LIKUIFAKSI, FENOMENA YANG PERLU DIKUATIRKAN SELAIN TSUNAMI

dibaca 63 pembaca

Likuifaksi merupakan fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat getaran gempa. Likuifaksi terjadi pada tanah yang berpasir lepas (tidak padat) dan jenuh air (Towhata, 2008). Putra (2013) menuliskan bahwa saat likuifaksi terjadi lapisan pasir berubah menjadi seperti cairan sehingga tak mampu menopang beban bangunan di dalam atau di atasnya. Suatu proses hilangnya kekuatan geser tanah akibat kenaikan tegangan air pori tanah yang timbul akibat beban siklis (cyclic mobility). Hal ini dapat terjadi pada suatu deposit tanah yang tidak kohesif (cohesionless) dan jenuh air (saturated) menerima beban siklik dengan kondisi pembebanan undrained.

 

Putra (2013) juga mengemukakan, fenomena likuifaksi terjadi seiring terjadinya gempabumi. Secara visual peristiwa likuifaksi ini ditandai munculnya lumpur pasir di permukaan tanah berupa semburan pasir (sand boil), rembesan air melalui rekahan tanah, atau bisa juga dalam bentuk tenggelamnya struktur bangunan di atas permukaan, penurunan muka tanah dan perpindahan lateral. Evaluasi potensi likuifaksi pada suatu lapisan tanah dapat ditentukan dari kombinasi sifat-sifat tanah (gradasi butiran dan ukuran butir), lingkungan geologi (proses pembentukan lapisan tanah, sejarah kegempaan, kedalaman muka airtanah).

 

Dikaitkan dengan kondisi Indonesia yang dilewati oleh jalur tektonik aktif, gempa bumi merupakan hal yang terbiasa terjadi. Seperti halnya gempa bumi besar yang pernah terjadi di Aceh, Nias, Padang, Lombok, dan Palu. Gempa-gempa bumi lain juga terjadi di daerah lain di Indonesia. Sebagian gempa-gempa bumi ini memicu terjadinya likuifaksi seperti yang terjadi di Sulawesi Tengah. Namun, sejarah pun menuliskan bahwa likuifaksi di Indonesia juga pernah terjadi di Flores (1992), Maumere (1992), Biak (1996), Bengkulu (2000), Aceh dan Nias (2004), dan Yogyakarta (2006).

 

Berbeda dengan tsunami, likuifaksi tidak dapat dideteksi terlebih dahulu. Likuifaksi sangat bergantung pada getaran dan juga gempa bumi, sehingga tidak bisa memberikan informasi bahwa gempa tersebut bisa menyebabkan pencairan tanah atau tidak. Namun dapat disimpulkan secara awal, fenomena gempa bumi yang terjadi di zona dengan tanah yang mengandung air tinggi sangat beresiko untuk terjadi likuifaksi. Biasanya fenomena ini terjadi untuk tanah yang dekat dengan laut atau pantai. Bisa juga terjadi gempa di area yang mengandung banyak air dan juga tanahnya berpasir.

 

Menurut Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada, seperti dilansir dari www.ilmugeografi.com,  menjelaskan bahwa Likuifaksi terbagi menjadi dua jenis, yaitu semburan air yang ada dari dalam tanah keluar memancar layaknya air mancur dan merusak struktur tanah sekaligus, juga kejadian lapisan pasir yang terbawa gempa sangat kuat sehingga air yang ada terperas dan mengalir membawa lapisan tanah. Dua kejadian likuifaksi sama-sama akan menghanyutkan tanah. Kondisi ini membuat semua bangunan dan benda yang terkena likuifaksi hanyut dan tidak bersisa, bahkan menelan korban jiwa.

 

Likuifaksi memang sangat bahaya karena sifatnya seperti banjir yang memiliki kandungan tanah. Jika ada yang terhanyut maka akan sulit menyelamatkan diri karena bukan di air jernih atau air biasa namun bersamaan dengan struktur tanah dan bangunan lainnya yang ikut hanyut. Untuk membangun kembali di area bekas likuifaksi, harus menunggu tanah kembali solid. Namun ini membutuhkan waktu yang lama hingga tahunan.