RIWAYAT KUIL BUDI KIRTI

dibaca 61 pembaca

RIWAYAT KUIL BUDI KIRTI

Diceritakan kembali oleh :

Nasib TS

 

Embun masih membasahi daun, ketika para buruh perkebunan (koeli kontrak) zaman Belanda penghuni barak kerja dibangunkan oleh  mandor besar berbadan kekar tinggi besar berhidung mancung dan berkumis melintang yang selalu disapa dengan sebutan Tuan Besar yang merupakan orang Belanda. Ribuan kuli yang berasal dari berbagai etnis, pagi itu dibariskan di halaman sebuah bangsal. Mereka dilengkapi dengan peralatan kerja seperti cangkul, parang babat dan lainnya. Para kuli diterjunkan ke ladang untuk membabat hutan.

Hari itu jadwal mereka untuk membabat hutan di sebuah lahan yang belum mereka ketahui namanya.  Sebagai gambaran kawasan lahan tersebut merupakan hutan tropis dengan tetumbuhan pohon keras, belukar dan sebagian rawa-rawa. Ada tanaman khas di rawa-rawa yang akan mereka buka menjadi lahan perkebunan tembakau. Di daerah rawa-rawa itu banyak ditumbuhi pohon  bakung sejenis nama tumbuhan rawa.  Tanaman ini mirip pohon pandan dengan ciri daun berwarna hijau yang bentuknya panjang.  Karena banyaknya tanaman pohon bakung yang tumbuh di rawa-rwa itulah, para koeli kontrak perkebunan mengenal daerah itu dengan sebutan kawasan Paya Bakung. Paya berarti rawa-rawa dan bakung adalah tumbuhan pohon bakung.  Dalam terjemahan bebas, paya bakung berarti rawa tempat tumbuhnya pohon bakung.

Di tengah kesibukan para koeli kontrak membabat hutan rawa untuk pembukaan perkebunan, ada satu kisah penting yang tidak terlepas dengan sejarah Payabakung. Saat itu matahari baru terbagun dari peraduan membuka selimut fajar di ufuk Timur. Cahayanya menembus pori-pori menghangatkan tubuh mengalirkan peluh. Para kuli kontrak membabat hutan belukar dengan begitu bersemangat.  Mereka mengayunkan parang babat pada sebuah rerimbunan belukar pohon bakung. Berkelebat-kelebat bayangan parang babat yang berputar-putar bagai baling-baling baja yang sangat tajam membabat tandas semak belukar. 

Selagi asyik-asyiknya para koeli yang sebagian besar koelia dari Cina mengayunkan parang babat, mata parang babat salah seorang koeli mengantam sesuatu benda keras layaknya membentur batu hingga mengeluarkan bunyi yang sangat keras.

“Crang!”

Koeli itu berhenti membabat. Ia memeriksa mata parang babatnya yang ternyata sedikit penyok akibat benturan benda keras didalam semak tadi. Pemuda itu penasaran kemudian menyibak semak-semak yang di dalamnya seperti ada bebatuan besar atau benda keras lainnya. Dibantu beberapa kuli lainnya, ia membersihkan semak-semak itu.  Akhirnya, mereka menemukan sesuatu benda mirip nisan besar atau tepatnya sebuah bangunan kecil yang terbuat dari tembok yang sangat keras.

Para koeli kontrak itu semakin penasaran. Mereka semakin bersemangat membersihkan sekeliling bangunan yang tertutup lumut dan sampah dedaunan tumbuhan bakung. Perlu diketahui , kawasan yang akan dibuka lahan perkebunan itu merupakan kawasan dengan karakteristik tanah yang basah dan beberapa area di  sekitarnya banyak rawa-rawa pohon bakung.

Setelah sekeliling bangunan dibersihkan, mulai terlihat bentuk bangunan dengan luas sekitar dua kali tiga meter dan tinggi sekitar dua setengah meter. Potongan atapnya melengkung  seperti bangunan khas  berarsitektur Tiongkok. Sempat ada yang menduga bangunan itu merupakan candi mini peninggalan zaman kuno.

Setelah diperhatikan dengan seksama dan ditemukannya ada altar serta patung dewa, barulah para koeli kontrak yang mayoritas migran dari Daratan Tiongkok itu menyadiri jika bangunan yang mereka temukan adalah kuil tempat peribadatan kaum Kong Hu Cu.

“Ya ini bangunan kuil,” kata mereka.

Temuan itu dilaporkan ke mandor besar dan sesama kuli lainnya yang semakin giat membersihkan bangunan itu. Setelah bangunan benar-benar bersih,  dapat dipastikan bangunan yang mereka temukan adalah sebuah kuil.

Menurut keterangan dan dokumen yang tersedia, ketika ditemukaan kuil memang berukuran kecil dan belum semegah sekarang. Untuk mengetahui ukuran asli kuil dapat dibandingkan dengan dua keping pintu gerbang vihara asli yang masih terpasang di teras depan sebagai bagian bangunan bersejarah yang masih tersisa. Ukuran masing-masing kepingan pintu gerbang, lebar setengah meter dan tinggi 175 meter. Selain kepingan pintu gerbang,  tiga patung dewa berukuran setinggi kira-kira 40 cm merupakan benda yang menjadi bagian penting peninggalan kuil bersejarah itu. Kuil itu yang sekarang kita kenal dengan sebutan Kuil Budi Kirti Kuan Tie Bio  yang diyakini sebagai salah satu kuil tertua di Sumatera Utara. Kuil yang menurut keterangan dibangun pada pertengahan abad 18 itu juga sekaligus menandai kehadiran etnis Tionghoa di tanah Sumatera Utara. Namun sampai saat ini belum ada keterangan yang merujuk hasil penelitian untuk menyimpulkan kapan pertama kali kuil dibangun.

Kuil dimaksud sekarang ini bisa ditemukan di Dusun XV Pondok Seng Desa Payabakung Sunggal Deliserdang. Sebuah keterangan menyebut, rumah ibadah bagi penganut agama Kong Hu Cu itu dibangun pada tahun 1861 dan telah mengalami dua kali renovasi, yakni pada tahun 1922 dan tahun 2011. Setelah direnovasi, kuil yang sebelumnya hanya tempat beribadatan kecil, kini memiliki luas kurang lebih 480 meter dengan panjang 24 meter dan lebar 20 meter  dengan arsitektur penuh dengan ornamen khas negeri Tiongkok yang didominasi warna kuning dan merah serta tak ketinggalan salah satu ornamen utama lain yang pada umumnya ada dalam satu vihara atau lazim disebut kelenteng yakni patung naga. Menurut keyakinan penganutnya, warna pada arsitektur kuil mempunyai makna simbolik, bahkan warna tertentu pada umumnya diberikan pada elemen spesifik bangunan. Tak heran, jika warna merah dan kuning keemasan paling banyak dipakai dalam dekorasi interior arsitektur Tionghoa.

 Bagi etnis Tionghoa, merah menyimbolkan warna api dan darah, yang dihubungkan dengan kemakmuran dan keberuntungan. Selain itu, juga menjadi simbol kebajikan, kebenaran dan ketulusan. Sementara warna cerah lainnya, yaitu warna kuning keemasan merupakan simbol dari pada keagungan.

Arsitektur kelenteng ini didominasi sejumlah patung ataupun ornamen ular naga,. Sepasang diantaranya terdapat di  atas atap  Kuil Budi Kirti, dua di depan pagar serta beberapa lagi di pagar samping kelenteng yang berdiri di hamparan tanah perkebunan milik pemerintah itu. Konon, ular naga bagi leluhur etnis Tionghoa memiliki nilai yang amat sakral.

 Sebagaimana umumnya bangunan kelenteng atau kuil, secara fisik Budi Kirti Kuan Tie Bio juga terdiri dari empat bagian. Yaitu: Halaman Depan, Ruang Suci Utama, Bangunan Samping dan Bangunan Tambahan untuk menunjang peribadatan dan aktivitas yang diselenggarakan pengurus kuil.

 Pada pagar utama terdapat dua gapura di kiri dan kanan dengan hiasan sepasang patung ular naga pada tiang gapura, sementara halaman depan yang juga digunakan untuk upacara keagamaan itu seluruhnya dilapisi dengan ubin. Sementara atap pada halamannya di bergelantungan lampion-lampion yang indah dan menambah kuatnya arsitektur Tiongkok pada salah satu kelenteng tertua di Tanah Deli itu.

 Paling depan di halaman kuil terdapat altar yang berfungsi sebagai tempat pembakaran Dewa Langit atau Dewa Thien Gong yang dilengkapi dengan meja untuk meletakkan kertas sembahyang dan berbagai peralatan sembahyang lainnya seperti tempat untuk meletakkan dupa. Selain itu, pada sisi kiri dan kanan meja altar diletakkan wahana untuk meletakkan lilin sembahyang.

 Sebelah kanan halaman depan Kwan Tie Bio berdiri menjulang bangunan Pagoda yang berfungsi sebagai wahana untuk pembakaran kertas sembahyang, sementara sebelah kiri halaman depan terdapat patung Dewa Empat Muka.

 Tak jauh dari berdirinya Pagoda, terdapat rumah datuk yang biasa digunakan para penganut agama Khong Hu Cu untuk melakukan sembahyang datuk. Sembahyang Datuk ini merupakan penghormatan orang Tionghoa terhadap Datuk sebagai penguasa di tanah Sumatera Utara.

 Perlu dimaklumi bahwa tata cara peribadahan di kelenteng memang tidak dilakukan bersama-sama pada waktu tertentu. Cara peribadahan di kelenteng dilakukan secara pribadi, sehingga di dalam kelenteng tidak terdapat ruang yang luas untuk menampung umat.

Kuil ini pada bagian depannya memiliki empat pilar yang aksennya begitu kokoh dan megah dengan hiasan relief ular naga pada tiap pilar. Selain itu, di depan pilar utama itu juga ada dua patung Singa yang menambah kesan megah.

Sementara di atas dua pilar utama terdepan, terletak Dewa Thein Gong dalam satu wahana yang di tengahnya diberi kaca. Saat hendak memasuki pintu utama yang terdiri dari dua daun kayu yang kokoh terdapat dua gambar Dewa Penjaga Pintu yang ditempatkan di kiri kanan pintu utama.

 Begitu masuk ke ruang utama kuil terdapat foto Panglima Perang Kwan Kong yang berdiri tegap. Ukuran besar dan kecilnya ruang suci utama ini berbeda pada setiap kelenteng. Tapi pada umumnya berbentuk segi empat. Dengan kata lain, besar kecil ruang suci utama ini sangat bervariasi dari satu kelenteng dengan kelenteng lainnya.

 Tiba di ruang utama peribadatan ini, terdapat patung Dewa Ma Ciang Jin pada sebelah kiri ruang utama dan Patung Dewa Cia Cing Jin pada sebelah kanan ruang utama yang merupakan wakil dari Dewa Kwan Kong.

Ci Ciang Jin sendiri merupakan Dewa Bendera, sedang Ma Ciang Jin merupakan Dewa Kuda. Kedua dewa itu memiliki peranan penting, terutama dalam keadaan perang maupun urusan lainnya dalam mewakili Dewa Kwan Gong.

 Di tengah-tengah antara kedua dewa itu terletak altar dengan tiga patung Buddha serta meja dengan berbagai peralatan untuk melaksanakan sembahyang. Tiga dewa tersebut adalah Dewa Shi Jia Mou Ni Fo, Dewa A Mi Tuo Fo dan Dewa Yao Shi Fo.

Menurut catatan, dulu ketika Khong Hu Cu belum diakui sebagai oleh negara, agama Khong Hu Cu berada di bawah pembinaan Wali Umat Buddha Indonesia sehingga patung Buddha harus ada di dalam kelenteng. Baru setelah zaman Presiden Gusdur Khong Hu Cu diakui sebagai agama.

Saat para kuli kontrak menemukan kuil Kuan Tie Bio pertama kali, saat itu Belanda memberi kebebasan para kuli yang didatangkan dari berbagai kawasan di Asia untuk melakukan ibadah sesuai keyakinan masing-masing sehingga vihara tertua di Sumatera Utara itu terpelihara dengan baik sampai sekarang.

Demikianlah cikal bakal ditemukannya vihara tertua di Sumatera Utara,  vihara Budi Kirti Kwan Tie Bio yang erat kaitannya dengan kisah penamaan kawasan Desa Payabakung.  Payabakung, desa yang menjadi lokasi berdirinya bangunan bersejarah vihara Kuan Tie Bio, merupakan bagian dari tigaratusan  desa di Deliserdang. Secara administratif masuk wilayah Kecamatan Hamparan Perak, di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sumber Melati Diski Kecamatan Sunggal dan sebelah utara berbatasan dengan Desa Bulu Cina Kecamatan Hamparan Perak. Menuju desa ini dapat ditempuh dengan akses melalui Kota Medan menuju Binjai lewat Jalan Gatot Subroto. Di kilometer 16 lewat kompleks Perumahan Padang Hijau di sebelah kanan ada Jalan Paya Bakung. Dari jalan itu masuk sekitar dua kilometer kita sudah masuk ke wilayah Desa Payabakung.

Pada 2015, Desa Payabakung berpenduduk 2.347 KK terdiri penduduk laki-laki 4.647 laki-laki dan 4.089 penduduk perempuan. Mata pencaharian penduduk mayoritas petani (1.620 jiwa) disusul buruh tani (1.829 jiwa) kemudian karyawan BUMN 407 jiwa dan karyawan pabrik 402 jiwa, penduduk lainnya bermata pencaharian sebagai pedagang, penarik becak, tukang batu dan lainnya. Komposisi penduduk menurut keyakinan agama yang dianut terdiri Islam (8.653 jiwa) Khatolik (90 jiwa) Protestan (17 jiwa) Budha (69 jiwa) dan Hindu (7 jiwa). Sarana pendukung ibadah terdiri mesjid (7) mushola (17) gereja (1) dan vihara (1). Desa Payabakung terdiri 16 dusun dan memiliki luas 1.542, 5 hektar, terdiri tanah kering/pemukiman (127,5 hektar) sawah tadah hujan (390,5 hektar) sawah irigasi (5 hektar) perkebunan (1.000 hektar) rawa-rawa (3,5 hektar) tanah wakaf (2,5 hektar) bangunan desa (1,5 hektar) dan tanah lapang (2 hektar).

Desa Payabakung terhubung dengan akses jalan menuju desa-desa pesisir Deliserdang. Desa ini dibelah oleh jalan yang menghubungkan ke Desa Bulu Cina, Kelumpang  dan Hamparan Perak. Terkait dengan peninggalan bersejarah vihara Kuan Tie Bio, ada dugaan sementara kawasan Payabakung tidak terlepas dari sejarah gelombang kedatangan Tionghoa di Sumatera sebagaimana dibuktikan dengan temuan situs Kota Cina di Labuhandeli.

Sebagaimana dimaklumi temuan situs Kota Cina mendukung studi tentang kehadiran warga asal Tiongkok yang bermukim di pesisir Labuhandeli dan Hamparan Perak sekitarnya sejak abad 17 sebagai pedagang. Temuan-temuan peninggalan bersejarah seperti Situs Kota Cina, vihara Kuan Tie Bio maupun kawasan pecinan (pemukiman Tionghoa) kelak akan menjelaskan bagaimana perjalanan Tionghoa bermigrasi dari pesisir hingga ke tengah kota, baik Tionghoa yang datang pada masa misi perdagangan atau pada masa gelombang kedatangan Tionghoa melalui koeli kontrak yang dibawa Belanda.

Hingga saat ini, pada hari-hari tertentu, para umat pemeluk Kong Hu Cu berdatangan ke Desa Payabakung untuk sembahyang di Vihara  Kuan Tie Bio. Tentu saja kehadiran mereka tidak bisa dilihat semata-mata sebagai kegiatan ibadah bagi penganut kepercayaan itu. Aktivitas kuil mendatangkan kebaikan tersendiri bagi proses kehidupan sosial yang berlangsung di sekitar aktivitas kuil. Penganut Kong Hu Chu yang sembahyang kuil Budi Kirti Kuan Tie Bio tidak hanya dari Paya Bakung, namun berasal dari berbagai kota bahkan luar negeri. Ini menjelaskan peran kuil, tidak hanya menjadi sentrum kebudayaan Tionghoa di Tanah Deli, namun memiliki magnit yang cukup kuat sebagai distinasi wisata sejarah yang mengandung nilai-nilai kearifan masa lampau untuk menjadi inspirasi kehidupan masyarakat masa kini dan masa mendatang.  Vihara Budi Kirti di Desa Payabakung  kini menjadi ikon desa yang mencerminkan alkulturasi budaya dan potret toleransi serta kerukunan yang alamiah di tengah keberagaman warga. (*)