TISU, SALAH SATU SUMBER SAMPAH

dibaca 205 pembaca

Sampah sudah menjadi bagian dari hidup manusia hingga mengancam lingkungan dan makhluk hidup. Bahkan beberapa waktu lalu ditemukan seekor paus mati di Wakatobi dengan 5,9 kg sampah di dalam tubuhnya. Sampah sendiri merupakan sisa penggunaan bahan dari aktivitas kita. Mulai dari sampah plastik, sampah kertas, dan lain sebagainya. Kandungan dalam sampah pun beragam hingga yang membahayakan. Salah satu penyebab sampah yang mudah ditemukan dalam keseharian dan mendapatkannya adalah tisu.

 

Tisu adalah salah satu produk hasil ekstraktif hutan. Seperti kertas, tisu dibuat dari bubur kertas (pulp) berbahan baku serat kayu. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh WWF-Indonesia bekerjasama dengan creative agency Hakuhudo, seperti yang dilansir dari http://ditjenppi.menlhk.go.id, masyarakat Indonesia yang hidup di kota besar mempunyai kebiasaan untuk menghabiskan tiga lembar tisu untuk mengeringkan tangan. Sedangkan secara global, WWF memperkirakan bahwa setiap hari, sekitar 270.000 pohon yang ditebang berakhir di tempat sampah. Dan 10% dari jumlah itu berasal dari tisu toilet. Bisa dibayangkan, berapa banyak pohon yang harus ditebang setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap tisu.

 

Tisu memang sudah menjadi bagian penting dalam kebutuhan manusia. Fungsi utama tisu adalah membantu membersihkan selain menggunakan air. Bahkan tisu juga digunakan setelah pemakaian air. Sisa penggunaan tisu menjadi sampah yang banyak ditemukan, terutama di perkotaan.  Apalagi makin meningkatnya penggunaan tisu, baik basah dan kering, akan sangat mempengaruhi volume sampah.

 

Sampah tisu termasuk dalam sampah anorganik, artinya sampah yang tidak mudah membusuk. Berbeda dengan sampah organik, seperti halnya sisa makanan atau sayuran yang mudah terurai secara alami, sampah anorganik harus melalui proses khusus untuk dapat memanfaatkan menjadi produk lainnya. Hampir sama seperti kertas, tisu juga memberikan sumbangannya dalam volume sampah. Tentu saja itu berkaitan dengan jumlah penggunaannya. Tumpukan sisa-sisa tisu yang tidak dapat terurai secara alami, dapat menjadi berakibat seperti sampah anorganik lain pada umumnya. Selain menyebabkan kotor, penyakit, hingga banjir.

 

Sebagai sampah, tisu memang tidak terlihat seperti sampah plastik. Namun peningkatan penggunaan tisu yang semakin tinggi, tentu meningkatkan jumlah sampah itu sendiri. Jika jumlah dan penanganan penggunaan tisu ini tidak menjadi perhatian, tentu akan menjadi penyebab pengrusakan lingkungan baik dari sumber maupun dampaknya.