Walikota dan Wakil Walikota Medan Sholat Idul Adha di Lapangan Merdeka

dibaca 352 pembaca

Walikota dan Wakil Walikota Medan Sholat Idul Adha di Lapangan Merdeka

Pemimpin dan masyarakat harus mampu berkorban untuk kemajuan dan bersama menyukseskan program pembangunan guna menjadikan Medan sebagai kota masa depan yang relijius. Hal ini disampaikan Walikota Medan Drs. H. T. Dzulmi Eldin S. M.Si beserta isteri Hj. Rita Maharani dan Wakil Walikota Medan Ir. Akhyar Nasution M.Si beserta isteri Nurul Khairani Lubis, usai menunaikan ibadahSholat Idul Adha bersama ribuan warga di lapangan Merdeka, Senin (12/9/2016).

Sholat Idul Adha dimulai sekitar pukul 07.30 WIB. Bertindak sebagai Imam adalah Al Ustadz H Muhammad Tuah Sirait SAg yang merupakan qori asal Sumut dan Ketua Umum IPQOH Kota Medan, sedangkan sebagai khatib Direktur Pascasarjana UINSU dan Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Sumatera Utara, Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid MA.

Tampak hadir pada pelaksanaan sholat Idul Adha tersebut, Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto, para Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Provinsi Sumatera Utara dan Kota Medan, Satua Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Sumatera Utara dan Kota Medan, para ulama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda serta masyarakat islam Kota Medan dan daerah lainnya.

Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid MA dalam ceramahnya mengatakan, dalam Idul Adha ini ada dua kegiatan pokok yang disyariatkan kepada umat islam. Kedua syariat ini berasal dari syariat yang disyariatkan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, yaitu haji dan penyembelihan hewan kurban. "Suatu amal atau ibadah dalam Islam diisyaratkan dua hal, yaitu niat ikhlas mengerjakannya semata-mata mencari Ridha Allah. Hal kedua adalah bahwa amal atau ibadah dilaksanakan sesuai dengan petunjuk syariat, jangan diakal-akali. Karena kenyataan menunjukkan masih ada panitia yang menjual kulit kurban,"jelasnya.

Selain itu disampaikannya, ketia Nabi SAW mewakilkan menyembelih kurban kepada Ali, Nabi SAW berpesan agar Ali tidak memberikan kulit kurban itu kepada tukang sembelih (sebagai upah). "Menjual kulit kurban atau bagian apa saja dari kurban hewan tidak boleh. Demikian juga menjadikannya sebagai upah atau bagian dari upah tidak boleh. Akan tetapi orang miskin yang menerima kulit atau daging kurban boleh menjualnya. Karena pemberian daging kurban atau kulit kurban kepada orang miskin statusnya tamlik atau pemilikan," ungkapnya.

 

Sumber : Dinas Kominfo Kota Medan