D’soul Distro

dibaca 309 pembaca

D’soul Distro

Lelah jadi pegawai menjadi inspirasi seorang Novie Palupi Yuli Andriyani berani mengembangkan bakatnya di fashion ke bisnis barang-barang reseller. Sejatinya, perempuan kelahiran 9 Juli 1976 ini sudah menjalani posisi nyaman sebagai karyawan di perusahaan swasta. Dia pernah bergelut di perusahaan modal asing, juga sebagai konsultan kecantikan di perusahaan produk kecantikan.

Namun, ibu satu putri ini berani memulai usaha distro sejak 2006 dengan keyakinan inilah dunia yang menyatu dengan hatinya. Awalnya, usaha Novie dibangun dari sangat sederhana, di mana dia menjual barang-barang lokal dan import sesuai order konsumen sambil melakoni statusnya sebagai pegawai. Belakangan, dia putuskan untuk berhenti jadi pegawai dan membuka toko khusus pakaian, tas dan sejenisnya. Produk yang dijualnya berasal dari Bandung, Jakarta dan beberapa daerah di Asia.

“Dari dulu saya suka fashion dan sepertinya memang dari keluarga ada darah bisnisnya. Bapak saya misalnya, walaupun guru tapi jadi pegadang dengan membuka toko grosir. Saya beranikan diri buka toko yang saat itu modalnya jutaan untuk menyewa tempat,” ujarnya saat ditemui di D’soul Distro Jalan Dr Mansur No 43 Medan.

Awal berdiri, semifinalis gadis sampul tahun 1991 ini membuka toko dengan nama Novie. Pada saat itu, bungsu dari delapan bersaudara ini lebih banyak menjual produk-produk pakaian dan perlengkapan pria dengan konsep toko kaca tertutup. “Banyak yang bilang, orang segan masuk toko saya karena dikira barangnya mahal-mahal. Lalu saya berpikir bagaimana bisa lebih menyatu dengan pelanggan,” kenangnya.

Setahun kemudian tahun 2007, Novie memindahkan lokasi tokonya yang masih berdekatan dengan tempat awal. Dia mengubah konsepnya menjadi serba terbuka dengan nama D’soul Distro. Dari luar, pelanggan bisa dengan bebas melihat produk yang dijual. Novie tidak memasang pintu dan membiarkan semua mata leluasa melihat barang dagangannya. Strategi ini terbilang sukses, Novie langsung mendapatkan pelanggan yang cukup banyak. “Saya lebih dekat dengan konsumen. Saya di sini selalu mengedepankan komunikasi yang baik, saya sering kali dijadikan tempat curhat konsumen untuk memadupadankan busananya. Jadi semacam penasehat busana bagi konsumen” ujarnya.

Novie merasa bersyukur, lantaran dari awal berdiri usahanya dia diberikan kemudahan oleh Allah SWT. Termasuk, saat mencari lokasi yang strategis di kawasan kampus Universitas Sumatera Utara (USU). “Awalnya, pilihan saya ada dua di dekat kampus USU atau UMSU. Saya ingin membuka toko sampai malam, setelah disurvei ternyata di USU yang tetap ramai meski malam,” timpalnya. Novie yang masih lajang kala itu memilih tinggal di distronya, saking banyaknya pelanggan, terkadang toko tutup pun harus dibuka kembali lantaran konsumen ingin membeli. “Ditelepon untuk buka karena mau beli baju. Tapi, begitu saya menikah tentu tidak tinggal di distro lagi, distro adalah distro dan saya tinggal bersama suami,” lanjut warga Komplek ACM Blok F No 30 ini.

Kini, Novie membuka usahanya dari pukul 10.00 WIB-20.00 WIB. Barang yang laris terjual adalah pakaian wanita dengan omset Rp40-an juta sebulan. Novie tidak banyak keluar biaya untuk membayar pegawai lain, karena dia kerja sendiri. “Dulu pernah awal menikah saya pakai karyawan, tapi konsumen pada komplain. Mereka lebih suka kalau saya langsung yang jual, mungkin karena bisa saling sharing soal fashion. Jadi sekarang, saya sendiri yang jual,” tuturnya.

Untuk menjaga kualitas barang yang dijualnya kembali, Novie membiasakan diri langsung berbelanja. Dia rutin ke Jakarta belanja tiga bulan sekali, sedangkan barang dari Bandung sudah produsen tetap. Sehingga, dari Bandung selalu mengirimkan barang begitu ada produksi baru. “Saat ini bisa dibilang semua barang lokal, saya tidak import lagi. Dan, barang yang dijual di sinipun lebih bervariatif, dari yang awalnya hanya baju cowok, sudah banyak baju cewek, tas, juga sekarang sedang laris busana untuk hijab. Jadi, jilbab-jilbab baru ada di sini,” ucapnya. Untuk baju dijual Rp70 ribu sampaiRp380 ribu, celana Rp200 ribu sampai Rp255 ribu, rok Rp100 ribu hingga Rp250 ribu, tas Rp160 ribu-an.

Untuk tetap eksis di tengah persaingan bisnis reseller dalam bentuk distro, Novie punya kiatnya. Dia menjual barang yang tidak pasaran, masing-masing model atau warna biasanya jumlahnya terbatas. Apalagi, kawasan Dr Mansur sudah sangat berjibun distro pakaian anak muda. “Pelanggan saya 50 persen memang anak kampus, tapi banyak juga yang umum. Persaingan memang berat, tapi saya tahu harus jaga kualitas dan menjalin komunikasi yang baik dengan konsumen. Konsumen tidak boleh hanya sekadar dilihat dari uangnya. Di distro ini saya juga bebaskan konsumen mencoba barang yang mau dibeli, agar ketika sampai di rumah konsumen benar-benar puas dan tidak merasa dirugikan kalau pakaiannya tidak pas. Dan, saya usahakan barang enggak pasaran, rata-rata satu piece satu warna,” bebernya.

Prospek ke depan, diyakini Novie akan tetap bagus. Bisnis reseller, lanjutnya sama seperti bisnis lainnya. “Yang penting dalam berbisnis itu dilakoni dengan hati juga jiwa. Saya sangat nyaman di sini, karena ini sudah saya yakini sebagai dunia saya,” ungkapnya.

Jika ditawarin jadi pegawai lagi? “Sudah ada yang minta saya kembali jadi konsultan di perusahaan produk kecantikan, tapi enggaklah. Saya lebih suka di sini, jiwa fashion dan bisnis saya tertuang, jauh lebih nyaman,” pungkasnya.

 

Sumber artikel/Foto : n7n4.wordpress.com