Masjid Ghaudiyah Bukti Jejak India Muslim di Kota Medan

dibaca 449 pembaca

Masjid Ghaudiyah Bukti Jejak India Muslim di Kota Medan

Kehadiran etnis India tidak bisa dinafikan sudah turut membangun Kota Medan yang multikultural. Eksistensi etnis India di Tanah Deli dibuktikan dengan peninggalan sejumlah tempat bersejarah di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ini.

Tetapi, selama ini etnis India Kota Medan kerap diindentikan dengan penganut agama Hindu. Namun ternyata, komunitas India Muslim di Kota Medan sudah ada sejak puluhan tahun silam. Jejak India Muslim di Kota Medan sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Mereka umumnya datang dari India bagian Selatan.

Kehadiran komunitas India Muslim di Kota Medan dibuktikan dengan adanya dua masjid yang cukup tua di bawah kepengurusan Yayasan India Muslim Selatan atau Yayasan The South Indian Moslem Mosque dan Walfare Committee. Kedua masjid tersebut yakni Masjid Ghaudiyah dan Masjid Jamik yang berada di Kelurahan Petisah Tengah, Kacamatan Medan Petisah.

Kedua masjid itu tepat berada di satu garis lurus yang membelah Kampung Madras atau tepatnya berdekatan dengan Kampung Kubur. Salah satu pengurus Yayasan India Muslim Selatan, Muhammad Hanif, menuturkan, kedua masjid tersebut dibangun dalam waktu yang berdekatan. Masjid Jamik berdiri tahun 1887 dan Masjid Ghaudiyah pada 1918.

Pembangunan masjid ini dilakukan oleh etnis India Selatan yang datang ke Kota Medan mendapatkan persetujuan atau wakaf dari Sultan Makmun Al Rasyid. India Muslim Selatan mulai datang ke Kota Medan untuk berdagang pada tahun 1880 an.

Sebagian lainnya ada juga yang bekerja dengan Sultan Deli. Karena itu, etnis India terdahulu meminta tanah sebagai tempat tinggal. Sultan kemudian memberikan wilayah ini (Jalan Zainul Arifin) sebagai wilayah yang berdekatan dengan warga asal India lainnya, katanya. Selaku masyarakat yang beragama Islam, para India bagian Selatan tersebut sepakat untuk bersama-sama membangun dua masjid dengan tempat yang berdekatan.

Kedua masjid tersebut sekarang di bawah tanggung jawab satu yayasan, yakni Yayasan India Muslim Selatan. Keberadaan Masjid Ghaudiyah terletak di Jalan Zainul Arifin Medan agak sedikit susah untuk ditemukan. Karena bangunan masjid berada di balik gedung pertokoan. Hanya ada plang berukuran satu setengah kali satu meter yang berdiri sebelum Jembatan Kebajikan yang menandakan keberadaannya.

Selain itu, jalan masuk hanya ada lorong dengan ukuran plank tersebut sekaligus sebagai tempat parkir kendaraan. Ketika masuk ke dalam masjid, pada bagian dinding sebelah kanan masjid pengunjung dapat melihat daftar silsilah para nabi yang dimulai dari manusia pertama, yakni Nabi Adam AS. Di sebelahnya juga terpampang pengumuman dan agenda kegiatan, serta kata-kata mutiara Islam yang menyejukkan hati.

Ketika sudah berada dalam masjid kondisinya cukup nyaman dan tentu saha isi masjid tidak jauh bebeda dengan masjid pada umumnya. Hanya saja masjid yang berlantai 2 itu memiliki jendela yang cukup panjang layaknya bangunan zaman dahulu kala. Sebelah kanan masjid yang berbentuk segi panjang itu terdapat tempat pemakaman. Salah satunya adalah makam Hadji Abdul Djalel yang merupakan guru atau imam pertama di masjid tersebut.

Masjid Ghaudiyah ini sudah tua, ada kuburan imam pertama di sini yang berdasarkan catatan ada pada tahun 1918. Sementara masjid yang lebih tua, Masjid Jamik, hanya berjarak tempuh sekitar 5 menit dari Masjid Ghaudiyah dengan berjalan kaki. Jika di Masjid Ghaudiyah agak sulit terlihat, Masjid Jamik letaknya sangat strategis karena berada di simpang Jalan Taruma dan Jalan Kejaksaan.

Bangunan masjid ini masih sangat sederhana, tak jauh berbeda saat pertama kali dibangun. Masjid yang berdiri sejak 1887 ini berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 5.407 meter persegi yang diwakafkan Sultan Makmun Al Rasyid. Menurut Hanif, awalnya masjid tersebut memang cukup luas. Tapi lama kelamaan luas tanah tersebut berkurang dan dikuasai oleh warga yang dahulunya merupakan penjaga atau pengurus masjid. Sekarang yang menguasai tanah ini adalah generasi ketiga atau keempat.

Masjid tersebut ditandai dengan adanya 12 tiang penyangga. Namun, Hanif sampai saat ini belum mengetahui alasan jumlah tiang penyangga tersebut dibuat. Orang dulu kan kalau setiap yang dibuat ada maknanya. Ciri khasnya ada 12 tiang peyangga di masjid, cuma kurang tahu apa artinya, karena dulu tidak kepikiran mempertanyakannya. Dari penelusuran, mayoritas masjid-masjid bersejarah di Indonesia memang memiliki 12 tiang penyangga.

 

Sumber berita/foto : koran-sindo.com