DAMPAK BURUK TRANSFUSI DARAH

dibaca 15090 pembaca

Transfusi darah adalah proses penyaluran darah kedalam tubuh. Darah yang didonorkan selayaknya harus sesuai  dan terhindar dari penyakit yang malah akan menjadi penyebab penyakit baru si penerima darah. Di Indonesia, kegiatan transfusi darah ini dikelola oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Melalui pendonor, kantong-kantong darah terkumpul dan mendistribusikannya kepada yang membutuhkan suplai darah, seperti Rumah Sakit.

 

Transfusi darah merupakan kegiatan yang memiliki niat baik untuk membantu penyelamatan nyawa dan pengobatan. Namun, tanpa proses pemeriksaan darah yang benar malah akan memberikan dampak yang tidak baik bagi penerima. Dampak buruk tersebut dapat berupa penyakit, antara lain:

1. Demam

Reaksi demam dapat terjadi secara cepat baik itu selama atau sesudah proses transfusi darah dilakukan. Memang ini tidak berbahaya atau efek yang mengancam jiwa tapi demam dapat menjadi gejala dari sejumlah reaksi serius. Jadi supaya berjaga-jaga, transfusi akan dihentikan dan dokter akan menyarankan pemeriksaan lebih lanjut.

 

2. Infeksi.

Sebelumnya pendonor selalu akan diperiksa lebih dulu untuk mengetahui apakah ia memiliki infeksi yang kiranya berpotensi ditularkan lewat darah ke orang lain. Meski begitu, tetap saja ada beberapa kasus lolosnya infeks dari pemeriksaan sehingga penyakit seperti di bawah ini mampu terjadi, antara lain:

  • HIV. Meski potensi besar penularan terjadi lewat suntikan penyalahgunaan obat-obatan, namun tak menutup kemungkinan HIV menular dengan mudah melalui suntikan medis, transfusi darah atau limbah medis. Karena salah satu cara penularan virus HIV AIDS merupakan kontak langsung antara darah dan darah yang sudah terkena infeksi HIV.
  • Hepatitis B dan C – Tidak hanya virus HIV, hepatitis pun merupakan penyakit paling umum yang bisa ditularkan secara mudah lewat transfusi darah.
  • Malaria

 

3. Kelebihan Zat Besi.

Dari beberapa kasus ditemukan bahwa salah satu bahaya dari transfusi darah adalah kelebihan zat besi. Tentu sebelum melakukan transfusi darah, harus benar-benar dicek kondisi darah di dalam tubuh karena kelebihan zat besi berpengaruh buruk terhadap organ jantung maupun hati.

 

4. Graft-versus-host Disease.

Dampak lain yang patut diwaspadai dari transfusi darah adalah GVHD atau Graft-versus-host Diseas. Kondisi ini dialami seseorang yang sistem daya tahan tubuhnya sangat rendah dan memperoleh sel darah putih dari darah yang ditransfusikan. Dari transfusi tersebut, sel-sel darah putih bisa menyerang jaringan tubuh si penerima darah. Hal seperti ini berpotensi lebih besar apabila darah berasal dari seseorang dengan jenis jaringan sama atau justru dari keluarga.

 

5. Alergi.

Alergi terjadi karena sistem daya tahan tubuh yang mengeluarkan reaksi terhadap protein maupun zat lain yang ada di dalam darah penerima transfusi darah. Reaksi alergi terjadi selama atau sesudah melakukan proses transfusi. Gejala dan ciri-ciri alergi umum pun kemungkinan akan langsung dirasakan, seperti misalnya kulit yang gatal-gatal dan disertai kemerahan maupun ruam yang memang menjadi tanda umum dari kondisi alergi. Cobalah untuk ke dokter dan memeriksakannya supaya cepat tertangani dengan benar.

 

6. Cedera Paru.

Transfusi darah pun dapat mengancam kesehatan paru-paru. Paru-paru dapat terancam mengalami kekurangan oksigen apabila peradangan yang terjadi tergolong serius sehingga penderita pun akan menjadi lebih sulit untuk bernapas.

 

7. Kelebihan Cairan.

Transfusi darah pun menjadi tindakan medis yang mampu memicu kelebihan cairan di dalam tubuh penerima darah. Kondisi seperti ini bakal menjadi penyebab jantung tak lagi mampu secara maksimal memompa darah ke seluruh tubuh. Paru-paru yang dipenuhi cairan akan menyebabkan penderitanya sesak napas. Resiko seperti ini lebih banyak terjadi pada lansia yang mempunyai riwayat penyakit jantung.

 

8. Kontaminasi Bakteri.

Kasus terkontaminasi bakteri ketika transfusi darah memang jarang terjadi. Namun trombosit adalah komponen darah yang berisiko paling besar terkontaminasi bakteri. Itulah mengapa, penyimpanan trombosit harus sangat ekstra, yaitu di suhu kamar mengingat pertumbuhan bakteri terjadi begitu pesat.

 

Itulah sejumlah dampak buruk transfusi darah untuk diwaspadai. Jika setelah melakukan transfusi darah Anda merasa tubuh mengalami perubahan kondisi, segera hubungi dokter. Transfusi darah juga paling baik dilakukan di rumah sakit, jadi hati-hati dengan darah yang tidak sesuai prosedur.