PUTRI HIJAU

dibaca 188 pembaca

PUTRI HIJAU

Diceritakan kembali oleh Teja Purnama

Murung meliputi rakyat Kerajaan Deli Tua. Sang Raja sakit parah. Berhari-hari sudah lelaki tua berwajah teduh itu hanya bisa terbaring di kamarnya. Tubuhnya kian melemah. Sang Raja yang terkenal arif dan bijaksana itu berusaha tersenyum kepada setiap orang yang membesuknya. Namun, senyum itu tetap tidak dapat menyembunyikan sakit bersarang dan berbiak di tubuhnya.

Pada suatu malam, saat hujan yang turun sejak sore belum juga reda Raja memanggil anak-anaknya. Dia memiliki tiga anak. Dua lelaki, yakni Mambang Yazid yang sulung dan Mambang Khayali yang bungsu. Sedangkan yang tengah adalah seorang perempuan berparas jelita bernama Putri Hijau.

Mambang Yazid, Mambang Khayali, dan Putri Hijau sudah berada di samping Raja. Ketiganya itu tidak bisa menyamarkan kesedihan dengan berlagak tegar. Bahkan Putri Hijau tak dapat menahan isak tangis. Dadanya serasa sesak. Hati siapa tidak teriris melihat tubuh ayah tinggal tulang dibaluti kulit akibat digerogoti penyakit tak dikenal? Air mata bergulir di pipi ranum dan indah Putri Hijau. Sang Raja memegang lemah tangan Putri Hijau. Dia tidak ingin anak-anaknya hanyut pada kesedihan tak bermuara. 

“Jangan biarkan kesedihan merajai hati,” ucap Raja pelan, setengah berbisik.

Mambang Yazid memberi kode kepada kedua adiknya agar tenang. Putri Hijau berusaha menghentikan tangisnya. Dia mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Mambang Khayali tertunduk untuk menahan rasa sedih yang meluap-luap di dadanya.

“Anak-anakku...” sendat Raja.

Ketiga anaknya menatap Raja. Mereka diam menunggu ucapan Raja. Mereka tidak ingin kehilangan satu huruf pun yang keluar dari mulut Raja.

“Kudengar Ibu kalian menyeru-nyeru memanggilku. Dia telah menantiku di sana,” ucap Raja dengan mata menerawang.

Putri Hijau terisak lagi. Wajah almarhum Ibunda kembali terbayang.

“Minta Ibunda sabar menunggu,” kata Putri Hijau.

Sang Raja tersenyum, namun air mata merembes dari sudut matanya.

“Semuanya punya batas, punya waktu untuk datang, untuk pergi. Sudah dekat... sudah dekat waktuku....”

Pecah lagi tangis Putri Hijau. Mambang Yazid dan Mambang Khayali menguatkan hati saudara perempuannya.

“Tenanglah. Semua sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa,” ujar Mambang Yazid sembari mengusap-usap bahu Putri Hijau.

“Ya, semua sudah ditetapkan Yang Maha Kuasa....” ulang Mambang Khayali

Raja menarik nafas.. Berat, teramat berat.

“Mendekatlah padaku,” pintanya.

Ketiga anaknya pun semakin mendekatinya.

“Dengarlah. Kalian dipersatukan oleh darahku. Kalian adalah satu,” ucapnya.

Raja kembali mengatur nafasnya.

“Kami mengerti, Ayah. Sekarang Ayah tenanglah. Tidurlah.  Ananda tetap di sini akan tetap di sini sampai Ayahanda bangun,” sendat Putri Hijau.

“Masih ada yang ingin kusampaikan. Kau Putriku. Tegarlah seperti Ibunda. Kalian... Yazid... Khayali.... jaga saudara perempuanmu..... sepenuh daya.... sepenuh upaya... Kalian darah....  dagingku.... kalian..... satu....” ujar Raja pelan.

Kamar hening. Hanya terdengar suara nafas Raja. Basah mata Putri Hijau. Sesaat-saat,  keheningan pun pecah. Raja mangkat di hadapan seluruh anaknya. Isak Putri Hijau pun tak tertahan lagi. Tangisnya seolah menembus kisi-kisi Istana, melesat ke langit. Petir menyambar. Hujan kian deras.

Duka merebak. Bukan saja di hati Mambang Yazid, Mambang Khayali, dan Putri Hijau. Kedukaan itu juga merambah setiap hati penduduk Kerajaan Deli Tua. Pada hari pemakaman Raja, nyaris tidak ada aktivitas. Pekan sepi. Ladang sunyi. Seluruh rakyat berkabung.

Hidup harus terus berjalan walau harus melewati suka dan duka. Cukuplah beberapa hari saja Kerajaan Dei Tua tanpa Raja. Tanpa keberatan dari pihak mana pun, Mambang Yazid dinobatkan jadi Raja. Dia naik tahta menggantikan ayahandanya memimpin Kerajaan Deli Tua.

Syukur. Kearifan dan kebijaksanaan ayahanda turun kepada Mambang Yazid. Dia memimpin Kerajaan dengan tetap berpegang kepada keadilan dan kebenaran. Setiap rasa sombong muncul, Mambang Yazid pun segera ingat pantun yang selalu dilantunkan ayahanda: Bunga Kenanga di atas kuburPucuk cari pandan jawa. Apa guna sombong dan takabur? Rusak hati, badan binasaAir melurup ke tepian mandi. Kembang berseri bunga senduduk. Elok diturut resmi padi. Semakin berisi, semakin merunduk.

Di tengah kesibukannya memimpin Kerajaan, Mambang Yazid tidak pula lupa memperhatikan adik-adiknya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk memberikan kasih sayang kepada adik-adiknya. Mambang Yazid tidak ingin kedua adiknya terus larut dalam kesedihan karena telah menjadi yatim piatu.

Lambat-laun kasih sayang Mambang Yazid menghilangkan kesedihan adiknya. Putri Hijau yang paling terpukul telah pula iklas kepergian Ayahanda. Dia sadar dunia ini hanya sementara. Semua punya batas, termasuk usia. Maka, dia berpikir akan memanfaatkan setiap waktu ada untuk menanam kebaikan. Putri Hijau kian matang.  Keindahan wajah dan tubuh, berpadu dengan kematangan jiwa, melahirkan pesona yang tiada tara.

Tidak sekali dua kali pula dia membantu Mambang Yazid dalam mencari jalan keluar dari masalah yang melanda Kerajaan. Jawaban yang diberikan Putri Hijau selalu tepat dalam mengatasi setiap masalah. Dia pun jadi pujaan rakyatnya.  Apalagi kian hari kecantikannya kian bercahaya. Bahkan setiap menjelang senja, saat dia merenung dan berdoa di taman belakang istana, tubuhnya memancarkan bercahaya hijau. Cahaya hijau itu seolah memanjat udara, menembus awan, dan berpendar-pendar di langit paling jauh.

Cahaya itu pula yang mengundang keheranan seorang Raja yang gagah lagi tampan rupawan dari Aceh. Waktu itu, menjelang senja Raja itu sedang berada di halaman belakang istananya yang megah. Tak sengaja dia melihat ke langit. Tampaknya cahaya hijau yang menembus awan dan berpendar-pendar di ujung pandangannya. Cahaya apa itu? Dia bertanya-tanya dalam hati.

Raja tersebut pun memanggil Menterinya. Dia ingin tahu tentang cahaya itu.

“Menteriku,  apakah yang kau tahu tentang cahaya hijau yang tampak berpendar-pendar di langit?” tanya Raja. 

Menteri terdiam, tidak bisa menjawab. Dia memang sudah pernah mendengar tentang cahaya hijau tersebut, namun tidak ambil pusing. Masih banyak urusan kerajaaan yang musti diselesaikan.  Tetapi ternyata dia salah. Raja malah ingin tahu tentang cahaya itu.

“Menteri, aku bertanya padamu,” ucap Raja dengan naga agak tinggi.

Menteri gugup. “Ampun, Baginda. Patik memang sudah mendengar tentang cahaya itu. Namun Patik belum tahu sumber cahaya itu. Izinkan Patik mencari tahu, Baginda,” ujar Menteri

“Ya. Pergilah. Bawa beberapa pengawal dan bekal secukupnya. Cari tahu tentang cahaya itu agar rasa penasaran ini hilang. Pergilah besok pagi,” perintah Baginda.

Malam itu juga Menteri itu mempersiapkan segala keperluan. Dia memilih beberapa pengawal terbaik untuk pergi bersamanya. Saat fajar mulai menyingsing, mereka pun berangkat. Mereka bergerak ke arah cahaya hijau tersebut. Mereka menembus hutan dan gunung, melintasi sungai-sungai,  bahkan berlayar di lautan, hingga akhirnya sampai ke sebuah daerah yang bernama Labuhan Deli.

Agar penduduk setempat tidak curiga, mereka pun menyamar sebagai kuli. Berbaur dengan orang-orang di sana sambil mencari tahu tentang cahaya hijau tersebut. Dan akhirnya, mereka pun mendapat kabar bahwa cahaya itu berasal dari tubuh seorang perempuan yang tinggal di Kerajaan Delitua. Perempuan itu bukanlah perempuan sembarang. Dia adalah adik seorang Mambang Yazid, Raja Delitua yang arif dan bijaksana.

Kabar itu tentu belum bisa diterima begitu saja. Menteri dan para pengawal dari Aceh itu pun berangkat dari Labuhan Deli ke Deli Tua. Mereka ingin membuktikan kebenaran kabar tersebut. Dan ternyata, kabar tersebut benar. Mereka melihat sendiri  keindahan itu saat Putri Hijau tengah berjalan-jalan bersama dayang-dayangnya ke luar istana.

Setelah mendapatkan bukti, mereka pulang ke Aceh. Mereka bergerak dengan cepat. Waktu istirahat pun dipersingkat. Mereka tidak sabar, ingin cepat-cepat melaporkan tentang cahaya itu kepada Raja.

Tiba di istana, dengan penuh rasa bangga namun tetap tidak menghilangkan rasa hormat yang tinggi, mereka pun melapor kepada Raja.

“Ampun, Tuanku Duli Mahkota. Cahaya berasal dari seorang putri di Delitua. Cahaya itu adalah pancaran keindahan yang sukar tertandingi perempuan mana pun. Indah tubuhnya, indah pula hatinya. Sangat berntung lelaki yang bisa menyuntingnya.,” lapor Menteri kepada Raja.

Raja terdiam, namun jantungnya berdegup kencang. Menteri juga ikut terdiam. Mereka larut dalam diam. Menteri tahu Raja sangat tertarik pada kesaksiannya. Menteri berpikir, bukan tidak mungkin pula dia diperintahkan kembali untuk kembali ke Deli Tua.

Pikirannya Menteri benar. Cerita tentang Putri Hijau telah membuat Raja mabuk cinta. Siang malam Raja dilanda keinginan untuk bertemu, berbincang, dan kemudian mempersunting Putri Hijau.  Menteri  pun kembali mendapat perintah untuk kembali ke Deli Tua. Bukan untuk mencari tahu lebih jauh tentang Putri Hijau. Lebih dari itu! Raja mengirim Menteri ke Deli Tua untuk meminang Putri Hijau.

“Bawa persembahan yang paling mahal dan paling sulit dicari di jagat raya ini. Persembahkan kepada Putri Hijau dan keluarganya. Katakan, aku mempunyai niat baik menjadikan Putri Hijau sebagai Permaisuriku. Berangkatlah secepatnya. Sampaikan dengan benar pada Putri Hijau, niat baikku adalah kebaikan bagi Deli Tua,” titah Raja.

             

Setelah semuanya siap, berangkatlah Menteri, lengkap dengan berbagai persembahan untuk Kerajaan Deli Tua. Kerajaan Aceh kaya. Tentu bukanlah sulit memberikan persembahan yang teramat mahal.

Setelah berhari-hari berlayar, sampaikan utusan Kerjaan Aceh ke Deli Tua. Menteri dan beberapa pengawal langsung menghadap Raja Mambang Yazid.  Tanpa berpanjang kalam, utusan dari Aceh ini menyampaikan niat Rajanya untuk mempersunting Putri Hijau, adik Raja Mambang Yazid.

Mambang Yazid bukanlah seorang Raja yang ingin memperturutkan keinginannya sendiri. Dia merasa harus bertanya kepada Putri Hijau. Mambang Yazid menunda memberikan jawaban. Dia mempersilakan Menteri dari Aceh itu untuk menunggu sembari menikmati sajian hiburan dan makanan yang telah disiapkan. Setelah itu, Mambang Yazid pun mendatangi Putri Hijau yang tengah berada di taman belakang istana mereka.

 Dengan hati-hati, Mambang Yazid menyampaikan tentang niat Raja Aceh.

“Adinda tentu telah mengetahui kedatangan utusan Kerajaan Aceh. Tentu Adinda tahu pula mereka datang untuk meminang Adinda. Keputusan ada di tangan Adinda,” ucap Mambang Yazid.

Putri Hijau tertunduk. Belum memberi jawaban. Mambang Yazid ikut diam. Raja itu sabar menunggu jawaban adiiknya.  Sedikit pun dia tidak ingin memaksa Putri Hijau mengikuti kehendaknya. Keputusan menerima atau tidak pinangan Raja Aceh sepenuhnya berada di tangan Putri Hijau. Mambang Yazid akan mendukung sepenuhnya keputusan Putri Hijau.

Beberapa saat kemudian, Putri Hijau menatap Mambang Yazid. Putri Hijau masih ragu mengungkapkan jawabannya. 

Mambang Yazid membaca keraguan di wajah adiknya.

“Ungkapkan saja isi hati Adinda. Abangda mendukung sepenuhnya apa pun  keputusan Adinda,” ucap Mambang Yazid.

Putri Hijau memandang Mambang Yazid dengan penuh harapan pengertian dan perlindungan. Dia berkata,  “Sampai kini, belum terbersit di hati Adinda hendak bersuami. Sudilah kiranya Kanda mengerti keinginan Adinda yang ingin tetap tinggal bersama Kakanda. Tetap merasa Kakanda sebagai pengganti Ayah Bunda yang telah pergi selamanya...”

Mambang Yazid merasa sudah cukup mendapat jawaban. Putri Hijau menolak. Sebagai Abang sekaligus Raja,  dia tentu akan mendukung keputusan Putri Hijau.

Mambang Yazid pun mendatangi Menteri dari Aceh yang saat itu tengah menikmati hidangan yang disajikan.  Berat sesungguhnya mulutnya berbicara, namun keputusan harus disampaikan. Apa pun risikonya.

“Maaf seribu maaf, Menteri utusan Negeri Aceh. Yang Maha Mengatur tampaknya belum mengizinkan maksud dan hajat Raja Aceh. Adinda kami, Putri Hijau, belum ingin dipersunting, walau dia tahu bakal menjadi Permaisuri Aceh yang permai dan makmur. Bawa kembalilah segala bingkisan dan persembahan. Sampaikan pesan ini kepada Baginda Raja Aceh,” ucap Mambang Yazid pelan namum tegas.

Menteri dari Aceh itu terkejut. Dia tidak menyangka, Kerajaan Deli Tua menolak lamaran Raja Aceh.

“Benarkah Putri Hijau menolak lamaran Raja kami?” tanya Menteri lagi seolah masih belum percaya.

“Demikianlah adanya. Hendaknya, keputusan ini tidak membuat kita saling terbelah,” jawab Mambang Yazid.

Mendapat jawaban itu, utusan Kerajaan Aceh itu langsung berkemas. Dia memerintahkan seluruh pengawal untuk mengumpulkan kembali bingkisan dan persembahan Hari itu juga mereka kembali ke Aceh.

Sesampai di Aceh, Menteri langsung menghadap Raja. Tanpa melebihkan, tanpa mengurangi, seluruh perkataan Mambang Yazid disampaikannya.

Raja Aceh terbakar amarah. Penolakan itu sungguh sebuah hinaan, bukan saja pada dirinya, tetapi juga pada Kerajaan Aceh. Di balik kemarahan itu, kepiluan berpilin-pilin di hati.

Pada saat itu juga Raja Aceh mengeluarkan titah agar seluruh kapal lengkap dengan senjata dan prajurit disiapkan. Menteri tidak berani bicara apa pun. Dia langsung memohon izin untuk melaksanakan perintah Raja.

Fajar telah menyingsing. Kapal-kapal Kerajaan Aceh mulai berlayar membawa prajurit-prajurit terlatih, lengkap dengan senjata. Tujuannya adalah Deli Tua dan membawa Putri Hijau ke Aceh.

Tiba di perbatasan menuju Deli Tua, Raja Aceh mengirim utusan untuk menyampaikan pesan secara langsung kepada Mambang Yazid. Pesan itu adalah Kerajaan Deli Tua harus menyerahkan Putri Hijau kepada Raja Aceh. Jika Putri Hijau tetap menolak, maka perang adalah jalan keluar!

Pesan ini tentu  sampai dengan baik ke telinga Mambang Yazid. Namun dengan sangat baik pula Mambang Yazid memahami keinginan Putri Hijau. Keputusan telah ditetapkan, Kerajaan Deli Tua tetap tidak akan menyerahkan Putri Hijau kepada Raja Aceh.

Perang pun pecah.  Suara gemuruh, jerit kesakitan, atau erangan sebelum maut menjemput terdengar di kubu Deli Tua maupun Kerajaan Aceh. Pertempuran yang sudah berlangsung berhari-hari itu dilakukan saling memanah. Anak-anak panah pun  terbang melesat dan jatuh seperti titik-titik hujan.

Perang panah ini telah berlangsung selama berhari-hari.  Belum pernah terjadi pertarungan pedang antara kedua belah pihak. Pasalnya, prajurit Aceh tidak bisa menembus benteng pertahanan Deli Tua yang memanfaatkan rumpun bambu. Alhasil, Kerajaan Aceh tetap berada di luar. Sama sekali belum bisa masuk. Padahal makanan kian menipis.

Raja  Aceh pun berpikir keras mencari jalan untuk menembus benteng pertahanan tersebut. Setelah lama memandangi bayang rumpun bambu di pinggiran Sungai Deli, akhirnya Raja Aceh mendapat ide. Dia memerintahkan prajuritnya untuk mengisi laras meriam dengan emas lalu menembakkannya ke benteng pertahanan Deli Tua.

Siasat ini berhasil. Sesuai dengan keinginan Raja Aceh, emas-emas yang mereka tembakkan memecahkan konsentrasi prajurit Deli Tua. Tidak hanya itu, para prajurit Deli Tua saling berebut emas yang jatuh bagai hujan ke daerah pertahanan mereka. Di saat terjadi kekacauan inilah, para prajurit Aceh berhasil menembus jantung pertahanan Deli Tua. Bagai serangan mendadak, prajurit Aceh berhasil menyingkir prajurit Deli Tua yang menjaga benteng pertahanan. Akhirnya, prajurit Aceh pun berhasil masuk ke Deli Tua.

Kabar ini dengan cepat sampai ke Istana Deli Tua. Mambang Yazid segera mengumpulkan kedua adiknya, Putri Hijau dan Mambang Khayali.  

“Kita bertekuk lutut pada musuh?” tanya Putri Hijau.

“Tidak. Kita tidak akan bertekuk lutut. Kita akan terus melawan dengan berbagai cara,” kata Mambang Khayali.

“Ya, kita tidak boleh menyerah,” sambung Mambang Yazid.

Ketiganya pun saling berpegang tangan. Air mata tampak bergulir di pipi Putri Hijau. Wajah Ayah dan Bunda kembali terbayang.

Mambang Yazid merasakan kesedihan Putri Hijau. Lalu dia pun berkata, “Jangan sedih, Dinda. Kanda akan tetap menjaga sebagaimana pesan Ayahanda.  Dengar baik-baik pesan Kanda. Bila Raja Aceh itu menawan Adinda,  mintalah padanya keranda kaca. Berbaringlah Dinda di dalamnya selama pelayaran dari ke Aceh. Lantas, sebelum kapal kalian sampai ke Aceh, mintalah kepada Raja Aceh, agar setiap rakyatnya melemparkan sebutir telur dan segenggam bertih ke laut. Itu saja. Semoga kita dapat berjumpa kembali...”

Setelah menyampaikan pesan tersebut, Mambang Yazid pun memeluk kedua adiknya. Erat, teramat erat. Setelah itu, dia pun terjun ke tengah pertempuran lalu menghilang.

Sedangkan Mambang Khayali menjelma menjadi meriam yang tak henti-hentinya menembaki prajurit Aceh.  Berjatuhan prajurit Aceh. Namun jumlah mereka amat banyak. Daya meriam kian habis dan kikis hingga akhirnya larasnya patah, terpental kuat ke udara.

Tinggal Putri Hijau di kamar istana berusaha menahan tangis.  Pada saat itu, masuklah Raja Aceh. Dia terpana melihat keindahan Putri Hijau. Kesedihan bahkan menambah daya tarik Putri Hijau.  Ada degup kencang di dalam dada Raja Aceh. Yang bayang-bayangkannya kini ada di depan mata. Kemolekan Putri Hijau lebih daripada yang dibayangkannya. Raja Aceh seolah tersihir oleh kecantikan Putri Hijau.

Putri Hijau melihat keterpesonaan Raja Aceh terhadap dirinya. Pada saat itu pula dia menyampaikan permintaan sesuai dengan pesan Mambang Yazid.

“Tubuh dan hati akan kuberikan pada Tuan Raja sepanjang permohonan patik dikabulkan,” ucapnya.

Raja Aceh gugup. “Apa... apa pun yang... bisa membuat Dinda senang. Sebutkan saja,” ucap Raja.

“Berikan aku keranda kaca dan biarkan aku berbaring di dalamnya sepanjang pelayaran ke Aceh,” ucap Putri Hijau dengan lembut namun tegas.

“Baik, baik. Segera Kanda siapkan,” kata Raja tanpa ragu.

“Itu baru permohonan pertama. Ada permohonan kedua, tetapi nanti patik sampaikan, saat kita akan tiba di Negeri Aceh,” sebut Putri Hijau.

Raja Aceh menyanggupinya lantas memanggil pengawalnya dan memerintahkan agar secepat mungkin mendapatkan keranda kaca.

Tidak perlu waktu lama,. Keranda kaca pun telah tiba di Istana Deli Tua yang sudah porak-poranda. Dengan penuh ketegaran, Putri Hijau berbaring di dalam keranda itu. Selanjutnya, keranda tersebut pun diangkat ke kapal Raja Aceh.

Tanpa bermalam lagi, Raja Aceh pun memerintahkan seluruh prajurit kembali ke kapal masing-masing. Pada hari itu juga pelayaran kembali pulang ke Aceh dimulai.

Gemuruh angin laut, gemuruh ombak, gemuruh dalam dada Raja Aceh saat kapal mulai bergerak pulang. Dia tidak sabar untuk menggelar perhelatan pernikahannya dengan Putri Hijau setibanya di Aceh nanti. Raja Aceh merasa telah mendapat kemenangan yang begitu besar.

Tanpa terasa, pelayaran pun hampir setelah. Rombongan kapal Raja Aceh mulai mendekati pantai. Rakyat melihat kapal-kapal mengibarkan bendera kemenangan. Ini artinya, hajat Raja mereka tercapai. Rakyat berkumpul di pinggir pantai untuk menyambut kepulangan Sang Raja. Meriam pun ditembakkan sebagai tanda penghormatan atas kemenangan dan kegagahan Sang Raja.

Pada saat itu pula, Putri Hijau mengetuk dinding kerenda kacanya. Dia ingin mengajukan permohonan kedua. Raja Aceh pun mendatanginya.

“Sebutkan permohonan keduamu. Dan ini harus menjadi permohonan yang terakhir,” ujar Raja Aceh.

Putri Hijau pun meminta Raja agar memerintahkan seluruh rakyat Aceh melemparkan sebutir telur dan segenggam bertih ke laut.

“Baik, baik. Semua akan dipenuhi. Dan tak akan ada lagi permohonan,” tegas Raja Aceh lalu segera memerintahkan Menterinya segera bekerja untuk memenuhi permohonan Putri Hijau. 

Permohonan Putri Hijau ini tidaklah sulit dipenuhi. Dalam waktu singkat, pesan telah sampai kepada rakyat Aceh. Maka setiap rakyat pun melemparkan telur dan segenggam bertih ke laut. Air di pantai pun menjadi putih.

Putri Hijau berusaha tetap sadar.. Sambil menangis dia pun berseru, “Wahai Kakanda Mambang Yazid, Raja Nan Sakti, Pemegang Janji Paling Teruji,  datanglah. Jemputlah Adinda. Jika Kakanda tak datang, lebih baik Adinda binasa!”

Beberapa saat kemudian, hujan pun turun. Angin kian kencang. Badai datang. Ombak setinggi bukit menghantam silih berganti. Langit menjadi gelap. Kapal-kapal Aceh terombang-ambing dipermainkan gelombang. Tiang-tiang layar berpatahan. Lalu terdengar suara menderu. Keras, sangat keras. Mengalahkan suara angin dan hujan. Dari dalam lautan, melesat naga raksasa. Ekornya melibas kapal-kapal Aceh. Jerit ketakutan, raung kesakitan menyatu dalam deru angin badai.

Putri Hijau memejamkan mata, menyerahkan diri sepenuh pada Penentu Takdir. Dia tahu, Mambang Yazid telah datang menjemputnya. Dia merasakan Mambang Yazid telah menjelma naga yang menghancurkan kapal-kapal, yang membuat keranda kacanya terpental lalu sejenak mengapung di laut dan dibawa naga ke dasar lautan.

Di dasar lautan ini, Putri Hijau pun  keluar dari keranca kacanya. Seketika Putri berada dalam sebuah istana di dasar lautan. Pada saat itu pula, naga hilang berganti Mambang Yazid.

“Di sinilah istanamu sekarang, Adinda. Berbahagia di sini sampai kiamat tiba. Bila rindu, panggil saja Kanda. Kita akan bertemu lagi,” ujar Mambang Yazid lalu kembali menghilang dari pandangan Putri Hijau.

Mambang Yazid sempat kembali Deli Tua untuk menemui adiknya,  Mambang Khayali yang telah berubah kembali menjadi manusia. Dia jugalah yang memberi izin kepada Mambang Khayali bertapa di Gunung Sibayak dan tetap meninggalkan meriam puntung di Tanah Deli.

Menurut cerita orang-orang dulu, setelah bertemu dengan kedua adiknya, Mambang Yazid  yang sakti itu berdiam di Selat Malaka.


PENDEKAR BURUK RUPA

RAJA MUDA DAN PUTRI KUAU