Medan Crispy 22 - Si Renyah yang Menghasilkan Rupiah

dibaca 183 pembaca

Medan Crispy 22 - Si Renyah yang Menghasilkan Rupiah

Aroma bawang goreng sangat menyengat, begitu memasuki sebuah rumah di Jalan Anugerah VII/II Komplek Cemara Abadi-Sampali-Percut Seituan Deliserdang, Sumatera Utara. Seorang pria dengan mengenakan kemeja lengan pendek menyambut kedatangan Majalah Inspirasi Usaha, Selasa malam, pekan kedua Bulan Juli.

Dia adalah Koad Chamdi, pria berusia 56 tahun pemilik Medan Crispy 22. Koad-begitu sapaan akrabnya, sangat antusias menceritakan awal kisah membangun sebuah usaha kuliner kemasan yang berbahan baku bawang merah. Pria yang rambutnya sudah mulai memutih ini mengatakan memulai usaha bawang goreng yang diinovasikannya dengan berbagai bahan tambahan, sehingga menjadi panganan lezat dimulai sejak tahun 2008. “Medan Crispy 22 itu perpaduan dari nama daerah, produk renyah dan nama anak saya. Angka 22 itu dibaca Rere, not nada kedua setelah do,” ungkapnya sambil tersenyum mengawali pembicaraan.

Koad mengaku produk bawang goreng bukan usaha pertamanya. Dia memulai bisnis kuliner kemasan tahun 2007 dengan membuka produksi keripik buah. “Pertama kali produksi, saya memilih keripik buah, mulai dari nangka, nenas juga salak. Ini saya lakukan, setelah saya jadi korban PHK oleh perusahaan di Aceh. Tapi, beriring dengan waktu saya ingin berinovasi. Saya sering jalan, dan memperhatikan dan melihat semua penjual bakso menggunakan bawang goreng siap saji, begitu juga kalangan rumah tangga dan lainnya. Saya terinspirasi melihat bawang goreng bisa laku keras,” tuturnya.

Tanpa disangka, respon terhadap bawang goreng kemasannya mendapat respon pasar yang positif. Pelanggan pertamanya tentu para penjual bakso dan ibu rumah tangga. “Setelah saya buat bawang goreng original, saya merasa masih kurang, dan saya kembali berinovasi. Kemudian saya membuat bawang goreng campur teri, ternyata sambutan pasar juga bagus. Saya ikut pameran kemana-mana, selalu mendapat sambutan positif. Dari situlah, saya kemudian membuat bawang goreng pedas. Serta berpikir membuat produk yang bisa enak jadi campuran makan, maka terciptalah jenis produk lain, yaitu bawang goreng campur udang yang biasa disebut bawang abon. Hasilnya meledak di pasaran,” paparnya.

Nah, setelah itu, bapak tiga anak ini terus mempertahankan berbagai jenis produknya, mulai bawang goreng original, pedas, teri dan bawang goreng abon udang. “Meski usaha bawang berkembang, saya tetap mempertahankan usaha keripik buah. Karena ini sudah punya pangsa pasar tersendiri,” timpalnya.

Koad tak sekadar mengejar orientasi laba. Dia juga mengembangkan lapangan kerja bagi warga sekitar komplek. “Saya berdayakan ibu-ibu di sekitar komplek untuk menjadi bagian dari bisnis ini dengan melakukan pengupasan bawang merah. Alhamdulillah, banyak di sini sekarang yang ikut membantu. Saya satu bulan menghabiskan empat ton bawang merah, ibu-ibu sekitar ya lumayan tidak menganggur lagi. Jadi ada 15 ibu-ibu sekitar yang dipekerjakan, kadang ada satu keluarga tiga sampai empat orang yang ikut mengupas bawang di rumah masing-masing. Kalau malam, mereka (ibu-ibu) mengupas bawang, nanti siap, mereka antar ke rumah saya, dan digoreng di sini,” jelasnya sambil menunjukkan dapur tempat pengolahan bawang gorengnya.

Kini, Koad mengaku ciri khas Medan Crispy 22 adalah pada olahan bawang goreng yang mengedepankan moto mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kualitas. Selain itu, dia menggunakan produk dengan bahan baku lokal asli Sumatera Utara. “Saya menggunakan tagline taste of Medan. Tentu saya harus menonjolkan rasa Medan atau Sumatera Utara. Untuk bahan baku bawang, saya menggunakan bawang dari Samosir. Saya tidak menggunakan bawang impor yang banyak masuk pasar. Saya ingin mengangkat kembali citra bawang Samosir yang memang kualitasnya bagus. Bawang lain banyak, misalnya dari India, tapi kualitasnya jelek, termasuk bawang dari Jawa. Ada bawang dari Jawa yang bagus, dari Brebes tapi kelasnya varitas Sumenep dan itu jarang masuk kemari,” tuturnya.
Karena memilih bawang khusus, Koad mengaku kadang menemui kendala. Bahan bakunya kadang ada, kadang tidak. “Makanya, saya kalau lagi bahannya ada, saya beli dalam jumlah banyak,” lanjutnya.

Tak hanya bawang, bahan tambahan seperti ikan teri, Koad menggunakan teri Medan yang sudah terkenal kualitasnya. “Saya juga mempertahankan cita rasa yang aman buat kesehatan. Dalam pengolahannya, semua bahan original tanpa pengawet, juga tidak pakai perasa msg. Rasa yang ada di produk hanya perpaduan, rasa asin, rasa manis, sudah ada di gula dan garam serta pedas dari cabai,” ungkapnya.

Saat ini, produk Medan Crispy 22 ini sudah dipasarkan ke Solo, Bandung, Jakarta, Papua ke Balikpapan dan Sumatera sekitarnya, Aceh, Pekanbaru. “Produk saya ini juga sudah masuk hotel-hotel, pasar-pasar modern, Carefour, Brastagi Supermarket, Maju Bersama, Suzuya. Dan, ini juga sudah menjadi pilihan untuk oleh-oleh Medan,” tegasnya.

Koad membagi tiga ukuran kemasan bawang gorengnya, yaitu ukuran setengah kilo dengan harga Rp50 ribu, ukuran 100 gram yang kemasan plastik serta 100 gram untuk bawang original seharga Rp13 ribu dan kemasan toples untk campuran udang/teri seharga Rp25 ribu.

Koad mengaku pesanan mengalami peningkatan saat hari-hari besar tiba. “Misalnya hari raya, natal, tahun baru, pesanan bisa dua kali lipat,” ungkapnya.

Dalam membangun usaha ini, Koad mengeluarkan dana sekira Rp30 jutaan. “Modal yang paling besar adalah semangat, modal biaya tidak terlalu besar. Kalau untuk usaha pertama kali di keripik buah, saya keluarkan Rp30 jutaan. Itu banyak keluar untuk alat penggorengannya yang disebut vacuum frying. Begitu juga waktu membuka usaha bawang goreng, menghabiskan nilai sama yang banyak dihabiskan untuk peralatan goreng,” kenangnya.

Tapi, usaha ini tak membutuhkan waktu lama untuk mencapai kata balik modal. Koad hanya butuh lima bulan untuk balik modal dan bulan berikutnya meraup keuntungan. Saat ini, omset dari usaha bawang goreng kemasan dia menghasilkan omset Rp50 juta sampai Rp70 juta.

Setiap bulannya, Koad menghabiskan empat ton bawang merah, dua ton teri dan udang. Untuk bawang goreng original, dalam setiap satu kilo bawang mentah bisa menghabiskan 250 gram bawang goreng siap kemas. “Per harinya, saya harus menyediakan kemasan tiga set (setengah kilo, 100 gram dan toples). Untuk yang ukuran 100 gram masing-masing 300 toples per hari. Kalau ukuran setengah kilo harus bisa 20 pack per hari, dan yang ukuran 100 gram plastik bisa sampai seribuan bungkus per 14 hari,” bebernya.

Sedangkan, untuk keripik buah, Koad hanya tinggal memproduksi keripik nangka. “Sekarang hanya nangka, karena bahan baku nenas dan salak yang bagus untuk keripik lumayan sulit didapat. Dalam sebulannya, saya membutuhkan bahan baku setengah ton nangka. Ini saya pasarkan selain di pasar-pasar modern juga di bandara untuk oleh-oleh khas Medan. Dan spesifiknya produk saya memang bawang goreng, karena perputarannya cepat,” timpalnya.

Koad merasa sudah menemukan dunianya. Korban PHK tak lagi menghantuinya. “Saya kerja di Aceh di pabrik pupuk, begitu pabriknya tutup karena tidak ada bahan baku, semua karyawan termasuk saya diPHK dini. Dulu saya sempat bingung, walau dapat pesangon, saya masih buta mau buat usaha apa. Namun, saya yakinkan mau jadi pengusaha home industry dan memilih kuliner kemasan dan ternyata ini pilihan yang tepat,” ucap pria yang kini sering jadi tenaga pelatihan untuk wirausaha kepada mahasiswa di Medan ini.

Dari usahanya ini, Koad dan istrinya juga berhasil mengantarkan ketiga anaknya kuliah. Bahkan anak sulungnya kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), juga membantu memasarkan produk bapaknya. “Saat dia pulang ke rumah, dia membawa contoh ke teman-temannya. Dan kini, dia memasarkan di sana (Jogja),” ujarnya.

Dalam berwiraswasta, kata Koad yang paling penting adalah modal berani. “Jangan takut gagal, kalau gagal bangun lagi. Kalau kita gagal ketiga kali, kita harus punya pikiran yang keempat harus berhasil. Toh, tidak selamanya orang gagal, pasti ada jalan untuk berhasil. Kadang-kadang orang yang enggak mau mencoba, dialah yang gagal, kadang-kadang gagal sekali, dia terus tidur dan enggak mau mencoba lagi, itulah kegagalan yang sebenarnya,” ucapnya.

Dia juga menegaskan, persoalan dana usaha yang sering kali dikeluhkan saat membuka usaha, buka lagi jadi kendala utama. “Sekarang sudah banyak lembaga yang menawarkan. Yang penting itu semangat dan ada kemauan. Harus optimis, kerjakan dan kerjakan. Kita harus selalu punya mimpi dan mimpi itu harus diwujudkan,” pungkasnya. (nina rialita/telah terbit di Majalah Inspirasi Usaha 2012)

Koad Chamdi : 081265005353

 

Sumber artikel/foto : n7n4.wordpress.com