Tangan Terampil Lahirkan Medan Miniature

dibaca 332 pembaca

Tangan Terampil Lahirkan Medan Miniature

Istilah menyebutkan “Pekerjaan terbaik adalah hobi yang dibayar.” Istilah tersebut kiranya tepat bila digunakan untuk menggambarkan apa yang tengah digeluti oleh Tommy Reinhart Purba saat ini. Dengan modal tangan terampilnya, alumni Jurusan Manajemen Pemasaran Universitas Sumatera Utara ini dapat menjalankan sebuah usaha kerajinan tangan miliknya sendiri.

Tommy mengatakan ia telah menjadikan kerajinan tangan sebagai salah satu hobinya sejak tahun 2009 dan menjalankannya menjadi sebuah usaha selama empat tahun, “Saya mulai meng­geluti hobi ini sejak tahun 2009 ketika saya masih kelas XI SMA. Namun saya mulai menjalankan ini sebagai suatu usaha sejak tahun 2013 dan menetapkan nama usaha saya dengan Medan Miniature,” ungkapnya.

Hobi, Sebuah Aset

Si bungsu dari empat ber­saudara ini menyebutkan bahwa usaha yang ia miliki lahir dari hobinya membuat benda-benda unik dan bernilai estetik, “Usaha ini lahir dari hobi saya membuat benda-benda unik dan bernilai seni. Setelah membuat beberapa buah karya kerajinan, saya tertarik untuk memfokuskan diri pada produk miniatur sebab pada saat itu beberapa orang menghargai karya saya dengan harga yang lebih tinggi,” sebutnya.

Lebih lanjut dikatakannya untuk menunjukkan identitas usaha yang dimilikinya, ia menjadikan Kota Medan sebagai pilihan, “Saya memfokuskan usaha saya untuk membuat miniatur-miniatur yang dapat mengangkat nama kota kelahiran saya, yaitu Kota Medan. Sebagai apresiasi saya terhadap Kota Medan, saya membuat beberapa benda dan bangunan yang menjadi ikon Kota Medan, seperti becak motor Medan dan tower PDAM Tirtanadi,” jelas Tommy

Seiring berjalannya waktu, pemuda kelahiran Medan, 16 November 1992 ini mulai me­ngembangkan dan menyesuaikan produk-produk yang dibuat dengan kebutuhan pasar, “Se­karang, saya telah membuat beberapa jenis miniatur dan produk aksesoris atau suvenir-suvenir untuk berbagai keperluan, seperti miniatur lemari, mobil kuno, gantungan kunci, suvenir pernikahan, hadiah wisuda serta lukisan bayangan wajah (siluet) yang saat ini menjadi produk yang sangat sering di-order para pelanggan saya,” terangnya.

Tommy menjelaskan terdapat perbedaan dalam proses pem­buatan produk-produk miniatur yang ia hasilkan. “Terdapat perbedaan dalam proses pem­buatan masing-masing produk miniatur. Namun, secara umum prosesnya selalu dimulai dari penggambaran desain dari objek yang akan dibuat miniaturnya. Selanjutnya adalah pemotongan, pengecatan, pembersihan hingga tahap terakhir adalah penge­masan,” jelasnya.

Tebar Manfaat

Menurut Tommy ada dua manfaat dari produk yang ia buat. Pertama adalah manfaat estetik yakni memberikan nilai ke­indahan atau menambah nilai keindahan bagi konsumen yang membeli atau menggunakan produknya. Manfaat selanjutnya adalah manfaat praktis yaitu selain memberikan nilai keindahan, produk yang ia buat juga bernilai pakai dalam arti dapat digunakan untuk beberapa keperluan seperti produk asbak, miniatur lemari sebagai celengan, kotak alat tulis kantor, dan yang lainnya.

Berbagi Inspirasi

Usaha yang ia jalankan pada dasarnya adalah memanfaatkan bahan sisa dari material bangunan, “Pada dasarnya saya memanfaat­kan bahan sisa dari material bangunan yang saya manfaatkan dan kreasikan kembali sehingga menjadi produk yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” ucap Tomy. Lebih lanjut dikatakannya melalui usaha ini ia pernah terpilih sebagai salah satu peserta ajang bergengsi setingkat ASEAN, “Sekilas orang melihat usaha ini sepele, namun saya melalui usaha ini pernah terpilih sebagai peserta dalam program inkubator UKM yang merupakan kumpulan para pengusaha muda yang kreatif oleh ASEAN Foundation. Melalui kegiatan ini saya dapat bertemu dengan pengusaha muda inspiratif lainnya dari beberapa negara ASEAN. Saya menyadari, tidak banyak semua pengusaha menda­pat kesempatan ini,” pungkasnya.

Selain itu ia juga merasa bangga karena produk yang ia buat telah sampai di beberapa daerah di Indonesia dengan adanya pesanan khusus dari pelanggan di luar daerah seperti Pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, “Me­lalui pesanan khusus dari pelang­gan di luar daerah, produk saya telah sampai ke Pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Walau­pun hingga saat ini tinggal ke Pulau Irian yang belum sampai,” ujarnya.

Terkait dengan kondisi sosial saat ini, melalui usahanya secara tidak langsung ia telah turut membantu dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih baik, “Di lingkungan tempat saya tinggal banyak anak muda yang putus sekolah, tidak bekerja dan beberapa diantaranya terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik. Sehingga melalui usaha ini saya merangkul mereka untuk lebih berkreativitas sehingga dapat menambah nilai dari hidup mereka, menjadi lebih baik dan menambah ilmu serta keahlian,” tuturnya.

Bagi Tommy, kendala terbesar yang ia hadapi hingga kini dalam menjalankan usahanya adalah kesulitan dalam mencari dan melatih tenaga kerja. Sebab untuk mencari dan melatih pekerja agar memiliki kemampuan untuk membuat produk-produk ini sangatlah sulit dan membutuhkan waktu yang lama, disamping pekerja itu sendiri harus memiliki niat dan kesabaran yang besar.

Tommy berharap suatu saat dapat membangun sebuah galeri kesenian yang dapat memuat banyak karya, “Saya berharap suatu saat dapat membangun sebuah galeri kesenian yang dapat memuat banyak karya, bukan hanya karya saya namun karya-karya dari pengusaha kerajinan tangan lainnya yang ada di Kota Medan yang mana di dalamnya juga terdapat ruangan workshop untuk pelatihan membuat produk kerajinan bagi para tamu yang datang. Sehingga dalam hal ini Medan tidak hanya memiliki kuliner yang khas sebagai oleh-oleh yang akan dibawa tamu domestik atau internasional, namun juga benda-benda ke­rajinan,” tutupnya.

 

Sumber artikel/foto : harian.analisadaily.com