Pendekar Buruk Rupa (Part 3)

dibaca 476 pembaca

Pendekar Buruk Rupa (Part 3)

Kesedihan melanda Gemilang. Gubuk tempat tinggalnya sejak kecil hingga besar telah rata dengan tanah.  Lebih mengiris hati, dia tidak menemukan ayah yang begitu dirindukannya. Sudah bolak-balik dia keluar masuk hutan, namun tidak ditemukannya juga. Lama pula dia mencari di sungai, tetap tak ada hasilnya.

Gemilang pun berjalan menuju pusat kerajaan. Sepanjang jalan dia melihat puing-puing rumah yang baru saja terbakar. Pengemis bertambah banyak. Beberapa orang yang ditanyanya menyebutkan ini semua ulah dari Raja Bantulan Bahap. Bahap dan anak buahnya mengambil sebagian besar hasil ladang warga. Para gergasi itu juga tidak segan membunuh jika ada orang yang berani melawan.  Kabar terbaru, Mayang Segar Sari, yang merupakan putri Raja Kelewang Santana telah diculik gerombolan gergasi itu.

Kecemasan dan kegeraman berkembang pada diri Gemilang. Dia cemas karena belum mendapat kabar soal ayahnya, Jerangkong. Dia geram karena gerombolan gergasi itu telah menabur penderitaan pada kehidupan orang-orang kampung halamannya.

Dia juga langsung melihat anak buah Bahap tengah mengamuk di sebuah warung. Dengan penuh kegeraman, Gemilang menghajar gergasi itu. Sekali pukul, gergasi itu jatuh. Dia angkat tubuh gergasi itu, dilemparkannya sekuat tenaga. Mendapat lawan yang kuat, gergasi itu pun melarikan diri, masuk ke hutan.

Orang-orang kampung bersorak gembira. Mereka merasa Pencipta telah mengirimkan seorang penyelamat. Wajah Gemilang tidak lagi mengerikan bagi mereka. Bahkan bagi mereka Gemilang adalah harapan, adalah semangat untuk membabat habis penderitaan yang ditaburkan Raja Bantulan Bahap.

Kabar tentang kehebatan Gemilang pun sampai ke Raja Kelewang Santana. Segera Raja Kelewang mengutus pengawal untuk membawa Gemilang ke istana.

Ada yang berdegup di dada Raja Kelewang saat memandang Gemilang. Dia merasa tidak asing dengan wajah mengerikan itu. Tetapi perasaan itu segera dihalaunya. Raja Kelewang segera menyampaikan hajatnya kepada Gemilang. Dia ingin Gemilang mencari putrinya, Mayang Segar Sari yang sudah sepekan ini  ditawan Raja Bantulan Bahap.

“Bawalah pengawal sebanyak engkau mau. Selamatkan dan bawa kembali Putriku,” ucap Raja Kelewang.

“Siap, Paduka. Hamba akan berusaha menyelamatkan Tuan Putrri Mayang Segar Sari,” balas Gemilang.

“Bawa kembali Mayang ke istana ini, basmi para gergasi itu, dan pintalah apa yang kau mau,” janji Raja Kelewang.

“Ampunkan hamba, Paduka. Hamba tak ingin Paduka berjanji. Biarlah hamba berjuang untuk negeri ini. Izinkan hamba membawa lima puluh laskar,” ungkap Gemilang.

Terdiam Raja Kelewang mendengar perkataan Gemilang. Sungguh baik dan polos hati pendekar ini, pikirnya. Kemudian Raja Kelewang memerintahkan laskarnya untuk ikut berjuang bersama Gemilang. Tujuan mereka hanya dua: basmi gergasi dan bawa kembali Mayang Segar Sari ke istana.

Dengan restu Raja Kelewang dan doa orang-orang kampung, bergeraklah Gemilang dan pengawalnya. Berkendara kuda-kuda terbaik, mereka masuk ke hutan. Para gergasi ini memang membangun istana dalam hutan. Tidak seorang pun manusia biasa selamat jika tersesat di wilayah gergasi itu.

Tiba di tengah hutan, kedatangan Gemilang dan pengawal disambut geraman para gergasi. Berdiri bulu kuduk mendengar geraman itu. Tiba-tiba, muncullah para gergasi dari balik pepohonan. Serangan mendadak ini membuat pengawal Gemilang tidak sempat mengelak. Korban di kubu Gemilang pun berjatuhan.

Gemilang tidak dapat menahan diri lagi. Segenap kesaktian dikeluarkannya. Satu per satu gergasi pun jadi korban pukulan dan terjangan Gemilang. Tetapi, tidak sedikit pula pengawal Gemilang yang jadi korban. Tetapi sudah kadung basah! Gemilang terus menyerang. Tidak satu pun anak buah Bantulan Bahap tersisa. Begitu juga pengawalnya.

Dengan menggunakan tenaga dalam, Gemilang berseru memanggil Bantulan Bahap.

“Bahap. Aku di tengah hutan. Jangan jadi pengecut. Hadapilah mautmu!” serunya kuat sampai-sampai daun-daun pohon di hutan itu bertanggalan.

Tidak lama kemudian terdengar suara menderu. Tanah yang dipihak Gemilang seperti bergoyang.  Bantulan Bahap telah berada di hadapan Gemilang.

“Akulah mautmu. Telah kucium wangi nyawamu. Ayo, biar kuisap nyawamu!” seru Bantulan Bahap dengan suara seraknya namun gemanya terdengar sampai ke luar hutan.

Gemilang mendongak, menatap tajam Bantulan Bahap. Gergasi itu sangatlah tinggi dan besar. Namun, sedikit pun tidak ada rasa takut di hati Gemilang.

“Buktikan kalau kau memang mautku!” tantang Gemilang.

Bahap menyerang. Dia mengeluarkan pukulan melingkar dari atas ke bawah. Pukulan itu teramat kuat. Untung Gemilang sigap mengelak. Hanya angin pukulan itu terasa menampar pipi Gemilang dan mematahkan dahan-dahan pepohonan di sekitar tempat mereka bertarung.

Gemilang membalas dengan terjangan cepat dan kuatnya. Dia terkejut. Gergasi itu bukannya menangkis, bukan pula mengelak.  Bahap malah memberikan perut untuk menerima terjangan itu.

Bug! Terjangan Gemilang menohok keras. Bahap seolah tidak merasa apa-apa. Gergasi itu malah tertawa.

“Cuma sekuat itu tenagamu? Ayo! Hantam aku!” kata Bahap lagi.

Gemilang kembali memasang kuda-kuda. Dia berpkir, mencari kelemahan gergasi itu.  Ketika merasa ada kesempatan, Gemilang pun melompat  seraya memukul ke arah dada Bahap. Dikerahnya tenaga dalam sekuat mungkin. Lagi-lagi Bahap tak menangkis ataupun mengelak. Gergasi itu menerima pukulan pendekar itu dengan dada terbuka.

Bug! Gemilang semakin terkejut. Bahap hanya terdorong dua langkah ke belakang lalu kembali tawanya pecah, membahana dan meniup daun-daun pepohonan hutan.

Bahap memang sengaja tidak mengelak, tidak pula menangkis. Dia ingin mengukur kekuatan tenaga dalam Gemilang, baru akan benar-benar menyerang, tanpa takut mendapat serangan balasan.  Setelah membiarkan perut dan dadanya dihantam, Bahap pun kembali menyerang. Bukan memukul atau menendangs. Dengan kecepatan tinggi, gergasi itu  menangkap lengan Gemilang. Lalu sekuat tenaga mengayun-ayun tubuh Gemilang dan melemparkan ke udara setinggi mungkin.

Gemilang tak berdaya. Dia terlempar tinggi dan jatuh di antara cabang-cabang pohon. Bukan Gemilang namanya kalau menyerah. Kembali dia menerjang Bahap. Dengan cepat pula Bahap menangkap kaki Gemilang dan melemparkanny ke pohon. Sangking kuatnya lemparan itu, akar pohon itu tampak terangkat ke permukaan tanah.

Gemilang mengeluarkan berbagai jurus. Tetap saja gergasi yang ternyata sangat berpengalaman itu dapat mematahkan serangannya.

Bahap mulai mendesak. Pukulannya menusuk ulu hati Gemilang. Terpentallah  Gemilang. Tubuhnya menghantam sebuah pohon.

Sakit mendera tubuh. Gemilang tidak ingin menyerah. Dia berusaha bangkit dan saat itulah sebuah ingatan menyentak benaknya. Gundu pemberian kakek sakti. Ya, gundu itu. Dia meraba sakunya. Uncang-uncang itu masih ada. Diambilnya sebuah uncang, dikeluarkannya sebuah gundu pemberian kakek sakti.

Kini Gemilang telah berdiri tegak menggengam gundu yang merebakkan cahaya biru muda. Dengan penuh konsentrasi, Gemilang melemparkan gundu itu ke arah Bahap. Bagaikan bersayap, gundu itu melesat, mengelilingi Bahap. Seketika cahaya biru muda menutupi tubuh Bahap. Beberapa saat, terdengar jerit Bahap dan terpentallah gundu itu ke pohon, lalu kembali menghantam tubuh gergasi itu. Begitu terjadi berulang-ulang. Sampai pada hantaman kelima Bahap roboh dan gundu itu pun terpental jauh, menghilang entah ke mana. 

Gemilang melihat Bahap terlentang seperti tak berdaya. Dia pun melangkah mendekati gergasi itu. Namun baru selangkah, Bahap bangkit kembali sambil berteriak keras. Tubuhnya pun bertambah besar. Gemilang mundur selangkah. Dia mengambil sebuah gundu lagi. Gundu itu mengeluarkan cahaya merah, bagai kobaran api.

Melihat gundu bercahaya kobaran api itu, Bahap melompat-lompat. Tujuannya memecahkan konsentrasi Gemilang. Namun Gemilang sudah terbiasa bermeditasi, daya konsentrasinya sudah terlatih. Sekali lemparan saja, gundu itu menghantam kepala Bahap. Seketika terbakarlah dedengkot gergasi itu. Bahap nanar menahan panas yang mulai melepuhkan daging dan organ-organ tubuhnya. Gergasi itu meraung dan terus meraung sampai maut merenggut nyawanya.

Mayang Segar Sari yang sejak awal menyaksikan pertarungan itu keluar dari persembunyian. Didekatinya Gemilang. Seketika Gemilang menunduk. Dia malu memperlihatkan wajahnya pada Mayang.

“Kau Mayang Segari Sari, Putri Raja Kelewang Santana?” tanya Gemilang dengan terus menunduk.

“Iya, Kanda. Budi baikmu takkan pernah kulupa. Dan tolong, jangan menghindar dari pandanganku,” pinta Mayang.

Gemilang mengabaikan permintaan Mayang. Sambil terus menunduk dia mengajak Mayang kembali ke istana Raja Kelewang.

Berita kemenangan Gemilang membasmi gerombolan gergasi dan menyelamatkan Mayang Segar Sari menyebar dengan cepat. Sebagai ungkapan terima kasih, Raja Kelewang Santana pun berencana menikahkan Mayang Segar Sari dengan Gemilang.

Walaupun berhutang budi, terang saja Mayang Segar Sari tidak ingin bersuamikan orang yang buruk rupa. Namun dia tidak berani menolak perintah Raja Kelewang. Gemilang tahu perasan Mayang. Maka dengan halus dia berusaha menolak permintaan Raja Kelewang. Sayangnya, Raja Kelewang sudah bulat niatnya untuk bermenantukan Gemilang.

Penduduk juga mendukung pernikahan Mayang dengan Gemilang. Mereka tidak peduli dengan buruknya rupa Gemilang. Kebaikan hati Gemilang telah membuat penduduk terpesona.

Kabar tentang Gemilang ini pun sampai ke telinga Jerangkong yang selama ini mengungsi ke kampung di sebelah hutan. Jerangkong sangat yakin, Pendekar Buruk Rupa itu adalah Gemilang. Ya, Gemilang, bayi yang diasuhnya sejak kecil. Bayi yang bukan darah dagingnya. Bayi anak kandung Raja Kelewang.

Jerangkong tidak akan pernah lupa kejadian malam itu. Raja Kelewang datang ke gubuknya tanpa pengawal. Hanya sendirian.  Raja menggendong bayi berwajah buruk. “Rawat bayi ini bagai anak kandungmu sendiri. Jangan sampai ada yang tahu, dia saudara kembar putriku, Mayang Segar Sari,” ucap Raja Kelewang malam itu.

Bergegas Jerangkong berangkat ke istana Raja Kelewang Santana. Kebenaran asal-usul Gemilang harus diungkapkan. Mayang Segar Sari dan Gemilang adalah saudara kandung. Tidak boleh terjadi pernikahan sedarah. Alam akan murka. Bencana bakal melanda negeri ini.

Tiba di sana, Jerangkong melihat orang-orang bergerombolan ke halaman istana menuju lapangan. Ternyata hari itu Raja Kelewang ingin mengumumkan secara resmi pernikahan Mayang Segar Sari dengan Gemilang.  Jerangkong pun mempercepat langkahnya.

Halaman istana sudah dipadati penduduk. Raja Kelewang masih berada di dalam istana. Jerangkong meminta izin kepada pengawal untuk menjumpai Raja Kelewang. Pengawal mulanya tidak mengizinkan, karena memang Raja Kelewang bakal keluar juga  menemui penduduk.

“Justru itu. Sebelum semua terjadi, izinkan aku bertemu dengan Raja. Katakan, Jerangkong membawa kabar bayi yang malang,” pinta Jerangkong.

Melihat kesungguhan Jerangkong, pengawal itu memberanikan diri menjumpai Raja Kelewang. Apalagi Jerangkong menyebutkan soal kabar bayi yang malang. Pengawal berpikir, tentu ada sesuatu antara Jerangkong dengan Raja Kelewang.

Tidak lama kemudian, pengawal mengizinkan Jerangkong masuk. Di dalam istana, Jerangkong melihat Raja Kelewang dengan seorang anak muda kekar berwajah buruk.  Tidak mungkin dia melupakan wajah itu. Ya, itu Gemilang, bayi merah yang dulu dititipkan Raja Kelewang kepadanya.

Demikian pula halnya dengan Gemilang saat melihat Jerangkong. Tidak mungkin dia melupakan Jerangkong. Dia langsung menunduk dan mencium tangan Jerangkong.

“Maafkan aku, Ayah. Telah kucari ayah ke mana-mana... Tapi ayah pula yang menjumpaiku di sini. Sungguh anak tak berbudi aku,” ucap Gemilang pada Jerangkong.

Jerangkong mengusap-usap bahu Gemilang.

“Sudahlah. Biarkan ayah bicara dengan Raja kita,” ujar Jerangkong sambil memandang kepada Raja Kelewang.

Raja Kelewang yang sedari tadi tidak berkedip melihat adegan itu tergagap dan langsung memerintah semua orang di ruang itu keluar, kecuali Jerangkong.

Tinggallah Raja Kelewang dan Jerangkong di ruang itu. Tajam tatapan Raja Kelewang ke Jerangkong.

“Benarkah?” bergetar suara Raja Kelewang.

Jerangkong tertunduk. Tapi hatinya sudah bulat untuk menyampaikan kebenaran. “Ampun, Paduka. Benar. Dialah bayi itu...” ucapnya lirih.

Pucat pasi wajah Raja Kelewang. Kenyataan itu begitu menguncang perasaannya. Dia membayangkan orang-orang mencibir di bekalang dirinya. Mendadak berkobar marah di hatinya. Dia lampiaskan kemarahan itu pada Jerangkong.

“Rahasia kita harus dibawa mati. Kau ingat itu?” ucap Raja Kelewang.

“Ampun, Baginda. Bencana bakal datang jika pernikahan itu terjadi...” kata Jerangkong.

“Kau bukan dewa!” bentak Raja Kelewang seraya melayangkan kakinya menendang perut Jerangkong.

Jerangkong tersungkur.

“Ampun, Baginda. Hamba mohon, batalkan pernikahan itu. Gemilang dan Mayang sedarah. Mereka saudara kandung. Hamba mohon, batalkan, batalkan...” pinta Jerangkong lagi.

Mendidih hati Raja Kelewang. Dicabutnya pedangnya. Orang tua ini harus segera kuhabisi agar borokku tidak terbongkar, pikirnya. Lalu dengan cepat Raja Kelewang mendekati Jerangkong. Dia menusukkan pedang ke arah jantung Jerangkong. Pada saat yang tepat, pedang Gemilang melesat menghantam pedang Raja Kelewang dengan keras.  Melesetlah sasaran Raja Kelewang. Jerangkong luput dari maut.

Raja Kelewang memandang nanar ke Gemilang.

“Kurang ujar!” makinya lalu menyerang Gemilang dengan pedangnya.

Gemilang tidak memberikan perlawanan. Dia hanya mengelak dari sambaran maupun tusukan pedang Raja Kelewang.

Jerangkong berusaha melerai, tapi Raja Kelewang sudah terbakar amarah. Dia ingin menghabisi Gemilang dan Jerangkong.

Keributan di ruangan ini membuat Mayang Segar Sari dan pengawal datang. Melihat pertarungan itu, Mayang dan pengawal pun ikut bertarung membantu Raja Kelewang.  Mayang mengira Gemilang ingin merebut kekuasaan ayahnya. Perkiraan yang salah itu membuat Mayang emosi. Tanpa perhitungan dia menyerang Gemilang dengan pedangnya. Pada sebuah serangan, pedang Mayang malah tertusuk kepada Raja Kelewang, ayahnya sendiri. Maut pun menjemput Raja Kelewang.

Gemilang tidak ingin melanjutkan pertarungan. Kesedihan menyerangnya.  Dia merasa kehadiran di dunia ini hanya membuat ayah dan saudaranya menderita. Secepat kilat, Gemilang memanggul Jerangkong dan melesat menghilang di balik kerumuman orang.

Setelah jauh dari keramaian, Gemilang menurunkan Jerangkong. Dia pamit untuk menenangkan diri ke puncak gunung.

“Jaga dirimu. Jangan biarkan kesedihan menenggelamkanmu,” pesan Jerangkong.

Gemilang hanya mengangguk, namun pikirannya entah ke mana.  Dia  berlari cepat menuju gunung. Sampai di puncak, Gemilang termangu memandang langit. Dia ingin berontak pada takdirnya. Tapi apalah daya. Dia hanya mahluk. Ada Pencipta yang mengatur segala.

Kesedihan kian dalam menusuk hati Gemilang. Dia menjerit. Jeritan itu mebuat hewan-hewan yang ada di hutan menghindar sejauh mungkin dari gunung. Burung-burung pun terbang menghindari gunung tersebut. Tidak hanya menjerit, Gemilang juga menendang pohon-pohon yang ada di sekitarnya. Berpatahan pohon-pohon tersebut.

Pada kesedihan dan kemarahan berbaur, saat itulah jatuh uncang dari sakunya. Itu adalah uncang ketiga pemberian kakek “pencuri ikan”.  Menggelinding gundu berwarna merah darah dari uncang tersebut. Gemilang mengutipnya. Saat berada di genggaman Gemilang, gundu itu memanas dan kian memanas hingga melepuhkan telapak tangannya. Spontan Gemilang melemparkan gundu itu ke sembarang arah. Kuatnya lemparan Gemilang, membuat Gundu itu jatuh ke dalam kawah gunung. Bumi seperti berdenyut-denyut. Ada yang menggelegak di perut gunung berapi itu. Gemilang menyadari apa yang akan terjadi. Tapi sayang...  terlambat! Gunung berapi itu telah meletus.

Gemilang hilang disapu lahar. Hilang bersama kesedihannya. Hilang meninggalkan kenangan-kenangan yang murung.

***

PART 1

PART 2


PUTRI HIJAU

RAJA MUDA DAN PUTRI KUAU