PERMASALAHAN UMUM PEREMPUAN DALAM PENGUNGSIAN

dibaca 188 pembaca

PERMASALAHAN UMUM PEREMPUAN DALAM PENGUNGSIAN

Bencana dapat terjadi dimana dan kapan saja. Baik bencana karena ulah manusia ataupun karena kondisi alam. Setelah bencana terjadi, penanggulangan bencana menjadi perhatian utama sebagai tindakan penyelamatan dan solusi awal permasalahan yang ada. Salah satu penanggulangan bencana yang diperlukan adalah mengungsi dari tempat bencana ke tempat yang lebih aman. Namun dalam manajemen penanggulangan bencana, para korban selalu dianggap dalam entitas yang sama, sebagai manusia, dengan kurang memperhatikan kepekaan terhadap jender.

 

Kepekaan terhadap jender dalam mendistribusikan bantuan merupakan salah satu fokus penting karena sebagian besar korban adalah perempuan, anak-anak, dan orang tua. Dalam sebuah bencana alam, biasanya lebih banyak anak-anak, perempuan, dan orang tua yang menjadi korban karena mereka tinggal di rumah. Saat bencana terjadi, perempuan lebih cenderung tidak memperhatikan keselamatan dirinya dan lebih menyelamatkan anak-anak mereka terlebih dahulu.

 

Menurut berbagai pengalaman bencana alam di Indonesia seperti Aceh dan Jogja, bahwa kematian perempuan lebih banyak daripada laki-laki dan perempuan membutuhkan lebih banyak ruang untuk menjalani perannya sebagai perempuan selama dalam pengungsian. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dan menjadi masalah umum perempuan selama dalam pengungsian, yaitu:

 

1. Saat dalam pengungsian, perempuan yang sedang menyusui berkemungkinan anaknya menghadapi masalah dengan makanan yang bergizi.

Perempuan menyusui membutuhkan asupan energi dan gizi seimbang untuk tumbuh kembang bayi. Pemenuhan gizi seimbang dimaksud berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Namun saat dalam pengungsian, kebutuhan tersebut sangat sulit untuk didapat. Selama situasi tanggap darurat, bantuan yang banyak diberikan kepada korban pada umumnya berupa beras, mie instan, dan makanan kaleng. Tentu saja keadaan ini tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi seimbang dimaksud sebelumnya dan menimbulkan dampak buruk bagi ibu menyusui dan bayi. Dampak kekurangan gizi pada ibu menyusui akan menimbulkan gangguan mata, kerusakan pada gigi dan tulang, mengalami kekurangan gizi dan darah, serta kualitas dan kuantitas ASI yang kurang baik. Sedangkan dampak pada bayi yaitu proses tumbuh kembang yang terganggu, bayi mudah sakit, bayi mudah terinfeksi, dan menimbulkan gangguan pada mata dan tulang. Untuk pemenuhan gizi bayi, dapat juga diberikan susu formula yang diberikan melalui bantuan. Namun terkadang ditemukan susu formula yang sudah kadaluarsa dan tidak layak untuk dikonsumsi.

 

2. Perempuan yang sedang hamil.

Kehamilan merupakan sebuah proses bagi perempuan yang menimbulkan banyak perubahan, baik perubahan fisik, mental, dan sosial. Kebutuhan perempuan hamil pun meliputi kebutuhan psikologis dan fisik. Kebutuhan fisik perempuan hamil perlu diketahui untuk membantu tumbuh kembang janin. Untuk itu, yang dimaksud dengan kebutuhan fisik perempuan hamil, yaitu:

  • Oksigen. Perempuan hamil membutuhkan oksigen dengan jumlah yang lebih banyak. Selain karena bernafas untuk dua orang, juga keluhan sesak nafas akan terjadi jika kekurangan oksigen. Dalam sebuah pengungsian atau situasi tanggap darurat perlu diperhatikan juga kondisi udara dan oksigen yang ada.
  • Nutrisi. Makanan untuk ibu hamil harus diperhatikan untuk perkembangan, pertumbuhan janin, dan kesehatan ibu. Bahkan nutrisi juga diperlukan dalam penyembuhan luka setelah melahirkan dan selama masa laktasi.
  • Kebersihan diri. Perempuan hamil juga memerlukan pakaian ganti, perawatan diri untuk persiapan sebagai ibu dan kebersihan gigi. Pakaian yang digunakan berbeda dengan perempuan yang tidak sedang hamil. Perempuan hamil membutuhkan lebih banyak air untuk digunakan karena perempuan hamil sering mengalami buang air dan kebersihan kamar mandi mempengaruhi kesehatan untuk terhindar dari infeksi.
  • Istiarahat. Perempuan hamil membutuhkan ruang dan waktu untuk istirahat. Tidak semua perempuan hamil merasa nyaman untuk tidur dalam situasi keramaian seperti di pengungsian. Sehingga perlu diperhatikan ruang pengungsian yang disesuaikan dengan budaya perempuan setempat.

 

3. Perempuan yang sedang mengalami haid.

Dalam pengungsian, perempuan yang sedang mengalami haid atau menstruasi menghadapi permasalahan dengan kebersihan diri, baik karena membutuhkan pembalut, pakaian dalam, pakaian layak, air bersih, bahkan ruang ganti, dalam hal ini adalah kamar mandi. Selama masa menstruasi atau haid ini, kelangkaan pakaian dalam dan pembalut akan menimbulkan ancaman penyakit yang berkaitan dengan perempuan.

 

4. Perempuan membutuhkan ruang privasi untuk mengganti pakaian, menyusui,  ataupun untuk beristirahat.

Ruang dan pendampingan menjadi salah satu fokus utama dalam pengungsian. Kebutuhan dasar perempuan untuk mengganti pakaian dan beristirahat dapat memicu pelecehan, kejahatan, dan kekerasan seksual. Beberapa kejadian yang pernah dituliskan mengemukakan bahwa pengungsi perempuan yang tidak didampingi oleh orang tua maupun keluarga rentan terhadap kejahatan dan kekerasan. Termasuk di dalamnya kejahatan dan kekerasan seksual.

 

Untuk memetakan kebutuhan para korban dan pengungsi bencana alam, perlu untuk melakukan analisa kebutuhan sesuai jender yang sesuai dengan budaya lokal, agama, dan kondisi geografis daerah. Dampak bencana alam membutuhkan bantuan yang berbeda bagi perempuan. Tanpa pengetahuan yang jelas tentang permasalahan yang dihadapi, maka penyelesaian masalah pun akan mengalami hambatan dan malah menimbulkan permasalahan baru.

 

Sumber tulisan: dari berbagai sumber