SUKMO ILANG

dibaca 969 pembaca

SUKMO ILANG

Diceritakan kembali oleh:

Nasib TS

Sebuah hikayat dari Dusun Sukmo Desa Kolam Kecamatan Percutseituan Kabupaten Deliserdang, lima kilometer sebelah Timur Kota Medan.  Mandor Sukmo bersama puluhan kuli kontrak anak buahnya raib saat bekerja. Cerita itu menjadi misteri yang tak terungkap sejak zaman Belanda hingga sekarang.

 

Gerimis turun ketika  Colt Diesel yang penuh muatan daun nipah dari Bagan Percut melintasi jalan gelap perkebunan Desa Kolam, pada suatu malam tahun 1990. Sujono sang pengemudi, ditemani anaknya Sudarno dan Marno, kenek, akan mengantar daun nipah itu ke daerah Percutseituan. Namun melintasi jembatan pohon kelapa, roda belakang truk yang dikemudikan pria 68 tahun itu terjepit di antara batang kelapa yang amblas sehingga truk tak dapat bergerak dan mesin mati total. Sudah berulang kali truk didorong namun sia-sia. “Hampir tiga jam kami di jembatan itu namun usaha yang kami lakukan gagal,” ujarnya.

            Di tengah keputusasaan, Sujono keluar kabin kemudian berdiri di sisi truk sambil memandangi hamparan kebun tembakau di sekitarnya. Ia baru sadar, lokasi  truk mogok adalah kawasan Sukmo Ilang, sebuah kawasan yang dulu dianggap angker . Di kawasan itulah Mandor Sukmo bersama sekitar 40 kuli kontrak raib tanpa jejak saat sedang bekerja di ladang.

Seperti ada yang membisikkan, saat itu Sujono menyebut kalimat dalam bahasa Jawa:

Kaki Sukmo, kadang Sukmo tulungono kulo. Gangsarke lampah kulo. Kulo ora ganggu sambang, sambang ojo ganggu kulo…

Setelah mengucapkan kalimat yang kira-kira artinya “permohonan pertolongan dan jangan dijahili” itu, Sujono kembali masuk kabin dan menstater mesin. “Ajaib, mesin hidup dan roda truk terangkat begitu ringan terasa ada keguatan luar biasa yang mendorong. Kami pun berhasil melanjutkan perjalanan,” kenangnya.

Belum ada yang mengungkap, misteri raibnya secara gaib kuli kontrak satu mandoran di daerah Sukmo Ilang Desa Kolam. Cerita yang beredar di tengah masyarakat pun beragam menyangkut jumlah dan latar belakang raibnya Mandor Sukmo dan anak buahnya. Ada yang menyebut jumlah mereka ratusan dan versi lainnya menyebut sekitar 40 an saja. Inilah kisahnya…

 

 

Tekanan Penjajah//

Salah satu versi cerita menyebut, raibnya Sukmo dan anak buahnya karena motif sengaja sebagai bentuk perlawanan terhadap kerja paksa yang diterapkan penjajah. Para kuli kontrak dari Jawa itu tidak tahan tekanan para penjajah. Diriwayatkan, sejarah perkebunan di Sumatera merupakan warisan perkebunan zaman penjajahan Belanda yang diwarnai kisah penindasan paling kejam di zaman kolonial. Kekejaman penjajah ditandai persekongkolan kekuasaan dengan tuan-tuan kebun yang dirintis oleh tuan Jacobus Nienhuys: seorang Belanda yang sebelumnya sudah menjarah tanah-tanah di Jawa-Timur untuk perkebunan tembakau di bawah bendera kongsi Van den Arend yang berkantor pusat di Surabaya.

Kedatangan penjajah untuk membuka kebun di Tanah Deli pertama kali tercatat pada 7 Juli 1863. Mereka merapat di Kuala Deli dengan kapal Josephine. Kedatangan mereka pada walnya disambut dengan suka cita oleh penguasa setempat karena dianggap akan memberi harapan bagi kemakmuran negeri. Investor Belanda itu mengawali usahanya dengan membuka kebun di atas tanah konsesi 4000 bahu ( kl 3.000 ha) selama 20 tahun,dengan kelonggaran 5 tahun pertama tanpa sewa, selebihnya membayar sewa $.200 setahun. Letaknya sedikit ke hulu Labuhan di tepi sungai Deli. Konsensi yang dianggap royal itu sempat mendapat pertentangan dari kaum cendekiawan dan kalangan penguasa lokal sendiri, namun berkat kegigihan Nienhuys dan koloninya mencengkeram kekuasaan dengan berbagai cara bujuk rayu, akhirnya usaha perkebunannya berkembang di tanah jajahan.

Meluasnya lahan perkebunan, tak pelak membuat tenaga kerja yang mereka butuhkan meningkat. Mula-mula diambil dari penduduk setempat. namun lantaran orang Melayu dan Karo tidak cocok bekerja diperkebunan dan suka melawan, tepaksa Nienhuys merekrut tenaga kerja dari Penang (Malaysia) dan Singapura, yakni orang China yang sudah tinggal disana. Disusul India dan Jawa ketika Pemerintah Tiongkok mempersulit kedatangan buruh-buruh Cina ke Deli. Arus kedatangan kuli kontrak asal Jawa semakin besar seiring dengan meluasnya lahan perkebunan kolonial Belanda.

Salah satu kuli kontrak yang direkrut Belanda adalah Sukmo bersama puluhan kuli asal Jawa lainnya. Sukmo dan kawan-kawan direkrut dari kalangan miskin di pedalaman Jawa. Mereka direkrut oleh jaringan makelar tenaga kerja dengan berbagai cara bujuk rayu bahkan tipu muslihat. Sukmo sendiri oleh makelar diajak pergi nonton wayang dulu, lalu didorong paksa masuk kedalam tongkang atau kapal. Dengan kata lain, boleh dibilang mereka diculik dari desanya. Ada yang ditipu dan dibujuk dengan mengatakan tujuan mereka tidak jauh, ternyata mereka diseberangkan ke Deli.

Sejak saat itu para kuli yang direkrut paksa ini terikat oleh kontrak sepihak yang mereka bahkan tidak tahu-menahu isi perjanjian kontrak itu. Pasalnya, kebanyakan bara koeli ini buta aksara. Para tuan kebun yang merupakan kalangan pengusaha swasta asing ini bekerjasama dengan Pemerintah Hindia-Belanda dengan menempatkan perusahaan perkebunan di tanah jajahan tak ubahnya kerajaan Belanda di Tanah Deli. Mereka membentuk struktur pemerintahan  lengkap dengan aparat keamanannya. Sementara kuli kontrak tidak ubahnya tawanan kerja paksa.

Mereka digaji suka-suka dengan beban pekerjaan yang berat dibawah pengawasan mandor dan centeng yang kejam. Para koeli kerap mengalami penyiksaan fisik dalam sistem perkebunan kolonial. Cerita tidak sedap lainnya,  kebebasan seks bagi tuan-tuan besar dan kecil, lazim dilampiaskan pada para wanita pekerja maupun istri kuli. Selain itu setiap gajian diciptakan keramaian dan judi agar uang para kuli ludes, sehingga mereka tetap melarat dan memperpanjang kontrak.

Sukmo kerap melakukan perlawanan pada setiap tekanan dalam pekerjaan yang mirip perbudakan itu. Karena sikapnya yang kritis dan melakukan perlawanan itu, oleh Belanda Sukmo dibujuk dengan cara memberinya jabatan sebagai mandor. Konon, setelah diangkat menjadi mandor pun hati nurani Sukmo tetap tidak bisa berkompromi dengan cara-cara koloni Belanda melaksanakan praktik perbudakan di perusahaan perkebunan mereka.

Hati Sukmo tidak tahan menyaksikan para kuli yang tidak tahan dengan perbudakan itu dan mencoba melarikan diri, lalu dikejar-kejar oleh centeng. Tak pelak begitu tertangkap mereka ditendangi dan dipukuli sebelum dilepas dan disuruh kerja lagi.

Krisis ekonomi akhir abad 18 akibat kelebihan produksi dan jatuhnya harga produk tembakau Deli di pasar dunia menyebabkan penderitaan kuli kian bertambah. Para pengusaha perkebunan tembakau di Deli mengaku menderita kerugian besar. Imbasnya upah para kuli dipangkas oleh tuan mereka. Para kuli semakin tertindas. Penyiksaan demi penyiksaan mereka alami, sementara upah yang diperoleh jauh dari cukup untuk memenuhi kehidupan yang layak.

***

Sebuah versi cerita menyebutkan, Mandor Sukmo  melakukan perlawanan terhadap keadaan dan penindasan para kuli dengan caranya sendiri. Dia berhubungan dengan kerajaan bunian yang berdiam di sekitar lokasi perkebunan kawasan Desa Kolam itu. Dipimpin mandor Sukmo, para kuli melakukan ritual tertentu, semacam meminta suaka kepada warga alam lelembut atau masyarakat bunian di sekitar desa itu dan melakukan perlawanan dari alam kaib. Permohonan mereka dikabulkan, Selagi mereka bekerja mengolah lahan perkebunan di siang terik, Mandor Sukmo dan puluhan anak buahnya secara tiba-tiba raib dari pandangan. Wusss. Menghilang, lenyap bak ditelan bumi.

Versi lainnya menyebut, mandor Sukmo dan anak buahnya menghilang dalam perjalanan pulang dari tempat bekerja. Peristiwa itu membuat warga geger dan berusaha mencari mandar Sukmo berikut puluhan anak buahnya ke mana-mana. Berhari-hari dicari, mandor Sukmo dan anak buahnya tidak kunjung ditemukan. Hilangnya mandor Sukmo dan anak buahnya menjadi mistiri hingga sekarang. Cerita itu beredar dari mulut ke mulut sampai sekarang. Warga mengabadikan peristiwa itu dengan menyebutkan dusun tempat lokasi  hilangnya Sukmo dan kawan-kawannya dengan sebutan Dusun Sukmo Ilang. Nama Sukmo Ilang juga diabadikan dalam sebuah jalan yang menghubungkan Desa Kolam dengan beberapa desa di sekitarnya.

***

Menurut Sujono, ketika daerah itu belum seramai sekarang, pada malam-malam tertentu terutama Jumat-Kliwon, warga masih sering mendengar suara-suara gaib seperti musik gendingan Jawa, pertunjukan wayang kulit dan seperti keramaian pesta. “Suaranya sayup-sayup terbawa angin, namun ketika didatangi suara menghilang,” katanya.

Tak sulit mengorek kisah-kisah mistis sekitar Dusun Sukmo Ilang  dari mulut warga.  Selain misteri Sukmo Ilang, di sekitar desa itu terdapat dua lokasi keramat yang sering diziarahi warga. Tak jauh dari lokasi lahan Sukmo Ilang yang sudah jadi pemukiman di Dusun 16 Desa Kolam, terdapat Keramat Ronggeng yang sering diziarahi warga dari berbagai daerah sekitar. Lokasi itu tak pernah sepi dari bermacam sesaji yang dipersempahkan para peziarah.

Sepintas Desa Kolam tak ada bedanya dari desa-desa lainnya di Deliserdang. Letaknya yang tak jauh dari Kota Medan, membuat jalan-jalan di desa ini senantiasa ramai lalu lintas menuju akses kota dan sebaliknya. Namun warga desa ini ternyata masih mempertahankan berbagai adat tradisi dalam berbagai aktivitas kehidupan mereka.

Soal tradisi yang masih kental di Kampung Sumo diakui  Nek Siam (60) dan Nek Isah (80).  Contohnya saat warga mau menanam padi, masih berlaku ritual adat dengan kenduri di perempatan jalan. “Maknanya sebagai penolak bala dan mohon keselamatan tanaman agar menghasilkan panen melimpah. Bila ritual tidak dilakukan, biasanya padinya habis di makan hama,” timpal Nek Isah pula. Demikianlah! *)