IZIN OPTIK

dibaca 2167 pembaca

  1. Dasar Hukum
    1. Peraturan Menteri Kesehatan No. 1424 /MENKES/SK/XI/2002 tentang Pedoman penyelenggaraan Optikal.
    2. Peraturan Daerah Kota Medan No. 15 Tahun 2002 tentang Retribusi Pelayanan Dan Perijinan di Bidang Kesehatan.
    3. Peraturan Walikota Medan No. 7 Tahun 2010 tentang Pengdelegasian Sebagian Kewenangan Proses dan Penandatanganan Perijinan kepada Kepala Badan Perijinan Terpadu Kota Medan.

  2. Pengertian
    1. Optikal adalah sarana kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan pemeriksaan mata dasar, pemeriksaan refraksi serta pelayanan kacamata koreksi dan/atau lensa kontak;
    2. Laboratorium optik adalah tempat yang khusus melakukan pembuatan lensa koreksi dan/atau pemasangan lensa pada bingkai kacamata, sesuai dengan ukuran yang ditentukan dalam resep;

  3. Persyaratan (Berdasarkan Kep.Men.Kes No.1424/MENKES/SK/XI/2002)
    1. Foto copy KTP pemilik atau penanggung jawab.
    2. Pas photo pemilik atau penanggung jawab ukuran 3 x 4 cm, berwarna 3 (tiga) lembar.
    3. Foto copy Surat Ijin Gangguan (HO) yang dilegalisir.
    4. Bagi Perusahaan yang berbentuk PT. melampirkan Foto copy akte pendirian dan perubahan beserta foto copy pengesahan dari Menteri Hukum dan HAM yang dilegalisir.
    5. Bagi perusahaan berbentuk CV. dan Fa. melampirkan foto copy akte pendirian dan perubahan yang telah didaftarkan di Pengadilan Negeri yang dilegalisir.
    6. Bagi Badan Usaha yang berbentuk Koperasi melampirkan Foto copy akte pendirian dan perubahan beserta foto copy pengesahan dari Dinas Koperasi setempat atas nama Menteri yang dilegalisir.
    7. Surat Pernyataan dari refraksionis optision/optisi bersedia untuk menjadi penanggung jawab pada optikal/laboratorium optik yang akan didirikan bermaterai secukupnya, dilengkapi dengan :
      1. Foto copy surat perjanjian pemilik sarana dengan refraksionis optisien/optisi yang dilegalisir.
      2. Asli surat keterangan domisili dari lurah tempat tinggal refraksionis optision/optisi.
      3. Foto copy KTP refraksionis optisien/optisi.
      4. Foto copy surat ijin kerja optisi yang dilegalisir.
      5. Surat keterangan sehat dari dokter.
      6. Pas photo ukuran 4 x 6 cm, berwarna 3 (tiga) lembar.
    8. Surat pernyataan kerjasama dari laboratorium optik tempat pemrosesan lensa-lensa pesanan, bila optikal tidak memiliki laboratorium sendiri.
    9. Daftar sarana dan peralatan yang digunakan.
    10. Daftar pegawai serta tugas dan fungsinya.
    11. Peta lokasi sebagai penunjuk wilayah tempat domisili optikal/laboratorium optik.
    12. Denah ruangan dibuat dengan skala 1 : 100.
    13. Surat keterangan dari Organisasi Profesi setempat yang menyatakan bahwa refraksionis optisien/optisi yang diajukan hanya menjadi penanggung jawab dari optikal yang mengajukan ijin tersebut, dan diketahui oleh Asosiasi Pengusaha Optikal setempat.
    14. Khusus untuk permohonan registrasi ulang dan atau perubahan melampirkan asli Ijin Optik.

  4. Pedoman Pemrosesan Ijin
    1. Persyaratan Ruangan
      1. Tersedia ruangan kerja/pemeriksaan bagi refraksionos optisien/optisi yang memenuhi syarat-syarat kesehatan dengan luas sekurang-kurangnya 3 (tiga) meter x 3 (tiga) meter atau 9 (sembilan) meter persegi.
      2. Ruang pemeriksaan/penyetelan kacamata dengan luas sekurang - kurangnya 1 (satu) meter x 3 (tiga) meter persegi.
      3. Ruang pemasangan (fitting) lensa kontak dengan luas sekurang - kurangnya 1 (satu) meter x 2 (dua) meter persegi.
      4. Ruang tunggu pasien dan tempat peraga kacamata/lensa dengan luas sekurang - kurangnya 2 (dua) meter x 2 (dua) meter atau 4 (empat) meter persegi, serta harus tersedia peralatan mebel dan lemari untuk paraga aneka jenis kacamata dan lensa kacamata secukupnya.
      5. Untuk laboratorium optik (baik sebagai bagian dari optikal ataupun yang berdiri sendiri) harus memiliki ruangan dengan luas sekurang - kurangnya 2 (dua) x 3 (tiga) meter atau 6 (enam) meter persegi.

    2. Persyaratan Peralatan
      1. Untuk pemeriksaan mata dasar :
        1. Sebuah lampu senter;
        2. Sebuah lup untuk memeriksa segmen depan mata;
        3. Sebuah oftalmoskop direk untuk memeriksa adanya kelainan organik pada mata;
        4. Kertas schirmer untuk mengukur jumlah produksi airmata;
        5. Sebuah tonometer Schiotz untuk mengukur tekanan bolamata;
        6. Midriatka dan sikloplegik secukupnya;
        7. Satu buku Ishihara - kanehara untuk memeriksa penglihatan warna (color blind test);
        8. Sebuah kisi-kisi Amsler;
        9. Sebuah cakram plasido penilai kontur kornea;
        10. Sebuah optotip pengukur luas lapang pandang.

      2. Untuk memeriksa refraksi :
        1. Satu lembar optotip Snellen yang dilengkapi clock dial dan garis duokrom;
        2. Satu lembar kartu tes baca;
        3. Sebuah bingkai ujicoba dan 1 (satu) set lensa ujicoba yang dilengkapi denga prisma, batang maddox (maddox rod), pinhol, lensa penapis warna, lensa polaroid, lensa silindir silang (cross cylinder) dan pengukur jarak pupil mata (SD-meter);
        4. Sebuah strik retinoskop untuk melakukan pemeriksaan refreksi obyektif;
        5. Sebuah lensometer untuk mengukur kekuatan/dioptri lensa, prisma, aksis dan menentukan pusat optik lensa kacamata;
        6. Sebuah sferometer pengukur basis kurva lensa;
        7. Sebuah pengukur ketebelan lensa (thickness gauge);
        8. Lemari penyimpanan kartu rekam medik.

      3. Untuk pemeriksaan binokuler :
        1. Satu unit foropter;
        2. Sebuah kartu baca Snellen dengan cross grid;
        3. Sebuah bar prisma;
        4. Sebuah skala tangen Maddox;
        5. Sebuah Maddox Wing;
        6. Sebuah kotak peraga Worth Four Dot;
        7. Sebuah optoprox pengukur foria dekat;
        8. Satu unit disparometer Mallet;
        9. Atau satu unit proyektor yang dilengkapi dengan fungsi pada butir d sampai h.

      4. Untuk pemasangan lensa kontak :
        1. Sebuah slit-lamp untuk mengetahui adanya kelainan pada kornea akibat lensakontak;
        2. Sebuah keratometer untuk mengukur daya refraksi/kelengkungan kornea;
        3. Satu set lensakontak ujicoba (lunak dan lalu gas/gas permeable);
        4. Larutan dan obat perawatan lensakontak secukupnya;
        5. Mangkuk dan tabung pencuci lensakontak;
        6. Satu buah cermin cembung dan datar (bolak-balik);
        7. Sebuah bak cuci tangan atau wastafel dan handuk bersih;
        8. Satu buah lemari penyimpan peralatan, larutan dan stok lensakontak.

    3. Persyaratan Laboratorium
    4. Pada laboratorium optik baik sebagai bagian dari optikal maupun yang berdiri sendiri, minimal harus tersedia :
      1. Satu unit mesin gosok lensa sferis;
      2. Satu unit mesin gosok lensa silindris;
      3. Satu set mal pengukur tuls penggosok lensa (gauge meter);
      4. Satu set tuls penggosok lensa;
      5. Pasir abrasif secukupnya;
      6. Satu buah tang pemotong lensa;
      7. Lembaran patron (pattern sheet) pembuat mal bingkai secukupnya;
      8. Satu unit alat sentrasi penggenggam lensa (lens blocker);
      9. Satu buah mesin laset lensa;
      10. Satu set peralatan (obeng dan tang) untuk memasang lensa, menyetel dan mereparasi bingkai kacamata;
      11. Satu buah alat pemanas bingkai kacamata;
      12. Satu unit lensometer;
      13. Satu buah lemari penyimpanan peralatan dan stok bahan lensa.


  5. Tarif Retribusi (Berdasarkan Perda No. 15 Tahun 2002 Pasal 20 butir C)
    1. Tarif Retribusi ijin sebesar Rp 200.000,- (Dua Ratus Ribu Rupiah).
    2. Tarif Retribusi registrasi ulang setiap 1 (satu) tahun sekali sebesar Rp. 50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah).
    3. Setiap perubahan ijin optik dikenakan retribusi sebesar 75 % dari tarif retribusi ijin baru.


  6. Masa Berlaku Ijin
    1. Jangka waktu berlakunya ijin selama 5 (lima) tahun.
    2. Setiap tahun pemegang ijin wajib melakukan regestrasi ulang.


  7. Waktu Pemrosesan/Penerbitan Ijin
  8. Waktu penyelesaian pemrosesan ijin selambat-lambatnya 7 hari kerja sejak permohonan diterima. 


  9. Blanko Formulir Permohonan
  10. Cetak Formulir Permohonan     (mohon dicetak timbal balik)