Sulap Bahan Limbah Jadi Kerajinan Tangan

dibaca 389 pembaca

Sulap Bahan Limbah Jadi Kerajinan Tangan

Barang tak terpakai yang sering disebut limbah kerap dibuang karena dianggap tak berfungsi lagi. Namun, di tangan seorang perajin limbah Aradi (37) warga Jalan Danau Singkarak Medan, bahan-bahan limbah tersebut disulap menjadi kerajinan tangan unik dan bernilai seni tinggi.

Ide membuat limbah menjadi kerajinan tangan, imbuhnya, berawal dari kreatifitasnya yang muncul saat melihat bahan limbah yang terletak begitu saja. Ia pun mendapat ide untuk mengubah bahan limbah agar bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai estetika.

“Dulu dari tahun 2000 hingga 2004 saya bekerja di Bali, di berbagai bidang seperti restoran, galeri, toko bunga, periklanan. Namun saya merasa bosan menjadi pekerja, lalu memutuskan untuk berbisnis. Kemudian mendapat ide untuk membuat kerajinan dari bahan limbah, ya seperti ini lah,” terangnya. Ia mengaku sudah 12 tahun berkecimpung di bisnis kerajinan limbah. Untungnya, banyak orang yang menyukai karyanya. Semua hasil karyanya diterima dengan baik di pasar oleh semua kalangan.

“Awalnya buat lukisan tapi karena jualnya susah saya beralih ke kerajinan tangan. Lagipula konsepnya limbah dengan nilai estetika dan unik makanya hingga sekarang tetap eksis,” ujarnya.

Ia menuturkan ada berbagai macam produk yang dihasilkannya, seperti vas bunga, meja, suvenir, cermin, kotak tisu dan bingkai. Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari berbagai limbah seperti limbah kaca, keramik, kayu, cangkang telur, triplek, batu dan kayu manis. Lebih lanjut ia mengatakan, ia mendapatkan bahan limbah tersebut dari penyuplai langganannya. Namun ada juga bahan limbah tertentu yang didapatnya gratis.

“Saya pun sudah memiliki langganan, ada juga produk yang saya titip ke toko. Misalnya vas bunga, saya titip ke beberapa toko bunga. Ada juga yang didistribusikan ke Aceh, Padang dan Pekanbaru. Saya juga memasarkan produk via online dan sosial media, ada keinginan untuk merambah ke mancanegara tapi nantilah,” ucapnya.

Ia mengatakan, dengan bisnis kerajinan limbah itu, omzet yang ia peroleh mencapai Rp 30 juta per bulannya. Namun belakangan hanya mencapai Rp 10 juta per bulan dikarenakan kondisi ekonomi Indonesia melemah.

Siap Hadapi MEA

Disinggung mengenai MEA yang telah berjalan awal Januari ini, ia mengaku siap menghadapi MEA. Baginya, tak ada alasan untuk takut bersaing di era MEA ini.

“Untuk apa takut, usaha yang saya rintis ini kan ada seninya, unik dan membutuhkan kreativitas. Jadi yakin saja, yang penting tetap melakukan inovasi ke depannya. MEA itu harus dihadapi bukan ditakuti. Lagipula pangsa pasar kita kan besar, Indonesia itu masyarakatnya konsumtif otomatis bakal terus ada yang mencari produk saya,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, ia mengatakan sering mengikuti berbagai pelatihan tentang MEA. Ia yakin dengan sering mengikuti pelatihan, ia bisa mendapatkan ilmu lebih untuk diterapkan sehingga bisa mengelola bisnisnya dengan baik.

 

Sumber : harian.analisadaily.com