dan tanaman liar. Para petani di sekitarnya pun merasa heran. “Kapan sawahmu kau kerjakan, sementara sore semalam masih semak belukar?” tanya warga heran.

Lelaki itu pun tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya terdiam sambil berpikir.

“Ini pasti pekerjaan orang kerdil itu. Tapi bagaimana ia melakukannya?” ia membathin.

Peristiwa aneh itu menyebar dari mulut ke mulut. Seorang warga yang tinggal dekat sawah menerangkan, ia mendengar pohon-pohon tumbang dan seperti orang yang membajak sawah pada malam hari. Namun warga sekitar tidak berani keluar rumah.

“Rasanya mustahil bila sawah seluas ini dikerjakan oleh manusia hanya dalam tempo satu malam,” ujar ibu-ibu di warung desa.

Menjelang senja, orang kerdil menemui lelaki pemilik sawah yang hendak beranjak pulang di sudut pematang.

“Kau antar bibit padi yang kau persiapkan ke sawah sekarang. Selepas Magrib nanti aku akan mengerjakannya” kata orang kerdil itu.

Tidak berpikir panjang, lelaki itu mengangkut bibit padi yang sudah ia beli sebelumnya dan meletakkannya di pematang sawah.

Keesokan harinya, warga semakin penasaran melihat sawah ajaib itu sudah ditanami bibit padi dengan rapi, padahal warga lainnya baru mulai menyemai.

“Kapan bibit padi disemai, tahu-tahu sudah ada tanaman padi,” tanya warga heran.

Seperti biasa, orang kerdil menemui lelaki pemilik sawah menjelang senja.

“Aku sudah selesai menanami sawahmu dengan bibit padi, pekerjaan berikut merawatnya. Satu pesanku untukmu, jangan sekali-kali isterimu yang baru melahirkan diajak ke sawah karena bau rempah dan jamu orang melahirkan akan membuat semua yang kukerjakan menjadi sia-sia” katanya.

***

Kabar sawah ajaib dengan cepat menyebar di Desa Durin Tani. Warga menuduh pemilik sawah menganut ilmu hitam dan memelihara orang halus di rumahnya. Peristiwa itu dilaporkan kepada pengulu kampung yang kemudian mendatangi rumah lelaki pemilik sawah yang menjadi bahan pembicaraan itu.

Saat didatangi ke rumahnya, lelaki itu masih berada di sawah. Pengulu Dirin Tani dan warga hanya menemukan isterinya yang sedang menggendong bayi. Pada pelipis dan kening perempuan itu menempel ramuan rempah tradisional dengan bau menyengat. Ramuan itu biasanya memang dipakai bagi perempuan kampung yang baru melahirkan untuk memulihkan kesehatan dan menangkal gangguan dari alam gaib.

Pengulu menceritakan semua kecurigaan warga pada suaminya yang memelihara mahluk halus untuk membantu mengerjakan sawahnya. Guna mengklarifikasi tuduhan warga, sang isteri sambil menggendong bayinya yang masih merah mengajak pengulu dan warga menemui sang suami di sawah.

Kedatangan sang isteri ke sawah tidak diduga suaminya. Padahal ia telah mengikat janji pada orang kerdil agar jangan mendatangkan wanita baru melahirkan ke sawah. Pantangan itu ternyata sudah dilanggar. Akibatnya, pohon dan belukar yang sudah ditumbangkan kembali berdiri. Bibit padi yang ditanam kembali ke asalnya. Sawah kembali semak belukar seperti sedia kala.

Menyaksikan keanehan itu, pengulu kampung dan warga minta penjelasan lelaki itu. Ia kemudian menceritakan semua ihwal yang terjadi tanpa ditutupi lagi. Dari pertemuannya dengan orang kerdil hingga sawahnya yang dikerjakan secara ghaib lewat bantuan orang kerdil itu.

Atas permintaan pengulu dan warga, lewat bantuan orang pintar, sahabat dari alam ghaib lelaki itu dihadirkan untuk mem beri penjelasan.

“Hamba bernama si Umang, rumah hamba di gua itu,”kata orang kerdil itu.

Si Umang kemudian menampakkan wujud rumahnya pada manusia ternyata berarsitektur sangat indah. Pintu dan jendelanya terbuat dari emas. Melihat rumah berpintu emas di kawasan gua, warga ramai-ramai menyerbu lokasi itu bermaksud mengambil emasnya.

Saat warga mendekati lokasi, rumah emas itu dalam sekejab lenyap dari pandangan mata.

“Aku telah mengambil dan membawa emas itu sehingga mereka tak dapat melihatku lagi,” kata orang kerdil yang ternyata bernama Umang kepada lelaki pemilik sawah yang dibantunya.

“Maafkan aku dan isteriku yang melanggar janji,” katanya.

“Tidak mengapa, aku akan pergi dari tempat ini mencari tempat baru yang lebih aman dan tenteram. Sebagai kenang-kenangan kutinggalkan pintu emas rumahku ini padamu,” kata Umang kemudian menghilang.

Alangkah terkejutnya lelaki itu. Meski begitu ia menerima dengan tangan gemetar bongkahan pintu emas rumah si Umang. Dengan emas pemberian Umang, lelaki itu menjadikannya modal usaha pertanian yang kian maju. Dia hidup sejahtera dan bahagia bersama istri dan buah hatinya yang mulai tumbuh besar.

Sementara gua batu bekas lokasi rumah Umang kerap didatangi warga. Gua kecil itu dinamakan warga sebagai Gua Umang atau Gua Kemang yang artinya gua orang kerdil karena mulut gua hanya bisa dimasuki oleh seukuran tubuh orang kerdil. Demikianlah! (*)