Peningkatan Penanaman Modal Daerah

dibaca 1390 pembaca

Sebagaimana diketahui, setelah masa krisis ekonomi pada akhir tahun 1997, iklim penanaman modal (Investasi) dikota Medan secara berangsur-angsur mulai menunjukkan pertumbuhan yang cukup berarti. Hal ini tidak saja didukung oleh letak geografis dan potensi demografis Kota Medan yang cukup strategis tetapi juga didukung juga oleh kebijakan-kebijakan yang bersahabat dengan pasar, sehingga menciptakan iklim dan lingkungan penanaman modal yang semakin kondusif dari waktu ke waktu.

Langkah-langkah proaktif dan inovasi yang ditempuh, dengan mengembangkan kemitraan strategic diantara sesama pelaku usaha dengan Pemerintah Kota, kenyataanya secara signifikan mampu menumbuhkan minat berinvestasi para pemilik modal untuk menanamkan modalnya di Kota Medan, diberbagai bidang lapangan usaha potensial. Hal ini juga tidak terlepas dari persepsi yang sama dari seluruh Stakeholders, tentang perlunya menarik investasi lebih besar untuk menggerakkan roda perekonomian dalam volume yang lebih besar di Kota Medan, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja lebih banyak, sekaligus memperbaiki tingkat pendapatan masyarakat.

Perkembangan positif penanaman modal sampai tahun 2004 dapat dilihat dari perkiraan investasi di berbagai sektor lapangan usaha, baik yang berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA), disamping sektor Pemerintah dan Rumah Tangga. 

PERMASALAHAN

Investasi Dikota Medan pada tahun 2000 sebesar Rp. 2,7 Trilyun, tahun 2001 sebesar Rp. 3,3 Trilyun, tahun 2002 sebesar Rp. 3,0 Trilyun, tahun 2003 sebesar Rp. 4,0 Trilyun, tahun 2004 sebesar Rp. 4,4 Trilyun. Total perkiraan investasi yang masuk ke Kota Medan dari berbagai lapangan usaha selama tahun 2000 – 2004 cendrung cukup masif. Lapangan usaha utama yang menjadi tujuan utama berinvestasi adalah sektor perdagangan, listrik, gas dan air, bangunan, industri dan angkutan.

Berbagai variabel penting yang cukup berpengaruh terhadap minat berinvestasi di Kota Medan adalah kondisi keamanan dan ketertiban umum serta stabilitas politik, harga berbagai faktor produksi, suku bunga dan lain-lain.

Permasalahan utama yang timbul dalam bidang investasi adalah persepsi tentang lama dan panjangnya prosedur perijinan investasi kondisi ini tidak saja berlaku di daerah, tetapi juga ditingkat nasional. Prosedur yang panjang dan berbelit tidak hanya mengakibatkan ekonomi biaya tinggi, tetapi juga menghilangkan peluang usaha yang seharusnya dapat dimanfaatkan, baik untuk kepentingan perusahaan maupun kepentingan daerah, seperti dalam bentuk penciptaan lapangan kerja.

Kurangnya promosi investasi (penanaman modal) baik dalam konteks regional, nasional dan internasional, juga menjadi salah satu permasalahan dalam pengembangan investasi di Kota Medan.

Masalah lain yang timbul berkenan dalam iklim investasi ini adalah persepsi rendahnya kepastian hukum, juga tercermin dari banyaknya tumpang tindih kebijakan antar pusat dan daerah dan antar sektor. Belum mantapnya pelaksanaan program desentralisasi mengakibatkan kesimpang siuran wewenang antara pemerintah pusat dan daerah dalam kebijakan investasi. Disamping itu juga terdapat keragaman yang berasal dari kebijakan investasi antar daerah. Kesemuanya ini mengakibatkan ketidak jelasan kebijakan investasi nasional, yang pada gilirannya akan menurunkan minat investasi. Disisi lain penerapan peraturan daerah (PERDA) lebih didorong oleh keinginan untuk menaikkan PAD secara berlebihan, yang dikuatirkan dapat merugikan pembangunan kota,

Kurang menggairahkan iklim investasi, juga disebabkan oleh keterbatasan daya saing produksi (Supply Side) dan kapasitas dari sistem dan jaringan infrastruktur. Keterbatasan kapasitas infrastruktur, berpengaruh pada peningkatan biaya distribusi, yang pada gilirannya justru memperburuk daya saing produk-produk yang dihasilkan.

SASARAN

Sasaran yang ingin dicapai dari peningkatan investasi di kota medan adalah terwujudnya iklim investasi yang sehat dengan reformasi kelembagaan ekonomi di berbagai tingkatan pemerintah, yang mampu mengurangi praktik ekonomi tinggi. Sasaran khusus yang ingin di capai mencakup:

  • Jumlah investasi rata-rata sebesar Rp. 10,95 Triliyun pertahun sampai tahun 2010;
  • Terwujudnya kota medan sebagai tujuan investasi yang kondusif dan menguntungkan;
  • Terwujudnya pelayanan perizinan investasi yang baik, mudah, cepat dan transparan terhadap para investor , baik dari dalam negeri maupun luar negeri;
  • Terwujudnya kepastian hukum, insentif berinvestasi serta sistem pelayanan satu atap dibidang investasi di Kota Medan.
ARAH KEBIJAKAN

Dalam rangka mewujudkan sasaran diatas, arah kebijakan bagi menciptakan iklim investasi yang sehat sebagai berikut :

  • Mewujud kan Citra Good Governance dalam bidang investasi dan lingkungan bisnis;
  • Memberikan pelayanan yang baik, mudah, sederhana, cepat dan transparan dalam perizinan investasi;
  • Membangun sitem informasi dan promosi investasi yang efektif, dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan promosi bersekala luas dalam upaya menarik minat investor;
  • Meningkatkan koordinasi dan kerjasama promosi investasi antarah tingkatan pemerintah, antara pemerintah dengan dunia usaha dan masyarakat;
  • Mewujudkan iklim penanaman modal yang kondusif, khususnya melalui peningkatan penyediaan infrastruktur ekonomi yang meningkatkan efisiensi berusaha bagi investor, disamping jaminan kepastian berusaha.

Sumber Informasi :
Buku Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RJPM)
Tahun 2006-2010 Pemko Medan