ASAL MULA KOTA NATAL

dibaca 197 pembaca

ASAL MULA KOTA NATAL

Diceritakan kembali oleh:

Nasib TS

Natal adalah sebuah kota penting di Kabupaten Mandailing Natal, terletak di pantai barat Sumatera Utara.  Kabupaten ini mempunyai luas wilayah 6.621 kilometer bujursangkar. Kondisi wilayah didominasi dataran dan pegunungan  dan wilayah pantai.  yang terletak di daerah pantai barat. Sejak dulu Natal merupakan jalur strategis perdagangan penting ke pesisir Sumatera bagian Barat.  Bagaimana asal mula penamaan Kota Natal? Nah, begini ceritanya!

***

Berawal dari pengembaraan seorang pangeran dari Kerajaan Indrapura bernama Indra Sutan. Sekadar diketahui, Kerajaan Idrapura tergabung dalam Kerajaan Pagaruyung di  Minangkabau. Raja Indrapura memiliki dua anak lelaki yang selisih usia mereka hanya satu tahun. Indra Sutan adalah anak bungsu dari dua bersaudara itu. Sementara si sulung bernama Pangeran Indra Bagindo.  Bila keduanya disandingkan, sulit membedakan si sulung dengan si bungsu. Wajah dan gestur mereka juga mirip. Keduanya bagai anak kembar.

Meski demikian, sesuai ketentuan tradisi kerajaan, yang berhak menjadi Putera Mahkota pertama tetap anak sulung. Bila yang bersangkutan berhalangan atau oleh satu dan lain sebab, barulah raja akan memberi mandat pada anak laki-laki berikutnya.

Pada suatu hari di istana Indrapura berlangsung rapat penting. Raja merasa sudah tua dan saatnya tampuk kepemimpinan diserahkan kepada penerusnya.

“Kalian para putera mahkota dan punggawa kerajaan, sengaja aku kumpulkan hari ini karena ada satu hal penting yang ingin kusampaikan berkaitan dengan suksesi Kerajaan Indrapura. Aku sudah tua, karena itulah saatnya putera mahkota akan menggantikan kepemimpinanku di Indapura, Segera atur rencana upacara penobatannya,”kata raja.

Tak berapa lama setelah rapat penting itu, Pangeran Indra Bagindo dinobatkan menjadi Raja Indrapura menggantikan ayahanda. Bagaimana dengan Pangeran Indra Sutan?

Tradisi di Kerajaan Indrapura mengharuskan putera mahkota kedua pergi merantau setelah putera mahkota utama dinobatkan menjadi raja. Saat itu juga Pangeran Indra Sutan mendapat titah harus pergi merantau menemukan wilayah lain untuk dijadikan kerajaan baru.  Kerajaan baru itulah yang kelak akan dipimpinnnya.

Sebelum berangkat Pangeran Indra Sutan melakukan beberapa persiapan. Dia mengumpulkan sejumlah pengikut setia untuk menemani selama pengembaraan nanti. Rencananya Pangeran Indra Sutan melakukan perjalanan lewat jalur laut menggunakan kapal layar.Ia pun membawa perbekalan yang cukup banyak sebagai bersiapan menempuh perjalanan jauh yang belum dapat dipastikan tujuannya. Selain perbekalan makanan, minuman dan pakaian, pangeran  turut membawa hewan peliharaan di antaranya kuda untuk kendaraan mereka saat harus menyusuri daratan. Selebihnya, turut dibawa perlengkapan ritual tradisi berupa sekepal tanah dan buah labu yang dikeringkan.

Menurut kepercayaan tradisi lama, labu dan tanah kelahiran dibawa merantau agar yang bersangkutan merasa betah di tanah rantau n amun tidak melupakan tanah kelahiran. Buahn labu yang dikeringkan itu hanya berfungsi sebagai wadah menimbang tanah di tempat yang baru.

***

Cuaca di pesisir Minangkabau begitu cerah. Sebuah kapal kayu dengan tiang-tiang layar yang kokoh bersandar di dermaga. Dengan kapal itulah Pangeran Indra Sutan dan pengikutnya akan berlayar mengarungi lautan memulai pengembaraan.

Pangeran Indra Sutan dan seluruh pengikut telah naik ke lambung kapal. Jangkar ditarik dan layar dikembangkan. Kapal pun bergerak meninggalkan dermaga, menyisir ombak kea rah utara.

Berminggu-minggu kapal berlayar mengarungi gelombang. Pangeran Indra Sutan mengamati sekaliling dan seperti melihat sesuatu.

“Lihat di depan sana. Saya melihat muara sungai.  Kita menuju ke sana. Sungainya lebar, kapal ini bisa masuk dan kita ikuti aliran sungai itu,” perintah Pangeran Indra Sutan kepada juru mudi.

“Baik pangeran, perintah dilaksanakan. Kita susuri sungai itu,” kata juru mudi.

Kapal pun berbelok ke muara dan bergerak menyusuri aliran sungai kea rah hulu. Kapal tiba di sebuah tangkahan yang ramai penduduk bertransaksi hasil bumi dan mata dagangan kebutuhan warga sehari-hari. Ternyata tempat itu sebuah pasar perniagaan di tepi sungai.  Belakangan diketahui, pengembaraan Pangeran Indra Sutan dan pengikutnya tiba di Kerajaan Ujung Gading masuk wilayah Pasaman sekarang.

Raja Ujung Gading bernama Datuk Imam menerima kedatangan Pangeran Indra Sutan dan rombongan sebagai tamu kehormatan. Mereka disambut dengan upacara resmi kerajaan sebagaimana lazimnya menerima tamu kenegaraan.

Diriwayatkan, Datuk Imam seorang raja yang masih muda, ramah dan bijaksana. Usianya pun kira-kira sebaya dengan Pangeran Indra Sutan. Pangeran Indra Sutan dan rombongan sangat dimuliakan oleh Datuk Imam. Mereka diizinkan tinggal beberapa hari di Kerajaan Ujung Gading.

Pertemanan Pangeran Indra Sutan dan Datuk Imam kian akrab. Selama beberapa hari tinggal di Kerajaan Ujung Gading membuat Pangeran Indra Sutan mengetahui kalau di Kerajaan Ujung Gading tengah terjadi kemelut pertentangan kelompok sosial tertentu dengan kerajaan. Sekali peristiwa Datuk Imam curhat pada Pangeran Indra Sutan.

“Tampaknya saya sudah kehabisan akal  untuk mengatasi krisis yang terjadi di Ujung Gading. Saya tak tahu harus berbuat apa lagi,” kata Datuk Imam pada sahabatnya.

“Hamba ikut prihatin apa yang melanda Ujung Gading. Meski demikian saya tidak dapat berbuat banyak. Sabagai tamu tentunya saya tidak sepatutnya intervensi urusan persoalan kerajaan,” kata Pangeran Indra Sutan.

“Terimakasih atas perhatian Anda, saya paham,” sahut Datuk Imam.

“Meski dmikian, sebagai sahabat saya punya usul agar persoalan ini tidak membuat tekanan batin pada Yang Mulia Datuk Imam. Kebetulan saya dan pengikut hamba mengemban misi menemukan wilayah baru dan membangun kerajaan baru. Bila tidak keberatan, saya ingin mengajak Yang Mulia Datuk Imam ikut berpetualang bersama saya untuk mengurangi tekanan yang sedang tuan hadapi sekarang,” kata Pangeran Indra Sutan.

“Usul yang bagus, tapi kalau saya pergi bersama Anda apakah nanti saya tidak dianggap kurang bijaksana oleh rakyat. Saya pergi plesiran sementara negeri dalam keadaan berkonflik. Bagaimana menurut Anda, apa yang harus saya lakukan?”.

“Baiklah saya akan tunda perjalanan, menunggu Yang Mulai Datuk Imam sampai benar-benar siap untuk ikut bersama kami. Mudah-mudahan konflik kerajaan bisa cepat diatasi,” kata Pangeran Indra Sutan.

Ternyata konflik kian menajam membuat Datuk Imam kian terdesak. Teror dan ancaman gencar dialamatken kepada Datuk Imam.

“Tampaknya situasi sudah kacau balau. Saya memperhitungkan keselamatan diri saya dan keluarga. Saya setuju dengan usul Anda, Pangeran Indra Sutan. Saya bersedia ikut berpetualang bersama Anda,” ujar Datuk Imam.

“Syukurlah, saya merasa mendapat kehormatan dan semakin bersemangat bersama Yang Mulia Datuk Imam. Kalau begitu, kita segera berangkat. Tidak usah menunggu waktu lama,” kata Pangeran Indra Sutan.

Datuk Imam tidak sendirian. Bersamanya ikut sejumlah pengikut setianya. Karena itulah, Datuk Imam mempersiapkan kapal tersendiri untuk menemani kapal rombongan Pangeran  Indra Sutan.

Rombongan dua kapal itu kemudian bergerak menyusuri perairan Sumatera bagian barat. Berhari-hari kapal-kapal itu berlayar menembus badai dan gelombang. Akhirnya rombongan  Pangeran Indra Sutan dan Datuk Imam tiba di sebuah pantai yang landai dan indah dipandang mata.

Pemandangan indah itu menarik perhatian Pangeran Indra Sutan dan Datuk Imam. Mereka kemudian bersepakat berhenti di tempat itu. Kapal menepi dan mereka mencapai daratan.

Pangeran Indra Sutan mulai mengamati kondisi alam sekitar. Tidak jauh dari tempatnya berdiri terlihat muara sungai yang memenuhi syarat menjadi pelabuhan. Aliran sungainya lebar sehingga memungkinkan kapal-kapal berbadan besar bisa masuk ke dalam.

Pengamatan dilanjutkan dengan mengendarai kuda yang turut mereka bawa dalam pelayaran itu. Dengan mengendarai kuda Pangeran Indra Sutan dan rombongan lebih leluasa melakukan penelitian terhadap kondisi alam yang mereka singgahi.

Dalam pengembaraan itu, mereka menemukan lahan daratan yang cukup luas. Tampaknya wilayah itu belum berpenghuni.

“Tampaknya inilah wilayah yang cocok untuk kita tinggal membangun kerajaan di sini,” kata Pangeran Indra Sutan kepada pengikutnya.

Guna merayakan penemuan itu, Pangeran Indra Sutan melaksanakan upacara ritual menimbang tanah. Ia masukkan sekepal tanah yang dibawa dari Kerajaan Indrapura ke dalam rongga labu kering. Setelah itu, Pangeran Indra Sutan mengambil segenggam tanah daratan yang baru ditemukan kemudian memasukkannya ke rongga labu kering yang sudah dipersiapkan sejak keberangkatannya dulu. Labu kering yang berisi sekapal tanah kelahiran dan sekepal tanah daratan yang baru didatanngi itu, ditimang-timang menggunakan kedua tangannya. Ritual ini mereka sebut sebagai ritual menimbang tanah, sebagai simbolis pembukaan lahan baru di tanah rantau.

“Sesuai kondisinya yang luas dan landai, tanah ini kita namai Ranah Nan Data”ucapPangeran Indra Sutan disambut tepuk tangan dan sorak sorai pengikutnya.

Mereka optimis Ranah Nan Data dengan potensi alamnya merupakan daerah yang akan membawa kemakmuran penghuninya kelak. Air sungai yang mengalir di areal lahan yang luas bisa menopang pertanian. Sungai itu cukup lebar bermuara ke laut, bisa dijadikan jalur transportasi mengangkut hasil bumi dan perdagangan. Sementara muara sungai akan dijadikan pelabuhan perniagaan.

Sejak saat itu daerah yang landai dan luas itu memiliki nama Ranah Nan Data, artinya tanah yang datar. Lama kelamaan, sebutan Ranah Nan Data oleh penduduk disingkat menjadi “Nata”. Seiring masuknya penjajahan dan hubungan perdagangan, oleh pengaruh lidah asing sebutan “Nata” berganti dengan “Natal” sampai sekarang.

Dikisahkan, Pangeran Indra Sutan dan Datuk Imam meluaskan pengembaraan di daerah sekitarnya sehingga menemukan daerah baru lagi yang mereka berinama Lingga Bayu yang terletak di hulu Ranah Nan Data cikal bakal Natal.

Dua sahabat pengembara itu kemudian sepakat membagi wilayah kekuasaan. Kerajaan Natal dipimpin Datuk Imam, sementara Pangeran Indra Sutan dan pengikutnya menguasai Lingga Bayu yang kaya dengan bahan tambang emas. Mereka bersumpah, Natal dan Lingga Bayu menjadi dua kerajaan yang bersaudara dan memelihara perdamaian selamanya.

Versi lain menyebutkan, asal usul Natal karena daerah itu kerap dijadikan persinggahan warga yang bepergian dengan mengendarai kuda. Penduduk yang umumnya tinggal di daerah pegunungan saat melintasi kawasan itu, tepatnya di daerah Tor Pangolat, sering beristirahat karena takjub melihat pemandangan yang indah. Dari situ terlihat tanah yang landai dan luas, terlihat hingga bertemu dengan lautan.

Karena takjub, warga hamper tak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan mata. “Ahha, do na tari doi?”. Artinya, apakah gerangan yang kita lihat itu?

Awalnya sebutan “Nataridoi” akrab untuk menyebutkan daerah tak bernama itu. Lama kelamaan “nataridoi” disingkat menjadi “Natar” kemudian pengaruh lidah asing “Natar” penyebutannya bergeser menjadi “Natal”.  (*)