Megat Molina-Owner Memo Group

dibaca 409 pembaca

Megat Molina-Owner Memo Group

Mau belajar dan kerja keras menjadi kunci sukses usaha Memo Group. Sebuah usaha yang mengcover banyak bidang, di dalamnya Memo Catering, Memo Pesta, Memo Cookies dan Memo Cafe. Adalah ownernya perempuan bernama Megat Molina yang menjalankan usaha ini dari nol. Dari yang tidak tahu masak kini jadi acuan lidah banyak orang.

Usaha catering yang dibangunnya sudah cukup dikenal, begitu juga usaha pelaminan dan bisnis kue-kue. Belum sampai di situ saja, perempuan yang akrab disapa Memo ini baru saja mengembangkan cafe dengan standar kenyamanan, gratis karaoke hanya dengan makan dan minum di lokasi. Dia juga mendapatkan kepercayaan mengelola rumah makan atau cafe bertaraf internasional di sebuah rumah sakit pemerintah.

Memo mengakui awalnya tidak punya latar belakang tata boga, sikap keluguan saat mencoba universitas negeri di masa kuliahnya tahun 80-an membuatnya terdampar di pulau dengan peluang besar terhampar. “Saya akhirnya malah lulus di IKIP (sekarang Universitas Negeri Medan). Jaman dulu orang bilang pilihan utama untuk masuk kuliah pasti sulit lulusnya, jadi saya ambil saja tata boga sebagai pilihan kedua, ternyata lulus. Saya enggak tahu tata boga itu apa. Masak nasi saja saya enggak tahu,” ungkapnya kepada Inspirasi Usaha di Mome Cafe Jalan Pasar Merah/Menteng Raya Gang Budi No 3, Medan.

Lantaran tidak banyak tahu, perempuan berusia 44 tahun ini gigih belajar. Kerja kerasnya mengenal dunia masak memasak membuahkan hasil, kuliah semester tiga Memo sudah didaulat jadi tenaga pendidik di pesantren yang masih tetap digelutinya sampai sekarang selama 22 tahun. Saat masih kuliah, Memo juga mengaplikasikan kepiawaiannya membuat kue dan menjual di kalangan kampus termasuk ke dosen. Setelah tamat kuliah, selain jadi guru dia menyadari usaha berbasis kuliner punya peluang besar. “Pada saat itu (tahun 1990-an) usaha kuliner number one, karena apapun ceritanya ada saja pesta dan orang makan sehari itu tiga kali. Awalnya, saya terjun menjadi agen bidan pengantin, karena saat belum ada catering masih kalangan atas. Di pelaminan saya memulai dari agen sampai punya sendiri namanya Memo Pesta. Modal awal saya ngutang bahan-bahan ke pasar. Kemudian saya ingin buka catering saya doa sama Allah dan dikabulkan dan dimudahkan padahal awalnya tanpa modal,” ungkap Ketua DPD Ika Boga Sumut ini .

Memo menghidupi usahanya dengan fokus, satu usahanya dibiarkan besar dan mandiri baru berani membuka usaha lain. Seperti dia mengembangkan Memo Pesta, setelah punya nama dia membuka catering tahun 1992 yang kini sudah oke lalu ke Memo Cafe. Untuk menjalankan usahanya, Memo memiliki 20-an karyawan tetap. Jumlah ini bisa meningkat menjadi 100 orang jika banyak pesanan. Untuk catering, selalu saja ada yang pesan setiap minggu. “Kalau catering modal awal pertama saya enggak ada. Catering tanpa modal, karena orang mesan itu sistem panjar. Dari catering lumayan banyak omsetnya,” tegasnya. Secara total Memo Group, ada sekira Rp200-an juta omset sebulan, kadang bisa mencapai Rp400-an juta tergantung banyaknya pesanan. Memo juga mendirikan media kuliner belajar di pendidikan luar sekolah (PLS Memo).Megat Molina-Owner Memo Group

Mau belajar dan kerja keras menjadi kunci sukses usaha Memo Group. Sebuah usaha yang mengcover banyak bidang, di dalamnya Memo Catering, Memo Pesta, Memo Cookies dan Memo Cafe. Adalah ownernya perempuan bernama Megat Molina yang menjalankan usaha ini dari nol. Dari yang tidak tahu masak kini jadi acuan lidah banyak orang.

Usaha catering yang dibangunnya sudah cukup dikenal, begitu juga usaha pelaminan dan bisnis kue-kue. Belum sampai di situ saja, perempuan yang akrab disapa Memo ini baru saja mengembangkan cafe dengan standar kenyamanan, gratis karaoke hanya dengan makan dan minum di lokasi. Dia juga mendapatkan kepercayaan mengelola rumah makan atau cafe bertaraf internasional di sebuah rumah sakit pemerintah.

Memo mengakui awalnya tidak punya latar belakang tata boga, sikap keluguan saat mencoba universitas negeri di masa kuliahnya tahun 80-an membuatnya terdampar di pulau dengan peluang besar terhampar. “Saya akhirnya malah lulus di IKIP (sekarang Universitas Negeri Medan). Jaman dulu orang bilang pilihan utama untuk masuk kuliah pasti sulit lulusnya, jadi saya ambil saja tata boga sebagai pilihan kedua, ternyata lulus. Saya enggak tahu tata boga itu apa. Masak nasi saja saya enggak tahu,” ungkapnya kepada Inspirasi Usaha di Mome Cafe Jalan Pasar Merah/Menteng Raya Gang Budi No 3, Medan.

Lantaran tidak banyak tahu, perempuan berusia 44 tahun ini gigih belajar. Kerja kerasnya mengenal dunia masak memasak membuahkan hasil, kuliah semester tiga Memo sudah didaulat jadi tenaga pendidik di pesantren yang masih tetap digelutinya sampai sekarang selama 22 tahun. Saat masih kuliah, Memo juga mengaplikasikan kepiawaiannya membuat kue dan menjual di kalangan kampus termasuk ke dosen. Setelah tamat kuliah, selain jadi guru dia menyadari usaha berbasis kuliner punya peluang besar. “Pada saat itu (tahun 1990-an) usaha kuliner number one, karena apapun ceritanya ada saja pesta dan orang makan sehari itu tiga kali. Awalnya, saya terjun menjadi agen bidan pengantin, karena saat belum ada catering masih kalangan atas. Di pelaminan saya memulai dari agen sampai punya sendiri namanya Memo Pesta. Modal awal saya ngutang bahan-bahan ke pasar. Kemudian saya ingin buka catering saya doa sama Allah dan dikabulkan dan dimudahkan padahal awalnya tanpa modal,” ungkap Ketua DPD Ika Boga Sumut ini .

Memo menghidupi usahanya dengan fokus, satu usahanya dibiarkan besar dan mandiri baru berani membuka usaha lain. Seperti dia mengembangkan Memo Pesta, setelah punya nama dia membuka catering tahun 1992 yang kini sudah oke lalu ke Memo Cafe. Untuk menjalankan usahanya, Memo memiliki 20-an karyawan tetap. Jumlah ini bisa meningkat menjadi 100 orang jika banyak pesanan. Untuk catering, selalu saja ada yang pesan setiap minggu. “Kalau catering modal awal pertama saya enggak ada. Catering tanpa modal, karena orang mesan itu sistem panjar. Dari catering lumayan banyak omsetnya,” tegasnya. Secara total Memo Group, ada sekira Rp200-an juta omset sebulan, kadang bisa mencapai Rp400-an juta tergantung banyaknya pesanan. Memo juga mendirikan media kuliner belajar di pendidikan luar sekolah (PLS Memo).

Operasional Memo Cafe sendiri dibantu keuntungan dari Memo catering. Memo Cafe didirikan dengan bangunan senilai Rp500-an juta dan biaya total bersama operasional Rp1,2 miliar. Ibarat kredit dengan Memo Catering, Memo Cafe ditarget bisa menghidupi diri sendiri. Meski akan soft launching Februari, namun Memo Cafe sudah kedatangan pelanggan terdekatnya dan dalam satu bulannya sudah bisa memiliki omset Rp10 juta.

Di Memo Cafe, perempuan berkacamata ini mengikuti pangsa pasar yang masih banyak menggunakan bahan baku ayam. Setidaknya ada 13 variasi menu ayam yang dikreasikannnya. Sebut saja ayam wijen, ayam somboi, ayam komplet dan lainnya. Memo memiliki tagline untuk Memo Cafe, yakni harga kaki lima kualitas bintang lima. “Karaoke di sini enggak bayar, syaratnya makan di sini. Juga ada wifi, belum buka tapi sudah tiga kali ada pelatihan wirausaha di sini,” sebut perempuan yang langganan jadi narasumber materi wirausaha ini.

Sukses sampai sejauh ini, Memo terkadang masih sering tidak percaya. Bahkan, menurutnya dia punya impian yang abstrak yakni hanya ingin jadi orang sukses, tapi enggak tahu di bidang apa. Suksesnya di kuliner juga di luar didugaan, karena masa mudanya dihabiskan dengan hobi berbau macho, mulai tinju, balapan dan lari. “Enggak ada cerita tata boga atau masakan, karena saya habitnya kayak laki-laki, latihan tinju, balapan, lari. Saya menyadari apapun pekerjaannya bisa dan harus sukses. Saya tulis di banyak tempat “saya harus sukses”. Saya ajarkan ke anak-anak saya kalau jadi apapun harus sukses. Kalau mau jadi ustad yang sukses, tukang becak yang sukses,” lanjutnya.

Namun dari semua kemudahan meraih sukses, Memo menyadari hal terpenting adalah ketika mendekatkan diri ke Allah SWT. Mulai dari salat yang tidak tinggal, rajin berdoa usai salat tahajud, puasa Senin-Kamis dan sedekah. “Sepertinya apa yang saya minta terkabul. Ini saya lagi merancang ingin punya rumah terapis hampir terjadi, terapi untuk anak-anak penghafal al quran,” jelasnya.

Memo mengingatkan setiap impian boleh diusung setinggi langit, namun akan sia-sia jika tidak dimulai untuk action. “Artinya apa yang Anda dipikrikan jangan dikhayalkan action saja langsung. Jangan terbentur hanya mikirkan enggak ada modal. Di Islam itu wajib punya impian setinggi langit pun boleh. Misalnya, ingin punya mobil, pergi saja ke show room, pegang mobilnya foto. Terus salat tahajud dan berdoa sama Allah,setelah itu sedekah enggak mesti uang banyak. Nah eksekusinya biarkan Allah,” pungkas ibu dua anak ini.


Sumber : n7n4.wordpress.com