PERJALANAN CINTA PENDEKAR BIOLA

dibaca 397 pembaca

PERJALANAN CINTA PENDEKAR BIOLA

(Legenda Mas Merah dari Pulau Kampai)

Diceritakan kembali oleh:

Nasib TS

 

 

Kemeriahan pesta tidak mampu menghibur perasaan Salam yang gundah gulana. Hatinya begitu pedih bagai diremas-remas. Hancur. Lumat.  Salam tidak sanggup melihat pasangan pengantin yang duduk di pelaminan mendampingi Amran, abang kandungnya adalah Rukiah, tidak lain kekasih Salam sendiri.

/1/

Dengan perasaan yang berkecamuk, ia hampiri Rukiah yang sedang bersanding bahagia di pelaminan. Setengah berbisik Salam berbicara di dekat telinga Rukiah.

 “Kalau memang abangku yang menjadi  jodohmu, ya sudah, aku rela. Namun aku aku sungguh tak sanggup melihat kau bersenang-senang dengan abangku,  sementara aku menanggung kepedihan hati tiada tara. Maka aku pamit pergi dari bumi Serawak ini, merantau ke Tanah Deli" katanya.

Rukiah yang pada dasarnya masih mencintai Salam ikut sedih menerima kenyataan pahit cinta mereka. “Cinta di awak, kawin di orang,” begitu istilahnya. Meski demikian, Rukiah tidak dapat berbuat banyak kecuali merelakan mantan kekasihnya itu meninggalkan kemeriahan pesta dengan rasa hampa dan kecewa. Dikisahkan pernikahan Rukiah dan Amran, abang kandung Salam, diputuskan lewat perjodohan kedua orangtua mereka.

Begitu pula dengan perkawinan Amran dengan Rukiah, merupakan hasil perjodohan orangtua mereka. Pada zaman dulu, perjodohan adalah hal yang lazim. Persoalannya, orangtua Amran tidak mengetahui kalau gadis yang dijodohkan dengan Amran adalah kekasih Salam, adik kandung Amran sendiri. Selama ini Salam dan Rukiah menjalin hubungan secara diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga. Karena tidak ingin menyakiti Amran yang sudah bahagia dengan perjodohan itu dan tidak ingin menentang keputusan orangtua, Salam tidak menceritakan hubungannya dengan Rukiah dan memilih memendam kepedihan menerima fakta itu.

Singkat cerita, di hari pesta pernikahan Amran dan Rukiah itu. dengan hati yang gundah menahan pedih, Salam berlari menuju pantai. Dia menatap jauh-jauh kea rah batas cakrawala, tempat asal ombak datang bergulung-gulung menjilat bibir pantai. Gemuruh ombak seakan mewakili perasaannya yang berkecamuk menahan kecewa. Salam pungut batu-batu di dekat kakinya, lalu melemparkannya sejauh nungkin kea rah laut tempat dia membuang kepedihan.  Ada tiga buah batu yang dia pungut  dan melemparkannya ke tengah laut. Saat itu dari mulut Salam keluar sumpah,

"Aku tidak akan kembali ke Tanah Serawak sampai  timbul tiga buah batu yang kulempar ini timbul,"katanya.

Dengan sumpah itu, Salam ingin mengatakan kalau dirinya tidak mungkin kembali lagi ke Serawak dan ingin mengubur kehancuran cinta di tanah kelahirannya itu. Di Serawak, Salam dikenal sebagai seorang pemain biola yang andal. Gesekan biolanya sering membuat pendengarnya, termasuk gadis-gadis di kampungnya terpukau dan mengaguminya.

Bermodal keahliannya itu, Salam memberanikan diri bergabung dengan rombongan sandiwara asal Labuhandeli, Belawan yang waktu itu menggung di Serawak. Salam pun bertekad merantau ke Sumatera ikut bersama  rombongan sandiwara  yang pulang ke Labuhandeli.

/2/

Di Labuhandeli, Salam menjadi cepat dikenal oleh penggemar grup sandiwara yang menampungnya. Ia dikenal karena keahliannya bermain biola dan ciptaan lagu-lagunya. Karena kepiawaiannya itu Salam dijuluki penggemarnya sebagai Sang Pendekar  Biola. Ikut grup sandiwara, Salam lambat laun bisa melupakan kekecewaannya terhadap Rukiah yang menikah dengan Amran, saudara kandung Salam.

Saat pementasan di daerah Medan Labuhan, tak sengaja Salam  bertemu dengan salah seorang gadis cantik penggemarnya bernama Salmah. Sejak pertemuan di arena pertunjukan sandiwara itu hubungan Salam dan gadis kembang Medan Labuhan itu makin akrab sebagai sepasang kekasih.

Tapi kemesraan hubungan mereka tidak berlangsung lama. Di tengah hubungan Salam dan Salmah yang kian dekat, persoalan tidak terduga muncul mengusik hubungan mereka. Ayah Salmah seorang pedagang kain bernama H. Kasim  mengalami kebangkrutan hingga berhutang pada seorang saudagar keturunan India bernama Tambi. Orangtua Salmah tidak mampu membayar  hutangnya. Meski demikian Tambi tidak mau menagihnya lagi.

"Kalau memang  hutang Anda tidak bisa terbayar, apa mau dikata. Saya tidak akan menagihnya," katanya.

Kebaikan saudagar Tambi membuat H. Kasim merasa berhutang budi. Saat itulah terucap gagasan menjodohkan Salmah, anak gadis H Kasim  dengan Tambi.

“Untuk  mengikat erat persaudaraan bagaimana kalau Salmah saya kimpoikan dengan Tuan Tambi" kata H Kasim.

Tambi menerima tawaran perjodohan itu. Giliran H Kasim mengutarakan niatnya pada Salmah. Usai makan malam, keluarga H Kasim berkumpul.Saat itulah H Kasim buka suara di depan istri dan Salmah, putri tunggalnya.

“Wahai anakku, ayah berniat menjodohkanmu dengan Tambi. saudagar India relasi dagang ayah,”katanya.

Salmah tertunduk diam sesaat. Terbayang wajah Salam kekasih pujaan hatinya. Namun ia tak kuasa menentang kehendak orangtua. Ia tak ingin durhaka.

“Baiklah ayah, ananda menerima Tuan Tambi sebagai suami hamba bila itu memang terbaik menurut ayah,” jawab Salmah.

Salmah menemui Salam untuk menceritakan kabar duka cinta itu. Sudah bisa ditebak.  Mendapatkan kenyataan pahit itu, Salam kembali patah hati untuk kedua kalinya. 

***

Singkat cerita, Salmah dan Tambi menikah. Pernikahan dirayakan dengan pesta besar-besaran. Ribuan orang terdiri masyarakat biasa, pejabat dan saudagar hadir dalam pesta pernikahan agung itu. Untuk menghibur para tamu pesta, kelompok sandiwara dimana Salam bergabung sebagai penyanyi dan pemain bila turut diundang.

Sebagai seorang profesional, Salam menguatkan hatinya untuk tetap hadir menghibur tamu di pesta pernikahan mantan kekasihnya itu.  Meski sudah dikuat-kuatkan, di acara pesta itu untuk kedua kalinya pula Salam merasakan patah hati yang menyakitkan. Kalau dulu di Serawak ia menemukan kekasihnya Rukiah bersanding dengan abang kandungnya. Kini Salam menemukan fakta getir, kekasihnya Salmah bersanding dengan Tambi, saudagar kaya asal India. Ironisnya, di saat yang sama Salam harus tampil sempurna di atas panggung pesta bersama kelompok sandiwaranya guna menghibur para tamu.

Melampiaskan perasaan sedihnya, Salam memainkan biola sambil  menyanyikan sebuah lagu yang berjudul "Kaulah Mas Merahku". Lagu itu yang sering dinyanyikan Salam saat memadu kasih bersama Salmah.

Sayang Mas Merah jangan merajuk

Mari kemari abang nan bujuk

Kalau ada penawar yang sejuk

Racun kuminum haram tak mabuk

Sayang selasih dibawa dulang

Mekar satu di atas peti

Sayang kekasih Mas Merahku sayang

Biar Bang Salam membawa diri

Salam menyanyikannya dengan sepenuh jiwa, mewakili perasaannya yang gundah gulana hingga airmatanya mengalir.  Rupanya lagu itu sangat menyentuh hati Salmah yang sedang duduk bersanding dengan Tambi di pelaminan. Salmah dapat memahami kehancuran perasaan hati Salam kekasihnya yang kini menjadi tamu penghibur di pesta pernikahannya. Sementara hati Salam sendiri, begitu hancur namun dia berusaha tegar memainkan biola di atas panggung itu.

Mendengar bait-bait lagu dari suara merdu yang tidak asing ditelinganya itu, perasan Salmah terasa hanyut dalam kesedihan yang menyesak di dada. Salmah jatuh pingsan di pelaminan. Tamu undangan geger menyaksikan peristiwa itu, namun mereka tidak tahu Salmah pingsan berhubungan dengan lagu yang didendangkan Salam. Mereka tidak mengetahui bahwa Salmah adalah Mas Merah yang disebut Salam dalam  syair lagunya.

Diriwayatkan, setelah Salmah berumahtangga dengan Tambi Salam pergi merantau ke daerah Pangkalanberandan guna melupakan kenangan pahit cintanya. Salam meninggalkan grup sandiwara yang telah membawanya merantau ke Tanah Deli. Di Pangkalanberandan, Salam mengadu nasib dengan menjadi nelayan yang mencari ikan  di sekitar Pulau Kampai, Langkat. Dengan cara itulah ia berusaha melupakan kenangan cintanya bersama Salmah yang menikah dengan pria pilihan orangtuanya.

/3/

Hanya beberapa bulan setelah menikah, rumahtangga Tambi dan Salmah  goyah. Perkawinan pernikahan hasil perjodohan itu diambang krisis perceraian. Ternyata Salmah tidak menyukai Tambi dan mereka akhirnya  benar-benar bercerai.  

Salmah kembali pada orangtuanya H Kasim yang saat itu sudah tidak berdagang kain lagi karena bangkrut. Sekali peristiwa, H Kasim mendapat tawaran dari adik kandungnya bernama H. Makminias untuk membuka usaha perkebunan di Pulau Kampai yang saat itu masih hutan belukar dan terkenal angker. H Makminias pun menjemput H Kasim dan keluarganya termasuk Salmah di Medan Labuhan. Mereka berlayar menggunakan perahu menyusuri Selat Malaka menuju Pulau Kampai di Teluk Aru, Langkat.

Tidak disangka, saat perahu memasuki Teluk Aru mereka dirampok oleh komplotan penyamun yang dipimpin Pendekar Nayan. H Makminias dan abangnya H Kasim diikat di tiang layar. Sementara  Salmah dibawa ke markas para penyamun di hutan pesisir Pulau Kampai. Salmah pun meronta dan berteriak minta tolong.

“Tolong-tolong. Lepaskan aku, lepaskan aku!” teriak Salmah.

Salam bersama sahabatnya bernama Husein, yang saat itu sedang melaut mencari ikan di sekitar lokasi kejadian, mendengar dengan jelas jeritan seorang wanita yang membutuhkan pertolongan. Merasa iba dan penasaran Salam dan Husein berusaha mengarahkan sampan mereka ke arah suara wanita yang histeris minta pertolongan.

“Kita tolong wanita itu, tampaknya ia mengalami tindak kejahatan,”kata Salam kepada temannya Husein.

“Lebih baik urungkan saja niatmu Salam. Terlalu berbahaya bagi keselamatan kita. Ini daerah kekuasaan penyamun Pendekar Nayan yang terkenal amat kejam,” cegah Husein.

Salam tidak mempedulikan larangan Husein. Hati nuraninya tidak tega meninggalkan seorang wanita yang tidak berdaya dalam ancaman kekejaman penjahat.

Akhirnya Salam nekad mendatangi komplotan penyamun Pendekar Nayan. Alangkah terkejutnya Salam ketika mengetahui korbannya adalah Salmah, mantan kekasihnya. Semakin berdesir darahnya untuk menyelamatkan Salmah. Apalagi wanita itu dalam keadaan tak berdaya memohon pertolongan Salam.

Perkelahian Salam dan komplotan Pendekar Nayan tidak terelakkan. Salam memenangkan perkelahian itu. Pendekar Nayan dan anak buahnya berhasil ditumpas Salam. Akhirnya, Salmah berhasil diselamatkan Salam. Setelah menyelamatkan Salmah, mereka kemudian menyelamatkan H Makminias dan H Kasim yang terikat di tiang layar.

Pertemuan tidak terduga itu membuka kembali pintu cinta Salam dan Salmah yang sempat terkunci tradisi perjodohan orangtua Salmah. Apalagi Salmah telah menceritakan kisah pernikahannya dengan Tambi yang tak bahagia. H Kasim sadar kalau Salmah memang telah menemukan cinta sejatinya pada Salam. H Kasim pun diam-diam merestui hubungan Salam dan Salmah yang bersemi kembali.

/4/

Berkat pertolongan Salam, niat H Makminias dan H Kasim membuka lahan perkebunan di Pulau Kampai terwujud. Salmah ikut bersama orangtuanya tinggal di Pulau Kampai. Di pulau itu pula ia kembali menjalin kasih bersama Salam, pemuda idaman yang masih setia memainkan biola dan menyanyikan lagu “Kaulah Mas Merahku” untuknya.

 Sepulang melaut dan melelang ikan di Pulau Kampai, biasanya Salam memainkan biola dan mendendangkan lagu asmara. Rupanya tindak tanduk Salam ini mendapat perhatian dari seorang juragan ikan yang cukup dekat dengan Salam bernama Tu Awang  Muhammadin. Juragan penampung ikan baik hati itu juga mengetahui hubungan Salam dengan Salmah yang sudah serius.

 "Lam, kutengok hubunganmu dengan Salmah sudah serius. Mengapa kalian tidak menikah saja. Kalian berdua adalah pasangan yang pantas. Jangan pikirkan soal biaya, aku bersedia menanggung biaya pernikahan kalian,” kata Tu Awang.

Salam hanya diam. Dalam hatinya setuju dengan tawaran Tu Awang yang sudah seperti orangtuanya sendiri. Salam mengangguk dan memeluk Tu Awang tanda berterimakasih.

Berkat kebaikan hati Tu Awang, dua sejoli Salam dan Salmah pun menikah. Cita-cita mereka sejak lama membangun kehidupan berumah tangga akhirnya kesampaian juga. Pasangan bahagia ini menetap di Pulau Kampai. Sudah belasan tahun mereka menikah, namun belum juga dikaruniai anak. Namun mereka tetap menjadi pasangan yang setia. Kehidupan rumahtangganya tenteram dan bahagia. Mereka saling mencintai. Cinta yang sejati.

“Aku mencintaimu dengan hati, jiwa dan raga Salmah” kata Salam usai mendendangkan lagu diiringi gesekan biola di hadapan Salmah.

“Engkau belahan jiwaku kanda, aku tak dapat hidup tanpamu,” balas Salmah sambil memeluk lengan Salam menatap deburan ombak Pulau Kampai pada sebuah senja yang damai.

Sekali peristiwa, wabah cacar melanda Pulau Kampai. Pasangan suami isteri itu tidak luput dari serangan virus cacar yang pada masa itu belum ada obatnya. Sebuah referensi mencatat, peristiwa memilukan itu terjadi pada tahun 1920 tepatnya pada hari Jumat pukul 05.00 pagi. Salmah meninggal dunia direnggut penyakit cacar yang mematikan.  Satu jam kemudian Salam menyusul isterinya ke surge.  Sebelum meninggal Salam sempat berpesan kepada Husein, sahabatnya.

"Bila nanti Allah menjemputku, mohon kuburkan jasadku berdekatan dengan pusara istriku. Tanamlah bunga tanjung di atas nisan kuburan kami berdua,"katanya.

Tak lama setelah berwasiat itu, Salam meninggal.  Warga mengebumikan kedua sejoli itu dengan letak makam yang berdampingan sesuai wasiat almarhum. Makam keduanya ditanami bunga tanjung. Ada yang menafsirkan, bunga tanjung yang ditanam sebagai tamsil kisah  perjalanan cinta sejati Salam sang pendekar biola dari cinta pertamanya yang kandas dengan Rukiah di Serawak, Semenanjung Malaysia, pertemuan cinta keduanya dengan Salmah saat main sandiwara di Medan Labuhan yang juga sempat kandas dan takdir mempertemukan kembali Salam dengan Salmah di Pulau Kampai hingga akhir hayat.

***

Kisah cinta sejati sang pendekar biola Salan dam Salmah, konon pertama kali  diceritakan Husein kepada teman-temannya, dan cerita ini secara turun-temurun berkembang dari mulut ke mulut. Dari Kepala Desa Pulau Kampai Muhamad Buyung Amir dan beberapa sumber lainnya, penulis mendapat kisah cinta sejati Sang Pendekar Biola Salam dan Salmah ini. Makam keduanya masih bisa ditemukan di pemakaman umum tak jauh dari dermaga Pulau Kampai. Warga menandai makam mereka dengan nama makam Mas Merah. Terletak di belakang rumah penduduk, kuburan yang pernah dipugar mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Medan itu, masih dipelihara masyarakat karena memiliki kisah yang tidak terpisah dari sejarah Pulau Kampai. (*)